KPK Panggil Enam Saksi untuk Irwandi Yusuf

173

JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil enam saksi, dalam penyidikan tindak pidana korupsi suap pengalokasian dan penyaluran Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) Tahun Anggaran 2018. Kali ini saksi dipanggil untuk tersangka Gubernur non aktif Aceh, Irwandi Yusuf.

KPK total telah menetapkan empat tersangka dalam kasus itu, antara lain Gubernur Aceh nonaktif Irwandi Yusuf (IY), Bupati Bener Meriah nonaktif Ahmadi (AMD), Hendri Yuzal (HY) yang merupakan staf khusus Irwandi Yusuf, dan Teuku Saiful Bahri (TSB) dari pihak swasta.

“Penyidik hari ini dijadwalkan memeriksa enam orang saksi untuk tersangka IY, terkait kasus suap pengalokasian dan penyaluran Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) Tahun Anggaran 2018 di Provinsi Aceh,” kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah, Senin (17/9/2018).

Enam saksi itu antara lain, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Darmansyah, kemudian Mantan Kadispora Aceh, Musri Idris. Kepala Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS) Sayid Fadhil, karyawan pada bagian Legal PT Tunas Ridean, RB Pratama Ershaputra, serta dua saksi dari unsur swasta masing-masing Izil Azhar alias Ayah Marine dan Teuku Fadhilatul Amri.

Dalam penyidikan kasus tersebut, KPK mengkonfirmasi para saksi yang dipanggil, mengenai informasi alokasi proyek-proyek yang didanai DOKA, dan dugaan penerimaan-penerimaan lain oleh tersangka Irwandi Yusuf.

Diduga sebagai penerima dalam kasus itu adalah Irwandi Yusuf, Hendri Yuzal, dan Teuku Saiful Bahri. Sedangkan diduga sebagai pemberi adalah Ahmadi. Diduga, pemberian oleh Bupati Bener Meriah kepada Gubernur Aceh sebesar Rp500 juta, bagian dari anggaran Rp1,5 miliar, yang diminta Gubernur Aceh terkait fee ijon proyek-proyek pembangunan infrastruktur, yang bersumber dari Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) Tahun Anggaran 2018.

Pemberian tersebut merupakan bagian dari komitmen fee delapan persen yang menjadi bagian untuk pejabat di Pemerintah Aceh, dari setiap proyek yang dibiayai DOKA. Adapun pemberian kepada Gubernur dilakukan melalui orang-orang dekat Gubernur Aceh dan Bupati Bener Meriah, yang bertindak sebagai perantara. KPK-pun masih mendalami dugaan penerimaan-penerimaan sebelumnya.

Dalam kegiatan operasi tangkap tangan terkait kasus itu, KPK total mengamankan sejumlah barang bukti yang diduga terkait tindak pidana, yaitu uang sebesar Rp50 juta dalam pecahan seratus ribu rupiah, bukti transaksi perbankan Bank BCA dan Bank Mandiri, serta catatan proyek.

Sebagai pihak yang diduga pemberi, Ahmadi disangkakan melanggar pasal 5 ayat 1 huruf a atau huruf b atau pasal 13 UU No.31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU No.20/2001.

Sedangkan sebagai pihak yang diduga penerima, Irwandi Yusuf, Hendri Yuzal, dan Teuku Saiful Bahri, disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau pasal 12 huruf b atau pasal 11 UU No.31/1999 yang diubah dengan UU No.20/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...