KUD Koto Salak Rangkul 243 Petani Sawit

Editor: Satmoko Budi Santoso

178

DHARMASRAYA – Peran Koperasi Unit Desa (KUD) Kota Salak yang berada di Nagari Kurnia, Koto Salak, Kecamatan Sungai Rumbai, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, memang sudah tidak asing lagi bagi petani kebun sawit setempat.

KUD Koto Salak tidak hanya ikut membantu 243 anggotanya dalam persoalan kebutuhan modal untuk pengembangan perkebunan. Tapi, juga turut menjadi penampung hasil panen sawit anggotanya.

Sekretaris KUD Koto Salak, Herdaningsih mengatakan, 243 orang anggota koperasi itu juga tergabung dalam 12 kelompok petani sawit, yang masing-masing kelompok itu memiliki 25 orang.

Perkebunan kelapa sawit yang ada di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat. Daerah ini merupakan penghasil kelapa sawit terbanyak di Sumatera Barat, setelah Kabupaten Pasaman Barat/Foto: M. Noli Hendra

“Anggota kita memang semuanya adalah petani sawit. Untuk membuat kebun sawit terus berkembang, KUD yang berkoordinasi dengan Dinas Perkebunan setempat melakukan pembinaan,” sebutnya, Jumat (14/9/2018).

Pembinaan dan pendampingan dari Dinas Perkebunan untuk petani sawit yang tergabung dalam KUD Koto Salak itu, dalam waktu dekat juga akan mendapatkan bibit tanaman sawit, karena sudah masuk waktu peremajaan.

Ada beberapa petani yang mendapatkan peremajaan sawit. Karena setiap 25 tahun, tanaman sawit harus dilakukan peremajaan, sebab apabila melebihi dari usia 25 tahun itu, produksi kelapa sawit tidak menghasilkan minyak sawit dengan kualitas baik.

Ia menyebutkan untuk menjadi pengumpul kepala sawit sudah dimulai sejak tahun 2016. Semenjak itu, ada sekira 7 ton sawit yang dibeli oleh KUD Koto Salak setiap bulannya dari petani sawit yang merupakan anggota koperasi.

“Kalau jumlah itu tergantung yang jual, sehingga tidak dapat dipastikan berapa jumlah yang bisa kita kumpulkan. Sedang harga kelapa sawitnya Rp13.200 per kilogram. Harga itu disesuaikan dengan harga pabrikan. Karena sawit yang dibeli itu, dijual ke pabrik yang ada di daerah setempat,” jelasnya.

Untuk membeli sawit dari 243 petani sawit itu, KUD Koto Salak juga telah memiliki satu unit armada pengangkut sawit dari kebun hingga dihantarkan ke pabrik. Dengan hadirnya segala unit timbangan dan transportasi itu, KUD Koto Salak, memberikan kemudahan bagi anggota untuk mendapatkan harga sawit yang tidak merugikan.

Herdaningsih juga menyebutkan, di KUD Koto Salak, diberikan kemudahan dalam hal melakukan pinjaman untuk dana pengembangan kelapa sawit. Hal ini dikarenakan, 243 anggota koperasi ini, sertifikat tanahnya disimpan di KUD Koto Salak.

“Jadi dengan demikian, kalau petani mau keperluan uang atau yang lainnya tinggal bilang ke koperasi, karena jaminannya sudah ada. Artinya tidak akan diberikan kesulitan apapun. Karena tujuan kita membantu petani sawit juga,” ucapnya.

Dengan memiliki anggota yang semuanya merupakan petani sawit, KUD Koto Salak juga memiliki aset, dengan luas lahan mencapai 2-4 hektare.

Di KUD Koto Salak ini, selain fokus untuk perkebunan kelapa sawit, juga memiliki unit usaha UKM Mart. Sebelum dibangunnya UKM Mart, dulunya merupakan warung serba ada.

“UKM Mart itu sudah ada sejak tahun 2014 lalu, berkat adanya dana hibah dari provinsi sebanyak Rp60 juta. Kini isi UKM Mart terdapat sembako, kebutuhan sehari-hari, dan juga elektronik, serta kendaraan,” ujarnya.

Maka dari itu, terhitung sejak 2006 lalu, dana simpanan anggota, sampai sekarang mencapai Rp600 juta, sedangkan untuk piutang anggota mencapai Rp 3 miliar. Pinjaman anggota bisa maksimal Rp 200 juta.

Untuk pembayaran tergantung hasil panen, dan dibayarkan paling lama 3 tahun, dengan bunga pinjaman 1 persen. Dengan cara yang demikian, KUD Koto Salak hadir membantu dan merangkul para petani kelapa sawit.

Lihat juga...

Isi komentar yuk