KUD Sinar Makmur Eksis, 700 Anggota Petani Kelapa Sawit

Editor: Satmoko Budi Santoso

368

DHARMASRAYA – Koperasi Unit Desa (KUD) Sinar Makmur, yang berada di Nagari Koto Ranah, Kecamatan Koto Besar, Kabupaten Dhamasraya, Sumatera Barat, berada di daerah yang sebagian besar penghasil kelapa sawit. Potensi itu, yang menjadi fokus KUD Sinar Makmur.

Ketua KUD Sinar Makmur, Suwardi B, mengatakan, dari 700 lebih masyarakat di daerah setempat yang bergabung ke KUD Sinar Makmur, sebagian besar ada memiliki kebun sawit. Bahkan ada 25 kelompok perkebunan kelapa sawit yang berada di bawah binaan KUD Sinar Makmur.

Ia menjelaskan, mengingat sebagian besar adalah perkebunan kelapa sawit, untuk mendukung segala hal itu, ada delapan unit usaha yang dijalani oleh KUD Sinar Makmur, yaitu Unit Kebun, Unit Sinar Mart, Unit Alat Berat,  Transportasi Angkutan Sawit, Timbangan, Pupuk, Simpan Pinjam, dan Unit Listrik.

Ketua KUD Sinar Makmur Suwardi B/Foto: M. Noli Hendra

Menurutnya, berdiri kokohnya KUD Sinar Makmur seperti saat ini, butuh usaha yang keras dijalani oleh pengurus koperasi. Kondisi yang sudah terseok-seok sejak tahun 1981 silam, hingga eksis pada tahun 2014, adalah bentuk bagian dari sejarah keberadaan KUD Sinar Makmur di Koto Ranah.

“Bagi saya istimewanya koperasi itu memberikan kemakmuran untuk bersama, dengan adanya koperasi perekonomian jadi lebih baik. Untuk itu, saya inginkan masyarakat mari berkoperasi,” katanya, Kamis (13/9/2018).

Suwardi menyebutkan, dengan adanya rasa istimewa dalam berkoperasi itu, ia terapkan dalam memimpin KUD Sinar Makmur. Buktinya Sisa Hasil Usaha (SHU) tahun terakhir di KUD Sinar Makmur mencapai Rp250 juta dari 700 lebih anggota. Sementara aset koperasi kini yang memiliki perkantoran yang sangat memadai melayani masyarakat, telah mencapai Rp 9 miliar.

“Sekarang SHU-nya sudah naik itu, dulu sebelum tahun 2017 SHU hanya Rp200 juta. Ini berkat kerja sama dan artinya ekonomi masyarakat tumbuh dengan baik,” ujarnya.

Sebut saja untuk sawit, KUD Sinar Makmur yang menjalankan Unit Timbangan, kini mampu membeli hasil panen sawit Tandan Buah Besar (TBS) Rp13.500 per kilogram. Artinya, jumlah itu berada di angka yang cukup bagus. Karena sebelumnya harga sawit hanya lebih sedikit dari Rp 1.000 per kilogram.

Dengan memiliki anggota lebih dari 700 lebih anggota, dan memiliki 25 kelompok perkebunan sawit, yang masing-masing kelompok memiliki 20 orang lebih, seluruh hasil panennya dijual di Unit Timbangan KUD Sinar Makmur.

“Omzet kita dari membeli hasil panen perkebunan sawit anggota itu Rp37 miliar per tahun, atau per bulannya Rp 3 miliar. Memang sebuah transaksi yang besar, dan dengan demikian kita mengharapkan ekonomi masyarakat membaik,” jelasnya.

Meski melihat dari Unit Kebun sangat membaik, Suwardi mengaku untuk Unit Pupuk, ada yang mengalami kesulitan, yakni sulitnya pupuk subsidi masuk ke KUD Sinar Makmur.

“Kita sulit mendapatkan pupuk bersubsidi. Karena petani sawit membutuhkan pupuk buat kebunnya. Padahal kita sudah minta juga dan sudah dijelaskan ke pemerintah di Kabupaten Dharmasraya, tapi belum juga ada hasilnya,” katanya.

Sementara untuk Unit Sinar Mart, Suwardi menyebutkan, baru berjalan di awal tahun 2018 ini. Hadirnya Sinar Mart, berkat pelatihan yang diperoleh oleh Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah Provinsi Sumatera Barat, tentang menjalankan usaha di bidang mini market.

“Saya ikut pelatihan Minang Mart yang merupakan unit usaha dari BUMD Pemerintah Provinsi Sumatera Barat beberapa waktu lalu. Setelah saya pahami, di KUD Sinar Makmur sepertinya pas ada usaha itu,” cetusnya.

Ia mengaku, awalnya ia tertarik dengan Minang Mart untuk didirikan di KUD Sinar Makmur. Namun setelah ditimbang dengan kondisi di Koto Ranah, akan sulit Minang Mart untuk maju. Akan tetapi sebagai upaya melakukan pengembangan koperasi, ditetapkanlah mendirikan Unit Sinar Mart.

“Isi Sinar Mart sama dengan Minang Mart itu. Ada kebutuhan sehari-hari dan beberapa sembako lainnya. Setidaknya hadirnya Sinar Mart dapat membantu masyarakat,” jelasnya.

KUD Sinar Makmur merupakan dari sekian KUD yang kini masih mampu bertahan. Padahal melihat ke sejumlah daerah, banyak KUD yang sudah tutup. Suatu hal yang membanggakan bagi Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, karena masih memiliki KUD yang memberikan manfaat banyak ke masyarakat.

Baca Juga
Lihat juga...