Lacak Balak, Upaya Melacak Asal Kayu

Editor: Satmoko Budi Santoso

196

YOGYAKARTA – Tim Pengabdian Masyarakat Program Studi Sistem Informasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) melakukan kegiatan uji coba pendataan pohon dan pemasangan teknologi RFID pada pohon di kawasan hutan rakyat di Bantul.

Kegiatan pendataan pohon dan pemasangan RFID ini dilakukan dalam rangka mempersiapkan petani yang diwadahi dalam kelompok Unit Manajemen Hutan Rakyat (UMHR) untuk mengimplementasikan sistem lacak balak.

Ketua tim sekaligus ketua Program Studi Sistem Informasi, Flourensia Sapty Rahayu, mengatakan, Lacak balak merupakan sebuah sistem yang dapat digunakan untuk melakukan pelacakan sebuah produk kayu apakah benar-benar berasal dari sumber yang legal dan lestari.

“Sebagai contoh jika kita membeli sebuah kursi kayu, dengan lacak balak kita dapat menelusuri asal kayu yang digunakan sebagai bahan pembuat kursi tersebut berasal dari mana, milik petani siapa, dan lain sebagainya,” tambahnya.

Sejumlah mahasiswa tengah melakukan ujicoba pendataan kayu dengan sistem lacak balak di kawasan Hutan Rakyat Bantul – Foto Jatmika H Kusmargana

Dengan sistem lacak balak ini, diharapkan industri dapat melihat dengan mudah potensi dari sebuah desa dan mendapatkan pasokan kayu legal dari desa tersebut, sehingga pendapatan petani juga akan meningkat.

Sebelum mengimplementasikan sistem lacak balak, data-data aset petani dikatakan harus lengkap terlebih dahulu. Meningat hal itulah, kegiatan pengabdian masyarakat ini diadakan. Yakni sebagai penanda untuk pohon yang telah didata digunakan teknologi RFID.

“RFID ini dipilih karena tahan lama termasuk dari cuaca, dan dengan teknologi ini dapat dilakukan pembacaan data pohon dengan mudah,” ujar Flourensia.

Lebih lanjut dijelaskan, kegiatan pendataan aset petani ini dilakukan di dua kawasan hutan rakyat yang menjadi lokasi uji coba yaitu hutan rakyat di Desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Bantul dan hutan rakyat di Desa Terong, Kecamatan Dlingo, Bantul.

Dua lokasi ini dipilih karena kayu-kayu yang ada di kedua desa ini sudah mendapatkan sertifikat legal lewat sistem SVLK (Sistem Verifikasi Legalitas Kayu).

Dalam kegiatan ini, Tim Pengabdian dari Program Studi Sistem Informasi UAJY melibatkan 10 orang mahasiswa sebagai tenaga pendata dan juga bekerjasama dengan UMHR Wono Lestari desa Sendangsari serta LSM Arupa (Aliansi Relawan untuk Penyelamatan Alam).

Kegiatan pengabdian ini masih akan dilanjutkan dengan pelatihan pendataan pohon serta penggunaan sistem lacak balak kepada pengurus UMHR Wono Lestari agar nantinya mereka dapat melakukan pendataan pohon secara mandiri.

“Kegiatan ini merupakan wujud pelaksanaan tugas tri dharma Perguruan Tinggi yang berbentuk kegiatan pengabdian pada masyarakat,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...