Lempok, Jajanan Tradisional yang Masih Laris di Bali

Editor: Koko Triarko

166
DENPASAR – Lempok merupakan salah satu jajanan khas Bali. Di Jawa, makanan ini disebut Gethuk. Sama halnya dengan Gethuk, Lempok dibuat dari bahan baku utama ketela pohon atau singkong.
Di Bali, khususnya di Denpasar, sangat mudah untuk menemukan makanan ini. Biasanya dijual bebas di pasar atau di jalanan Kota. Lempok di Bali biasanya selain digunakan sebagai kudapan, juga digunakan untuk sesaji saat upacara keagamaan di pulau yang berjuluk ‘Seribu Pura’, ini.
Salah satu penjual penjual Lempok di jalan Werkudara, Denpasar, adalah Nurjaman. Ia berjualan dari pukul 14.00 WIB sore hingga pukul 19.00 WIB. Lokasinya yang strategis karena menuju pusat kota jika dari Tabanan, membuat banyak pembeli yang datang. Berbagai varian rasa Lempok yang ia jual, mulai dari original, rasa pandan dan gula merah Bali.
Lempok atau Gethuk khas Bali. -Foto: Sultan Anshori.
“Namun yang paling banyak dicari oleh pembeli ini yang rasa Gula Merah Bali, karena rasanya khas. Selain untuk dimakan, biasanya pembeli menggunakan Lempok ini sebagai sesaji saat upacara keagamaan,” kata Nurjaman, saat ditemui Sabtu, (29/9/2018).
Satu porsi Lempok ia jual seharga Rp5.000. Kata pria asal Jember ini, dibutuhkan waktu setidaknya sehari untuk bisa membuat Lempok. Hal itu dimulai dari pencarian bahan baku di pasar, proses pengupasan hingga perebusan hingga dicetak menjadi kotak kecil.
“Biasanya saya membutuhkan 80 kilogram singkong untuk dijadikan Lempok ini,” jelas bapak dua anak ini.
Paling cocok Lempok atau Gethuk ini dimakan ditemani oleh teh atau kopi di sore hari. Tak hanya diminati oleh orang tua, jajanan  ini juga digemari oleh anak-anak.
Sebut saja, Kadek Arianti, yang saat itu kebetulan sedang membeli Lempok untuk diberikan kepada anaknya di rumah. Alasan memilih menyajikan makanan Lempok ini, sederhana, yaitu Lempok masih dikatakan makanan yang aman untuk dikonsumsi.
“Karena bahan-bahan yang dibuat Lempok ini masih alami. Berbeda dengan jajanan  modern yang cenderung mengandung kimia dan tidak sehat untuk kesehatan anak,” kata Kadek Arianti.
Selain itu, dengan diberikannya kue Lempok ini, ingin mengajarkan kepada anaknya, bahwa makanan tradisional juga enak dan menyehatkan.
Baca Juga
Lihat juga...