Lestarikan Kekayaan Seni Budaya Lewat Gelaran ‘Lima Jam Menari’

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

203

MALANG — Ratusan mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Tari dan Musik Universitas Negeri Malang (PSTM UM) menampilkan pertunjukkan dalam gelaran ‘lima jam menari’ di Kampung Warna-warni Jodipan (KWJ). Pertunjukkan tersebut sedikit berbeda karena digelar di pinggiran sungai Brantas yang memisahakan Kampung Warna-warni dengan Kampung Tridi.

Dosen koreografi PSTM, Robby Hidayat, menjelaskan gelaran di KWJ merupakan upaya penyadaran untuk menumbuhkan kecintaan berkesenian masyarakat urban.

“Kami ingin memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa sebenarnya Indonesia memiliki tradisi-tradisi kesenian yang tidak hanya untuk disimpan, tetapi justru harus ditampilkan di tengah masyarakat, sebagai bentuk upaya pelestarian,” jelasnya di lokasi kegiatan, Minggu (23/9/2018).

Dikatakan Robby, jika biasanya pertunjukan seni diadakan di panggung-panggung yang mewah dan hanya di tonton oleh orang-orang tertentu saja. Tapi sekarang justru di gelar di alam terbuka agar semua kalangan masyarakat bisa menikmatinya.

“Jangan sampai masyarakat tidak tahu seni budaya bangsanya sendiri. Untuk itu selama lima jam ini kami tampilkan berbagai tarian daerah khas Indonesia, mulai dari Beskalan, Golek, Bali, Gambyong maupun tari tradisional lainnya,” tukasnya.

Lebih lanjut disampaikan Robby, selain melestarikan budaya, gelaran  juga ditujukan untuk menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke KWJ.

Disebutkan, KWJ merupakan salah satu kampung tematik yang sengaja dihadirkan untuk menambah destinasi wisata di kota Malang. Dengan cirinya-cirinya, penggunaan cat yang berwarna-warni dan aneka gambar mural yang unik.

Namun, menurut Robby, jika KWJ hanya mengandalkan cat warna-warni sebagai ciri khasnya tanpa menghadirkan event seni budaya, maka destinasi ini tidak akan bisa bertahan lama.

“Kampung tematik akan mati jika tidak ada kegiatan-kegiatan seni seperti ini. Karena wisatawan akan cepat bosan jika hanya disajikan dengan warna maupun gambar yang itu-itu saja,” ujarnya.

osen koreografi PSTM, Robby Hidayat. Foto: Agus Nurchaliq

Inilah tugas dari perguruan tinggi khususnya yang memiliki jurusan kesenian untuk dapat menghidupkan kampung-kampung tematik yang ada di Malang. Jika fisiknya sudah dibenahi, sekarang tinggal event atau kegiatannya yang harus dihidupkan.

“Prodi PSTM memiliki tanggung jawab dalam mengangkat wisata yang ada melalui pelestarian kesenian dan budaya,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Ketua RW 02 Kampung Warna-warni Jodipan, Sony Parin, mengaku sangat mengapresiasi gelaran kesenian yang diadakan PSTM UM sebagai upaya meningkatkan kunjungan wisatawan.

“Kegiatan kesenian dan budaya sangat dibutuhkan di tempat wisata khususnya kampung warna-warni. Selain sebagai hiburan bagi masyarakat, sekaligus menarik wisatawan untuk berkunjung,” ucapnya.

Diakui Sony, selama ini di KWJ memang kerap dihadirkan pertunjukkan seni budaya, baik dari mahasiswa maupun komunitas.

“Hanya saja hingga saat ini memang belum ada agenda rutin pertunjukan seni budaya di kampung Warna-warni,” akunya.

Sementara itu, disampaikan Sony, semenjak dijadikan sebagai objek wisata Kampung Warna-warni, banyak warganya yang mulai membuka usaha dengan berjualan aneka makanan sehingga bisa meningkatkan perekonomian warga.

“Sebelumnya hanya beberapa orang warga yang berjualan, tapi sekarang banyak sekali bermunculan penjual-penjual baru sehingga mampu meningkatkan perekonomian warga,” sebutnya.

Baca Juga
Lihat juga...