Lestarinya Pohon dan Bambu di DAS Way Ulu Badak

Editor: Koko Triarko

215
LAMPUNG – Ratusan rumpun bambu dan pepohonan, yang sebagian berusia ratusan tahun, berjajar di tepi daerah aliran sungai (DAS) Way Ulu Badak. Rumpun bambu tersebut tumbuh alami sejak puluhan tahun silam.
Saiful, warga Dusun Merut, Desa Hatta, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan, menyebut, berbagai jenis bambu tumbuh secara liar di DAS Way Ulu Badak, yang tersebar di area perbukitan Merut.
Beberapa jenis bambu, di antaranya  bambu hijau (Bambusa tuldoides), bambu petung (Dendrocalamus strictur), bambu hitam/wulung (Gigantochlia atroviolacea) serta berbagai jenis pohon medang (Cinnamomum spp), serta berbagai jenis pohon palem, pinang, rotan. Berbagai tanaman tersebut sebagian sengaja dipertahankan warga, sejak kawasan Merut dibuka pertama kali menjadi perkampungan.
Saiful, memanfaatkan bambu hitam dan bambu hijau sebagai bahan bangunan [Foto: Henk Widi]
“Nama Merut atau Serut berasal dari sebuah pohon yang kerap tumbuh liar di kawasan ini, sehingga kampung ini masih dikenal dengan Merut dan di kawasan DAS Ulu Badak masih terjaga secara alami menyerupai hutan, karena berada di lereng perbukitan yang curam,“ terang Saiful, Rabu (19/9/2018).
Menurut Saiful, kawasan perbukitan terjal yang semula merupakan hutan alami itu sebagian dimanfaatkan warga untuk area perkebunan jagung, pisang dan kelapa. Sebagian warga, seperti Saiful dan keluarganya, juga memanfaatkan lahan untuk menanam beberapa jenis pohon sengon, jati ambon, yang bisa dipanen saat usia enam tahun sebagai bahan bangunan.
Terjaganya berbagai pohon di DAS Way Ulu Badak, membuat warga masih bisa mengakses air bersih dari sumur yang sudah berusia puluhan tahun.
Ratusan rumpun bambu hijau dan bambu hitam, kata Saiful, kerap dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Bambu tersebut kerap dibeli untuk bekisting proses pembangunan rumah, keperluan bagan nelayan, pagar kandang ayam serta proses pembangunan jalan tol.
Keberadaan ratusan rumpun bambu juga sekaligus menjaga lingkungan DAS Way Ulu Badak yang menjadi benteng terakhir kawasan perbukitan Merut. Sedangkan lokasinya yang curam menjadi pelindung berbagai jenis tanaman tersebut.
“Tanaman bambu yang ditebang akan melakukan regenerasi alami, sehingga bisa meminimalisir bahaya longsor,” beber Saiful.
Selain masih melakukan konservasi bambu, pohon dengan kearifan lokal sistem tebang pilih, warga bahkan masih mempertahankan berbagai jenis pohon langka.
Pohon jenis gondang dan pule yang ditanam, bahkan sengaja tidak ditebang karena menjadi mata air sebuah sendang (belik) yang selanjutnya dibuat menjadi sumur. Sendang di dekat DAS Way Ulu Badak itu dikenal dengan nama Sendang Mojang (Sendang Gadis), sesuai penyebutan oleh warga yang dominan bersuku Sunda.
Saiful mengatakan, Sendang Mojang yang kini menjadi sumur masih tetap menjadi sumber air, saat musim hujan dan kemarau. Ketika wilayah Bakauheni dan sekitarnya mengalami kekeringan, Sendang Mojang masih bisa menjadi sumber air bersih bagi ratusan warga. Sebagian warga mengambil air menggunakan jerigen, galon yang diangkut menggunakan motor dan mobil.
Hendra, warga Dusun Umbul Becek, dan sejumlah warga masih bisa mengakses air bersih dari Sendang Mojang di tepi Sungai Way Ulu Badak, dengan adanya konservasi bambu dan pohon di kawasan tersebut [Foto: Henk Widi]
Kelestarian Sendang Mojang  itu tidak lepas dari kearifan lokal pemilik lahan, yang melarang menebang pepohonan besar berusia ratusan tahun serta rumpun bambu di sekitar sendang.
Hendra, warga Dusun Umbul Becek, Desa Hatta, menyebut kawasan DAS Way Ulu Badak menjadi kawasan yang lebih hijau dibanding wilayah lain selama kemarau. Ratusan rumpun bambu yang tumbuh mengikuti alur sungai sebagian dipertahankan, dijual dalam skala besar untuk kebutuhan konstruksi bangunan. Meski telah ditebang, bakal tanaman baru kembali tumbuh, sehingga menjadi area tangkapan air untuk kelestarian Sendang Mojang.
“Meski debit sungai Way Ulu Badak mengecil, Sendang Mojang masih stabil debitnya, meski ditimba oleh warga setiap hari,” beber Hendra.
Hendra menyebut, kearifan lokal warga yang masih mengeramatkan kawasan tersebut sekaligus faktor terjaganya lingkungan Way Ulu Badak. Jajaran pohon Medang, Bambu, bahkan menjadi kanopi alami di sepanjang jalan tepat berada di DAS Way Ulu Badak ke area perkampungan warga Dusun Merut dan Dusun Kubang Gajah.
Suasana sejuk masih sangat terasa, saat panas menyengat akibat terjaganya lingkungan yang menyerupai hutan bambu di DAS Way Ulu Badak tersebut.
Hendra juga menyebut, upaya menjaga kelestarian lingkungan dengan konservasi bambu, bahkan semakin meluas. Saat musim hujan, sebagian warga melakukan penanaman bambu di DAS Way Ulu Badak melindungi lereng perbukitan, yang sebagian dimanfaatkan untuk penanaman tanaman perkebunan. Selain menahan longsor, rumpun bambu tersebut menjadi sumber munculnya sejumlah belik yang digunakan warga untuk mengambil air.
“Warga kerap mengambil air saat pagi dan sore hari, untuk kebutuhan mandi, memasak, karena lebih hemat dibanding membeli selama kemarau melanda,” beber Hendra.
Selain di kawasan Way Ulu Badak, konservasi bambu juga masih dipertahankan warga di sungai Kubang Gajah. Sebagian warga yang memiliki sumur dan kering saat kemarau, masih bisa memanfaatkan air dari Sendang Mojang.
Sendang Mojang yang pada awal sejarahnya kerap dipakai untuk mandi para gadis tersebut, menjadi sumber akses air bersih warga tanpa membeli. Keberlangsungan mata air Sendang Mojang dan Way Ulu Badak didukung oleh kesadaran warga melestarikan rumpun bambu dan pepohonan di kawasan tersebut.
Baca Juga
Lihat juga...