Lukisan-lukisan di Balik Dinding Istana Negara

Editor: Makmun Hidayat

187

JAKARTA — Lukisan tak semata hanya sebuah karya saja, tapi juga lukisan bisa menjadi alat diplomasi, bahkan lukisan menaikkan citra negara.

Hal itu yang membuat Sukarno banyak mengoleksi lukisan yang jumlahnya sekitar 700 lukisan, dan baru 200 lukisan yang dipajang, bahkan masih banyak lukisan yang disimpan di gudang.

“Buku Sukarno Favorite Painters ini dibuat untuk memberikan tambahkan informasi pada semua lapisan masyarakat bahwa kesenian begitu berarti dalam perkembangan bangsa ini. Jadi tidak semata-mata hanya politik yang membuat negeri seimbang, tapi juga perkara seni,” kata Mikke Susanto seusai peluncuran buku Sukarno Favorite Painters di Masterpiece Building, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat (21/9/2018).

Mikke membeberkan Sukarno memberi contoh kepada kita bahwa perkara negara juga tak bisa dilepaskan dari kesenian.

“Sukarno membangun semangat masyarakat pada masa awal pemerintahannya tahun 1945 juga menggunakan kesenian, contohnya lukisan, poster, grafiti sebagai penyemangat. Kalau tidak ada itu semua, maka akan susah karena dulu tidak ada televisi, adanya hanya radio tapi tidak bisa dilihat, yang bisa dilihat adalah grafiti-grafiti yang diterapkan di kereta api yang bisa mengelilingi Jawa,” bebernya.

Mikke memberikan contoh sebuah semboyan ‘Hidup atau Mati’ yang merupakan hasil pekerjaan seniman. “Tulisannya bagus, ejaan baik dan harmonis,” terangnya.

Poster-poster perjuangan begitu juga yang digerakkan oleh para perupa yang memang dipesan oleh Sukarno. “Itu jarang sekali disentuh oleh para peneliti kita,” tuturnya.

Hubungan Sukarno dengan seniman itu, lanjutnya, terkait dengan sejarah hidup Sukarno sudah ada. “Jadi ketika Sukarno kecil sudah suka seni, ketika dia kuliah di ITB ia berguru pada seniman, dia di Teknik Sipil, tapi gurunya adalah pelukis, namanya Charles Schumacher,” paparnya.

Ketika Sukarno diasingkan di Ende dan kemudian Bengkulu, Sukarno juga melukis. “Selama ini kita tahunya Sukarno menulis buku dan belajar agama Islam, tapi aktivitas berkeseniannya juga jalan, itu yang saya tangkap dari buku tersebut,“ ujarnya.

Ketika menjadi presiden, Sukarno memperlakukan Istana Negara bak museum dan menjadikan itu jendela untuk melihat negara. “Setiap ada tontonan di televisi, kita selalu melihat ada lukisan dan itu lukisan kebanyakan koleksi Sukarno, “ ungkapnya.

Sukarno memang bisa dilihat dari tiga perspektif, mulai dari Sukarno sebagai pejuang sehingga membutuhkan topik-topik yang terkait dengan perjuangan maka dari itu ada lukisan tentang perjuangan.

“Perang menjadi bagian yang harus dia koleksi, supaya tahu bahwa kita tidak punya kamera yang banyak, tapi pelukis banyak. Jangan lupa kalau Sukarno memanfaatkan itu,” tegasnya.

Mike menyebut ada 700 lukisan koleksi Sukarno, dan 200 lukisan yang dipajang, bahkan masih banyak yang disimpan di gudang. “Koleksi Sukarno yang termahal adalah lukisan karya Raden Saleh sekitar Rp50 miliar, dan koleksi selebihnya harganya di bawah itu,” tandasnya.

Baca Juga
Lihat juga...