Luky Riyanto: Pak Harto, Seorang Ayah Berhati Mulia

Editor: Mahadeva WS

366
Mantan Kameramen TVRI, Luky Riyanto. Foto : Sri Sugiarti.

JAKARTA – Luky Riyanto, mantan kameramen TVRI, memiliki kedekatan emosional dengan Presiden ke-2 Indonesia, Jenderal Besar HM Soeharto. Separuh waktunya bertugas sebagai kameramen, diabadikan di Istana Negara meliput kegiatan Pak Harto. 

“Terlepas orang mau ngomong apa, bagi saya, Pak Harto adalah seorang bapak berhati mulia. Saya merasa dekat dengan Pak Harto sebagai ayah, dengan tiga peristiwa yang saya alami,” kata Luky kepada Cendana News, Rabu (19/9/2018).

Ada tiga peristiwa yang berkesan di hatinya dan hingga kini tak terlupakan. Peristiwa pertama, ketika dirinya meliput pameran di Jakarta Convention Center (JCC) yang dihadiri Presiden Soeharto. Dengan kamera seberat 18,5 kilogram yang ditaruh diatas gerobak troli, Luky yang juga berada di atas gerobak bersiaga mengabadikan momen sebaik mungkin dengan kameranya.

Saat ditarik troli, roda gerobak sempat lepas. Kejadian ini terlihat oleh Pak Harto. Spontan Pak Harto mengingatkan dirinya agar hati-hati. “Mas-mas, hati-hati mas, kameranya,” kata Luky menirukan ucapan Pak Harto, kala itu.

Kemudian, saat dirinya berjalan mundur untuk mengambil gambar, Pak Harto kembali mengingatkan agar Dia berhati-hati. “Mas, hati-hati di belakang ada undakan” ujar Lucky kembali menirukan ucapan Pak Harto. Sambil menengok kebelakang Lucky mengaku langsung mengucapkan terima kasih kepada Pak Harto. “Terimakasih Pak Presiden,” ucap Luky mengulang ucapannya, yang saat itu langsung dibalas dengan senyum khasnya, yang membuat Luky semakin kagum.

Dalam kegiatan kenegaraan, ada aturan Kementerian Sekretariat Negara yang harus ditaati oleh media. Meliput kegiatan Presiden, untuk mengambil gambar harus berjarak lima meter. Tapi karena kamera Luky super berat dan juga kualitas zoom belum bisa mengambil gambar dalam jarak jauh, jika dipaksakan, maka bidikan kamera tidak bisa menghasilkan gambar yang sempurna, untuk tampilan Bapak Presiden.

Dengan keberanianya, Luky mencoba mendekat hingga berjarak dua meter dari Presiden dalam acara tersebut di Bina Graha. Namun seketika itu, Pasukan  Pengamanan Presiden (Paspampres) menarik Luky sambil memukul perutnya. Pak Harto melihat kejadian tersebut, dan langsung mendekat serta memarahi Paspampres tersebut. “Kamu jangan tarik-tarik, itu TVRI, biarkan saja. Pak Harto mengelus-ngelus perut saya, dan beliau minta maaf,” ujar Luky mengenang.

Peristiwa kedua dalam tugasnya tersebut, tidak bisa dilupakan Luky. Bagi Dia, peristiwa itu menjadi kenangan atas sikap bijaksana seorang Presiden yang menghargai profesinya sebagai kameramen. Luky menyakini, setiap kegiatan kenegaraan yang ditampilkan TVRI, Pak Harto pasti menonton dan memperhatikan. Kalau mengambil gambarnya jarak jauh hasil gambar tidak bagus. “Sehingga ketika saya mendekat untuk mengabadikan momen itu, Pak Harto tidak marah, malah beliau memarahi Paspampres yang menarik saya. Pak Harto sangat menghargai profesi saya,” kata pria lulusan Fakultas Komunikasi Universitas Moestopo tersebut.

Kisah ketiga adalah, saat pelepasan lomba sepeda sehat di kantor Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Pak Harto dan Ibu Tien Soeharto menggunakan sepeda tandem. Di sepeda itu, Ibu Tien Soeharto duduk dibelakang Pak Harto. Namun rupanya, pedal pijakan kaki Ibu Tien dikencangkan, jadi ketika start, stang sepedanya miring karena pedalnya bengkok. Spontan, Ibu Tien Soeharto kaget dan berteriak:”Eeeh, Pae…Pae…,” kata Luky mengenang ucapan almarhumah, kala itu.

Pak Harto pun marah, tetapi tidak berteriak. Ini terlihat jelas karena jarak Luky dengan Pak Harto saat mengabadikan momen tersebut hanya dua meter. “Tapi marahnya Pak Harto, cuma Ehhhh….,” kata Dia.

Melihat Pak Harto marah, semua Paspampres berlari mendekat ke Ibu Tien Soeharto untuk memperbaiki sepeda tersebut. Namun kata Luky, oleh Pak Harto, mereka itu malah dimarahi. “Ehhhh…., masalah begini saja semua pada turun,” ujar Luky meniru ucapan Pak Harto.

Menurut Luky, sikap Pak Harto meskipun sedang marah masih tetap bijaksana, bisa menahan emosi, tidak menggelora. Usai peristiwa itu pun, senyum khasnya tetap ditebar kepada semuanya. Itulah kenangan terindah Luky selama meliput kegiatan Presiden Soeharto. Namun menurutnya, masih banyak kenangan lagi dari sikap Pak Harto yang tidak diketahui masyarakat.

Termasuk, manakala Dirinya dan media lain meliput di Bina Ghara, Pak Harto selalu menyapa awak media dengan ramah. “Gimana kabarnya mas, sehat, tadi dijalan macet ndak, hujan ndak? Itu hal kecil yang selalu beliau tanyakan kepada saya dan teman lainnya. Ketulusan Pak Harto memang tidak ada duanya, saya merasakan perhatian seorang ayah,” ucapnya.

Ikatan batin yang dirasakan Luky adalah ketika meliput di Istana Negara, saat Pak Harto menerima tamu negara. Di saat, Pak Harto dan tamunya berbincang santai, Luky leluasa mengabadikan momen tersebut dengan kameranya. Namun ketika saatnya tiba membahas hal penting, maka Pak Harto dengan isyarat tubuhnya pertanda jangan diabadikan. Luky pun bergegas memilih keluar ruangan.

“Saya tahu persis isyarat dari Pak Harto. Kalau beliau belum memberi isyarat, berarti saya masih boleh mengambil gambar. Tapi kalau beliau memberi tanda mengangguk, itu tandanya sudah tidak boleh. Saya pun balas menganggukkan kepala, dan Pak Harto membalas senyum ke saya. Jadi ada ikatan batin, ini kenangan,” ungkapnya.

Kenangan Luky bersama Pak Harto lainnya adalah, ketika meliput program ketahanan pangan di pelosok Indonesia. Acara Kelompercapir, disebutnya, program yang bukan di rekayasa. Tapi tampilan sesungguhnya Pak Harto bersama para petani berdiskusi membahas seputar pertanian. Pak Harto sangat cerdas dalam memaparkan program-program pertanian, hingga petani pun mudah memahami. Bahkan sekali-sekali dalam diskusi tersebut, ada candaan Pak Harto yang membuat petani tertawa ceria menjadikan suasana harmonis.

Begitu pula saat panen raya padi Gogo Rancah di Nusa Tenggara Barat (NTB), Pak Harto tampil bersama petani memotong padi. Kemudian beranjak pada sesi ramah tamah dalam balutan Kelompencapir. Kenangan lain adalah, saat Pak Harto atau Ibu Tien ulang tahun. Lucky selalu diundang ke rumah Cendana. Dalam momen indah itu, Ibu Tien selalu mengajak Dirinya berfoto bersama. “Ayo rene-rene mas, kita foto,” ujar Luky meniru ucapan Ibu Tien Soeharto.

Dalam pesta ultah itu, Luky berkesempatan menikmati makanan kesukaan Pak Harto dalam kesehariannya. “Makanan nggak ada yang mewah, yaitu es puter, kangkung, tahu tempe. Bahkan di Bina Graha pun kalau terima tamu, menjamunya tahu tempe itu selalu ada. Jadi sederhana sekali,” tandasnya.

Teriring doa, Luky haturkan untuk putra-putri almarhum Pak Harto dan almarhumah Ibu Tien Soeharto, agar tetap sabar dan tegar, pantang surut karena perjuangan itu tidak terbatas. Luky menyakini, Indonesia akan menuju ke yang lebih baik. Dan mudah-mudahan dosa-dosa almarhum yang dianggap sebagai kesalahan akan cepat terlupakan. “Saya paling tidak suka kalau lihat orang berbuat satu kesalahan, tapi seribu kebaikkannya hilang. Akhirnya kita menjadi bangsa yang menanamkan bibit kebencian menimbulkan dendam kesumat tanpa disadari,” tukasnya.

Luky merasa heran kenapa politisi sekarang ini tidak mau berpikir lebih baik memberi contoh generasi muda. Menurutnya, janganlah kita menjadi bangsa pengungkit, karena Indonesia ini adalah bangsa yang besar. “Kenapa tidak mau menghargai Pak Harto?Jujur saya bilang, Pak Harto diberi gelar Pahlawan sebetulnya super pahlawan beliau itu. Jakarta kalau nggak ada Pak Harto, nggak akan jadi seperti ini,” tukasnya.

Diimbaunya, politisi agar memberi contoh yang baik kepada generasi muda. Karena menurutnya, manusia itu tidak sempurna adanya, satu kesalahan jangan terus dijatuhkan, yang baik katakan baik yang jelek dimaafkan.

Indonesia pada masa kepemimpinan Pak Harto, sukses melakukan swasembada pangan, hingga mendapatkan penghargaan dari Food and Agriculture Organization (FAO) di 1986. Atas penghargaan itu, Pak Harto sangat disegani oleh pemimpin negara Asia Tenggara juga dunia. “Sekelompok kecil pada benci, tapi masyarakat luas sekarang memaknai “Piye Kabare Le, Enak Zamanku to? Benar itu merasakan,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...