Lulusan SD Ini Mampu Ciptakan Mesin Pemintal Tali

Editor: Satmoko Budi Santoso

227

YOGYAKARTA – Keterbatasan pendidikan bukan menjadi halangan bagi seseorang untuk terus berinovasi dan bermanfaat bagi orang lain.
 
Hal itulah yang coba dilakukan Tumijo (64) warga dusun Tanjunggunung, Tanjungharjo, Nanggulan, Kulon Progo.

Meski hanya penduduk desa terpencil dengan latar belakang pendidikan SD, kakek 3 cucu yang awalnya hanya tukang kayu ini, mampu menciptakan alat mesin pemintal tali yang sangat bermanfaat bagi para perajin tas berbahan baku serat alam.

Puluhan alat mesin pemintal buatannya, kini bahkan telah tersebar di berbagai pelosok daerah di Indonesia mulai dari Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara, hingga Papua. Selain mempersingkat waktu pemintalan, alat buatan Tumijo ini juga bermanfaat membantu para perajin yang telah berusia tua.

“Sejak dulu saya memang suka otak-atik dan mencoba-coba. Karena melihat banyak perajin hanya memakai alat manual untuk memintal atau menganyam tali bahan baku kerajinan, maka saya coba membuat yang pakai mesin,” ungkapnya.

Selama 6 bulan lebih ia mencoba merangkai alat dengan memanfaatkan sejumlah barang bekas seperti dinamo mesin jahit, kayu hingga plat baja. Berkat kerja keras dan ketekunannya, ia pun akhirnya berhasil menciptakan alat mesin itu dengan hak paten miliknya pada tahun 2015 lalu.

“Awalnya ya sempat gagal, dinamo mesin jahit yang saya pakai rusak. Lalu saya ganti pakai dinamo yang lebih besar,” kata Tumijo yang pernah meraih sejumlah penghargaan sebagai pelaku UKM berprestasi tingkat nasional itu.

Tak berhenti sampai di situ, Tumijo terus berupaya mengembangkan alat buatannya. Alat pemintal yang awalnya hanya mampu menghasilkan 1 anyaman tali, ia kembangkan hingga menghasilkan 2 anyaman tali sekaligus, namun memanfaatkan 1 mesin saja.

“Dengan alat ini, pekerjaan pemintalan atau penganyaman tali untuk bahan baku pembuatan kerajinan tas bahan alam lebih efektif. Jika dengan alat manual, 1 hari hanya bisa mendapatkan 1 kilo tali, maka dengan alat ini 30 menit bisa menghasilkan 2 kilo 4 ons tali,” katanya.

Selain dapat membantu para perajin dan pemintal tali di desanya, Tumijo juga mampu mendapatkan keuntungan secara ekonomi dari kreativitasnya itu. Lelaki yang biasa memberikan pelatihan kerajinan ke berbagai daerah ini, rutin menjual alat pemintal buatannya kepada para pemesan di sejumlah wilayah Indonesia.

“Untuk alat yang memakai engkel saya jual Rp7,5 juta per buah. Sedangkan untuk yang mampu menghasilkan 2 tali anyaman, saya jual Rp12 juta per buah. Kemarin baru saja saya kirim ke Papua. Nanti setelah itu juga akan kirim lagi ke Kalimantan,” katanya.

Baca Juga
Lihat juga...