Mahalnya Pakan dan Kondisi Cuaca, Kendala Peternak Sapi Perah

Editor: Satmoko Budi Santoso

182

YOGYAKARTA – Kondisi cuaca yang kurang mendukung, serta semakin mahalnya harga pakan, masih menjadi kendala utama para peternak sapi perah di Kulon Progo Yogyakarta.

Hal itu diungkapkan salah seorang peternak sapi perah, Katijem, asal Dusun Josututan Karangsari Pengasih. Ia mengaku, harus mengeluarkan biaya pakan mencapai hampir Rp700 ribu setiap minggu untuk kebutuhan 2 ekor sapi perah miliknya.

Memelihara 2 ekor sapi perah, Katijem sendiri mengaku, mengeluarkan biaya pakan berupa konsentrat sebanyak 50 kilo seharga Rp200 ribu setiap minggunya. Selain itu, ia juga mengeluarkan biaya Rp125 ribu per minggu untuk membeli dedak atau katul sebagai campuran. Itu belum termasuk pakan hijauan yang ia keluarkan sebanyak Rp50 ribu per hari.

Salah seorang petani tengah memerah susu – Foto Jatmika H Kusmargana

“Mestinya agar produksi susu bagus, harus dikasih konsentrat penuh. Tapi karena harga konsentrat sekarang naik sekitar Rp50 ribu, maka saya campur dengan dedak. Jadi, seminggu saya habis sebanyak 50 kilo konsentrat dan 50 kilo dedak. Itu belum termasuk untuk beli pakan hijauan sebanyak 5 unting kolonjono dengan harga Rp10 ribu per untingnya,” bebernya Senin (24/9/2018).

Sementara itu, dari dua ekor sapi perah miliknya, Katijem, mengaku bisa mendapatkan susu perah sebanyak 11 liter per hari. Yakni sebanyak 7 liter pada pagi hari dan 4 liter pada sore hari. Satu liter susu sapi mentah sendiri ia jual dengan harga Rp10 ribu.

“Kalau dihitung-hitung penghasilan sangat minim. Pengeluarannya saja seminggu mencapai hampir Rp700 ribu, padahal pendapatan juga hanya sekitar Rp770 ribu saja,” ungkapnya.

Selain harga pakan konsentrat yang naik, Katijem juga mengaku, terkendala persoalan cuaca yang kurang mendukung produksi susu sapi miliknya. Saat cuaca panas di musim kemarau seperti sekarang, produksi susu sapinya menurun sekitar 1 liter setiap hari. Pasalnya sapi cenderung akan lebih produktif dalam cuaca dingin.

“Kalau musim kemarau seperti sekarang, produksi sedikit turun. Beda dengan saat musim hujan. Karena memang cuaca paling bagus untuk produksi susu adalah yang sedikit sejuk. Sehingga di Boyolali itu hasil produksi susu sapi bisa melimpah. Perbedaannya bisa sampai 2 liter lebih per sapi,” katanya.

Katijem sendiri mengaku, hanya bisa sedikit menabung dari hasil penjualan anak ternaknya. Dalam setahun, rata-rata satu ekor sapi perah miliknya bisa melahirkan 1 ekor sapi, dengan harga jual Rp5 juta per ekor untuk umur sekitar 3 bulan.

Baca Juga
Lihat juga...