Mahasiswa di Bali Deklarasi Kebangsaan

Editor: Koko Triarko

419
DENPASAR — Deklarasi Pergerakan Mahasiswa Merajut Kebangsaan digelar di Lapangan Puputan Margarana, Niti Mandala, Renon, Denpasar, Sabtu (29/9/2018). Acara dihadiri oleh Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi  RI, Prof. H. Mohamad Nasir, Kapolda Bali, Irjen Pol. Petrus Reinhard Golose dan para Rektor se-Bali.
Ada empat poin yang disampaikan oleh perwakilan mahasiswa dalam acara tersebut. Pertama, mahasiswa Bali menyatakan, bahwa Pancasila adalah Ideologi Bangsa Indonesia. Kedua, mahasiswa Bali menyatakan, UUD 1945 adalah Dasar Negara Republik Indonesia.
Ketiga, mahasiswa Bali menyatakan, Bhineka Tunggal Ika adalah Semboyan sebagai Bangsa Indonesia. Dan, keempat,  mahasiswa Bali menyatakan, NKRI adalah harga mati Bangsa Indonesia.
Kapolda Bali, Irjen Pol Petrus Reinhard Golose, mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada seluruh mahasiswa dan civitas akademika, yang telah menyelenggarakan kegiatan deklarasi ini.
Menurutnya, kegiatan ini merupakan wujud dukungan dari para mahasiswa dan civitas akademika, untuk mendukung stabilitas keamanan negara, khususnya di provinsi Bali.
“Saat ini adalah masa di mana berkembangnya “Generasi Z”, kaum milenial yang berkutat pada dunia teknologi, sehingga pemahaman akan ideologi perlu ditanamkan, karena perkembangan teknologi akan sangat mudah membawa pengaruh bagi pola hidup generasi penerus bangsa,” kata Kapolda Golose.
Kapolda Golose menambahkan, mahasiswa sebagai “Generasi Z” harus menjunjung tinggi konsensus dasar Bangsa Indonesia, yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa (tidak ada kebenaran yang mendua).
“Saya sangat bangga, mahasiswa Bali memiliki jati diri yang berbeda dengan mahasiswa lainnya, yang tidak suka berdemo, tidak mudah terprovokasi dan tidak mudah terpengaruh politik praktis. Sebagai mahasiswa, harus menjadikan Bali sebagai The Island of Student,” tegas Kapolda asal Manado ini.
Jenderal bintang dua di pundak ini mengajak para mahasiswa untuk menjunjung tinggi tujuh nilai kebangsaan sebagai kristalisasi nilai yang terkandung dalam empat konsensus dasar Bangsa Indonesia,  yang terdiri dari nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Demokrasi, Keadilan, pluralisme dan multikulturalisme serta nilai patriotisme.
“Saya dari aparat keamanan bersama menteri dan rektor sangat bersyukur, mahasiswa Bali sampai saat ini tidak ada indikasi yang kami temukan, bahwa di Bali tumbuh paham radikal. Sampai saat ini saya tidak melihat mahasiswa maupun mahasiswi di Bali berhubungan dengan jaringan yang menjurus pada terorisme,” imbuhnya.
Kapolda juga menyampaikan, bahwa Bali akan menjadi tempat berlangsungnya IMF-WB Annual Meeting 2018, yang merupakan iven kedua terbesar di dunia, yang melibatkan 189 negara dengan lebih dari 25.000 peserta.
Menurutnya, IMF-WB ini diperkirakan kembali digelar Indonesia minimal 567 tahun lagi. Selain itu, Indonesia juga akan melaksanakan agenda pesta demokrasi 2019, yaitu Pileg dan Pilpres.
“Untuk itu, para mahasiswa harus netral, tidak mudah terprovokasi dan menjadi alat politik. Mahasiswa tidak ikut menyebarkan berita hoaks, sehingga Pilpres terhindar dari hal-hal yang tidak kita inginkan,” jelas jenderal lulusan Akpol tahun 1988 ini.
Sementara, Prof. H. Mohamad Nasir, Ak., Ph.D. mengatakan, perkembangan dunia begitu dahsyat dan terjadi perubahan yang begitu cepat saat menghadapi revolusi industri 4.0.
“Mahasiswa sebagai generasi muda harus membuang jauh hal-hal yang berbau sara, radikalisme dan intoleransi, karena sebentar lagi Indonesia akan memasuki era tinggal landas (Era Revolusi Industri 4.0),” pungkasnya.
Baca Juga
Lihat juga...