Mahfud MD Dorong Mahasiswa Menjadi Cendekiawan

Editor: Mahadeva WS

167
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Prof. Dr.Mohammad Mahfud MD, SH.,S.U. – Foto: Agus Nurchaliq

MALANG – Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Prof. Dr. Mohammad Mahfud MD, SH.,S.U. mengajak mahasiswa sebagai generasi muda, untuk bercita-cita menjadi cendekiawan. Mahasiswa jangan hanya sekedar bercita-cita menjadi sarjana.

Menurutnya, menjadi sarjana di era digital seperti sekarang sangatlah mudah, karena semua yang ingin diketahui ada di internet. Tetapi, untuk menjadi seorang cendekiawan, tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan otak dengan fasilitas-fasilitas yang tersedia. “Cendekiawan dalam Bahasa Jawa adalah Sarjana yang Sujana, yakni sarjana yang baik budi. Jadi bukan hanya pinter otaknya, tetapi juga harus mulia hatinya, tidak sombong, tidak semena-mena, dan tidak mabuk kekuasaan,” ungkapnya, Senin (3/9/2018).

Seorang cendekiawan, otaknya berpikir sementara, hatinya berdzikir. Sedangkan para koruptor, hanya berpikir tapi tidak berdzikir, sehingga tidak jarang mereka yang di penjara merupakan orang-orang pintar, bahkan ada yang bergelar doktor. “Koruptor itu hanya berotak tapi tidak berwatak,” tandasnya.

Namun sebaliknya ada juga orang yang hanya berdzikir tapi tidak mau berpikir, sehingga mereka tidak menipu, tetapi mudah di tipu. “Inilah tugas dari lembaga pendidikan, khususnya lembaga pendidikan Islam, untuk bisa mencetak cendekiawan-cendekiawan yang cerdas otaknya, dan mulia akhlaknya,” tambahnya.

Pasal 31 UUD disebutnya, pendidikan diselenggarakan untuk memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi (otak), berdasarkan iman dan takwa (watak). Tetapi di Indonesia disebutnya, banyak orang yang tidak berakhlak, karena pendidikannya selalu menekankan pada mutu bukan pada moral. “Untuk itu generasi muda jangan puas hanya menjadi sarjana, tapi mahasiswa harus bisa melangkah lebih jauh lagi yakni menjadi cendekiawan,” tuturnya.

Mahfud menyebut, nasionalisme harus berbasis sadar hukum dan keadilan. Hancurnya negara-negara besar, sejak jaman dulu hingga sekarang dimulai dari tidak tegaknya keadilan. “Untuk menegakkan hukum dan keadilan, tidak perlu kuliah di fakultas hukum, karena hukum dan keadilan itu terdapat di nurani. Keadilan itu adalah bisikan nurani,” pungkasnya.

Lihat juga...

Isi komentar yuk