Masyarakat Harus Antisipasi Dampak Perubahan Iklim

Editor: Mahadeva WS

177
Kepala Bidang Pertamanan, Kehutanan, dan Peranserta Masyarakat, M. Sigit Boedi. Foto: Kusbandono

JEMBER – Perubahan cuaca telah terjadi di wilayah Jember. Beberapa hari terakhir, hujan telah turun di sebagian besar wilayah Jember. Dengan potensi yang ada, pancaroba atau masa pergantian musim, dapat menimbulkan bencana.

Kepala Bidang Pertamanan, Kehutanan, dan Peranserta Masyarakat Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jember, M. Sigit Boedi mengatakan, masyarakat perlu memahami arti perubahan iklim. “Saat ini, khususnya pada kebijakan lingkungan, perubahan iklim merujuk pada perubahan iklim modern. Perubahan ini dapat dikelompokkan sebagai perubahan iklim antropogenik, atau lebih umumnya dikenal sebagai pemanasan global. Ini yang harus diwaspadai dampaknya saat pancaroba tiba,” jelasnya, Rabu (26/9/2018).

Langkah-langkah antisipasi terhadap potensi bencana harus dilakukan, dengan cara yang wajar dan tidak membelenggu. Secara bersamaan, penting bagi manusia untuk terus berinovasi mengembangkan teknologi, terutama untuk menghasilkan sumber energi non fosil, sebagai upaya mengurangi emisi gas karbondioksika (CO2).

Setiap individu, perlu dididik agar cinta pada lingkungan hidup. “Menanam pohon atau tanaman apapun di rumah-rumah, meskipun nampaknya kecil pengaruhnya namun jika dilakukan oleh seluruh penduduk bumi, maka dalam waktu 10-20 tahun yang akan datang akan tumbuh berjuta-juta pohon baru yang dapat ikut mengimbangi laju emisi gas rumah kaca,” tuturnya.

Sigit mengungkapkan, telah ada pencanangan program OBIT (One Bilion Indonesian Trees). Program yang dicanangkan sejak pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono tersebut, di 2017 di lanjutkan dengan program tanam 25 pohon seumur hidup per orang. Dengan program tersebut, setiap orang berkewajiban menanam minimal 25 pohon di seumur hidupnya.

“Ini terus berjalan sampai sekarang. Menanam jenis pohon yang berdaur panjang dan mampu menyerap CO2 secara maksimal, sekaligus dapat menyimpan ketersediaan air dalam tanah,” tambahnya.

Aktifis Lingkungan, Komunitas Wong Jember Peduli Bencana (WJPB), Mahmud Rizal, mengingatkan masyarakat Jember untuk waspada dan siaga menghadapi pergantian musim. Pergantian dari musim panas ke hujan biasa didahului kemunculan awan cumulonimbus yang biasa disertai angin kencang. “Kita minta seluruh masyarakat untuk siaga, bencana lingkungan juga harus menjadi fokus perhatian kita bersama,” tandas Rizal.

Untuk resapan air, WJPB siap melakukan pemulihan, dengan gerakan menanam pohon. Kegiatan tersebvut dapat memperkuat lapisan tanah, sehingga tidak terjadi longsor saat hujan tiba.

Baca Juga
Lihat juga...