Masyarakat Perlu Mendapatkan Edukasi Terkait Pengobatan Herbal

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

242
Dr. Maya Trisiswati, MKM Penggiat Kespro dan HIV AIDS. Foto: Ranny Supusepa

JAKARTA — Berkembangnya informasi digital, memang memudahkan penyebaran informasi. Tapi yang menjadi masalah, apakah semua itu benar? Terutama terkait HIV AIDS, mengingat hampir tidak adanya studi klinis yang membuktikan.

Penggiat Kesehatan Reproduksi dan HIV AIDS, Dr. Maya Trisiswati, MKM menyatakan kondisi ini terjadi pada penderita yang sudah secara rutin mengkonsumsi ARV, akhirnya berpindah ke pengobatan herbal karena adanya info yang katanya mampu menghilangkan virus yang ada di tubuhnya.

“Terjadi juga di komunitas HIV AIDS. Ada yang berhenti minum ARV dan mulai minum obat herbal. Yang ada bukan hilang penyakitnya, malah bertambah dan akhirnya tidak bertahan,” katanya saat dihubungi Cendana News, Jumat (28/9/2018).

Dr. Maya menegaskan bahwa penggunaan bahan-bahan herbal untuk mengobati penyakit seharusnya diawasi oleh pemerintah dan juga oleh masyarakat.

“Herbal yang murni pun dalam medis harus melewati tahapan penelitian. Harus uji coba pada binatang dulu, lalu uji klinis, baru bisa dikeluarkan izin untuk dikonsumsi oleh manusia sebagai pengobatan. Apalagi yang dicampur dengan bahan-bahan kimia, yang tidak boleh dilakukan. Misalnya seperti obat-obat antibiotik maupun obat penahan rasa sakit,” urainya.

Penggunaan herbal memang tidak dilarang dalam pengobatan suatu penyakit, tapi tidak menjadikan seorang penderita untuk meninggalkan obat medis yang sudah diberikan kepadanya.

“Saya tidak anti herbal karena bagaimanapun kekayaan alam nabati Indonesia juga bisa diandalkan setelah melewati uji klinis. Tapi penting untuk memberikan edukasi bahwa obat herbal pun tidak boleh menjadikan seorang meninggalkan indikator petunjuk-petunjuk keberhasilan pengobatan,” tegas Dr. Maya.

Misalnya, jika seseorang yang menderita gula darah dan mengganti obatnya dengan yang berasal dari herbal. Si penderita harus tetap melakukan pengecekan laboratorium sebagai indikator objektif tentang kadar gula darahnya.

“Jadi, si penderita itu harus tetap cek gula darah untuk memantau. Kalau memang di bawah ambang batas atau tidak bertambah maka pengobatan itu dapat dibilang berhasil. Tapi kalau tidak, ya harus tetap menggunakan obat yang sudah diresepkan untuk dirinya,” urai Dr. Maya.

Terkait pengkombinasian obat medis dengan obat herbal, Dr. Maya menyatakan hal itu bisa saja digunakan. Selama sudah teruji kepastian dan efek samping.

“Herbal ini biasanya kan dikemas dalam bubuk atau dalam bentuk ekstrak. Sehingga ada beberapa produsen nakal yang mencampurnya dengan bahan kimia, yang seharusnya memerlukan kontrol dari tenaga ahli,” ujarnya.

Selain itu, penggunaan obat herbal juga harus dikonsultasikan dengan dokter yang menangani pasien tersebut.

“Konsultasikan dulu dengan dokter yang merawatnya. Sehingga bisa diketahui apakah obat itu kontradiksi atau tidak dengan pengobatan yang sedang berjalan. Ini adalah sepenuhnya menjadi kewenangan dari dokter yang memantau pasien tersebut. Tapi sepanjang obat herbal tersebut itu sudah melewati uji klinis, biasanya tidak masalah. Ada beberapa dokter yang saat ini juga sudah mulai bergeser ke pengobatan herbal,” pungkas Dr. Maya.

Baca Juga
Lihat juga...