Maumere, Kota Kelima Pendampingan Komunitas Kreatif Bekraf

Editor: Mahadeva WS

200

MAUMERE – Maumere menjadi kota kelima pelaksanaan Pendampingan Komunitas Kreatif Bekraf – Tempo Institute atau Kombet Kreatif. Kegiatan yang dibuka Jumat (14/9/2018) tersebut, akan berlangsung selama tiga hari.

Tatty Appriliyana, Koordinator Lawatan 12 Kota Kombet Kreatif. Foto : Ebed de Rosary

Ada 40 pelaku ekonomi dan industri kreatif yang terpilih untuk hadir menjadi peserta kegiatan di aula St. Camilus Social Centre, Maumere. “Maumere menjadi kota kelima yang didatangi program Kombet Kreatif, dimana kota pertama adalah Padang, pada 27 sampai 29 September 2017, selanjutnya Surabaya, Karangasem, dan Kendari,” sebut Tatty Appriliyana, Koordinator Lawatan 12 Kota Kombet Kreatif, Jumat (14/9/2018).

Setelah Maumere, pendampingan Kombet Kreatif akan berlanjut di Singkawang, Malang, Bojonegoro, Bandung Barat, Belu, Kupang, dan Merauke. “Program ini bertujuan mempererat jejaring komunitas kreatif di tingkat kota dan kabupaten. Setiap kota, setiap kabupaten, memiliki kekayaan potensi ekonomi kreatif yang unik dan khas,” sebutnya.

Maumere dipilih menjadi lokasi, karena memiliki potensi yang cukup besar. “Disini ada banyak kerajinan, dan destinasi alamnya juga indah, sehingga kita pikir tempat ini butuh didatangi guna memberikan pendampingan untuk teman-teman komunitas,” tuturnya.

Kegiatan di Maumere menghadirkan kreator inspiratif, ahli pemasaran, dan pakar branding Singgih Kartono, founder radio magno atau radio kayu, spedagi. Kemudian ada Arief Budiman, Sekjen Indonesia Creative Cities Network, sekaligus founder perusahaan kreatif Petakumpet Yogyakarta. Keduanya siap berbagi semangat dan inspirasi.

“Maumere, jantung hati pulau Flores, sangat kuat memiliki potensi di bidang pariwisata dengan keindahan alam yang amat memikat. Komunitas kreatif berbagai bidang di Maumere perlahan bangkit meski daerah luar biasa cantik ini pernah dihantam tsunami, 26 tahun lalu,” jelasnya.

Endah Wahyu, Deputi Hubungan Antar Lembaga dan Wilayah Bekraf menambahkan, komunitas kreatif perlu berjejaring, berkolaborasi untuk menjadi pendorong kemajuan ekonomi kreatif. “Kami percaya, komunitas kreatif yang berjejaring kuat akan meningkatkan ekonomi kreatif di daerah dan juga bermanfaat di level nasional,” tandasnya.

Sepanjang 2017, Produk Domestik Bruto (PDB) dari sektor ekonomi kreatif tercatat mencapai Rp852 triliun. Angka tersebut diyakini akan terus meningkat di tahun-tahun mendatang. “Ini sebuah perkembangan yang harus diimbangi dengan peningkatan kemampuan menarasikan dan memasarkan produk bagi pelaku ekonomi kreatif di Indoensia,” pungkasnya.

Lihat juga...

Isi komentar yuk