Mbak Tutut, Perintis di Balik Berdirinya Klub Sofbol-Bisbol

Penulis: Makmun Hidayat

732

JAKARTA – Rumah Siti Hardiyanti Rukmana atau akrab disapa Mbak Tutut di Jalan Yusuf Adiwinata Nomor 14, Menteng, Jakarta Pusat, ramai dikunjungi atlet sofbol-bisbol Asian Games 2018. Suasana ramai mulai tampak, sekira pukul 19.30 hingga pukul 22.00 WIB, pada Selasa (4/9/2018) malam itu.

Alunan irama musik terdengar sahdu, sementara sang tuan rumah terlihat turut menghibur para atlet, ofisial, dan panitia pelaksana sofbol-bisbol Asian Games 2018 tersebut. Aura penuh kasih memancar di wajah putri sulung mantan Presiden Soeharto, yang malam itu mendendangkan dua buah lagu karyanya.

Keakraban Mbak Tutut dengan atlet sofbol-bisbol bukan terjalin secara tiba-tiba. Selain kembali diberi amanah untuk membina atlet dalam posisi sebagai Ketua Dewan Pembina Pengurus Besar Perserikatan Baseball-Softball Seluruh Indonesia (PB Perbasasi), hati Mbak Tutut telah terpaut lama dengan olahraga sofbol-bisbol sejak 1980-an.

Di hadapan para atlet, Mbak Tutut menyebut, dirinya senang bisa bertemu kembali dengan para atlet sofbol-bisbol. Olahraga tersebut, sudah ia tekuni dan dampingi sejak lama. Pengakuan Mbak Tutut tersebut, diamini atlet sofbol senior, Donny Kesuma. Dia menyebut, Mbak Tutut merupakan salah seorang pembina sofbol dan bisbol di Perbasasi Indonesia. Dan hal tersebut terjadi hingga sekarang.

Kepada Cendana News, pemilik nama lengkap Donny Kesuma Hidayat itu menceritakan ide awal Mbak Tutut menggagas berdirinya klub sofbol-bisbol, bernama klub Citra Muda. Menurut pria yang lahir di Bandung, 6 Juni 1968 tersebut, pada 87-an, Mbak Tutut memiliki ide membuat tim sofbol, yang terdiri dari orang-orang yang mempunyai kompetensi kuat di dunia persofbolan atau perbisbolan. Dan di 1989 ide tersebut akhirnya tercapai.

“Kita bisa mendirikan sebuah klub, namanya Citra Muda. Di bawah naungan Mbak Tutut, akhirnya kita punya tim yang cukup solid dan kuat,” tutur Donny yang juga dikenal di dunia modeling, sinetron, dan keartisan tersebut.

Baru berdiri, atlet klub Citra Muda langsung menjajal kejuaraan Asia Cup. Di 1989 tersebut, Citra Muda berangkat ke Hongkong mengikuti kejuaraan Asia Cup. “Alhamdulillah tim Citra Muda meraih juara, padahal Citra Muda termasuk salah satu klub yang baru muncul,” jelasnya.

Sejak saat itu, Mbak Tutut terus menerus membina klub Citra Muda. Dan akhirya, Mbak Tutut berkenan menjadi pembina Perbasasi. Pada awalnya, Mbak Tutut dicalonkan sebagai ketua Perbasasi, tetapi menolak. Penolakan karena alasan kesibukan tersebut, dikhawatirkan malah akan mengganggu roda kepengurusan Perbasasi. “Don saya nanti takutnya sibuk, jadi saya sebagai pembina saja,” kata Mbak Tutut saat itu ditirukan Donny Kesuma.

Dan, Mbak Tutut pun lantas didaulat menjadi pembina sejak 1991-an hingga sekarang. “Kalau saya ceritakan kiprah beliau, banyak sekali ya, apa-apa yang beliau sumbangkan dan berikan kepada dunia persofbolan dan perbisbolan di Indonesia,” tandas Donny.

Di bawah pembinaan Mbak Tutut, Citra Muda banyak menorehkan prestasi. Yang paling belakangan, adalah lima kali meraih medali emas secara berturut-turut. Prestasi tersebut ditorehkan salah satu cabang klub Citra Muda, yakni klub Cobra Master Citra Muda Indonesia. Lima tahun berturut-turut, Cobra Master menjuarai tingkat Asean dan Asia. Dan tahun depan masih akan diikutkan dalam kompetisi tersebut.

“Klub Cobra Master ini benar-benar dibina oleh Mbak Tutut, sambil regenerasi pemain-pemain baru yang kita ambil dari beberapa sekolah. Alhamdulillah, klub yang awalnya cuma berdasarkan ide Ibu saja, sekarang menjadi salah satu klub terbesar yang ada di Indonesia,” ujar Donny dengan bangga.

Timnas sofbol di masa Donny Kesuma, mendapatkan puncak prestasi di Asia pada 1997. Saat itu, berhasil menaklukkan timnas Jepang. “Waktu itu kita berhasil menjuarai Sea Games, kejuaran Asia. Kita saat itu berhasil melawan Jepang. Alhamdulillah kita bisa mencapai puncak prestasi,” jelasnya.

Donny berharap, ke depan atlet sofbol-bisbol Indonesia bisa mengulang sejarah dengan memuncaki prestasi di Asia. “Ndak usah dunia, di Asia saja dulu, itu sudah membanggakan bagi atlet,” harapnya.

Senada dengan Donny, saat menjamu para atlet sofbol-bisbol Asian Games 2018, Mbak Tutut berharap, torehan prestasi atlet sofbol-bisbol dapat diulang kembali oleh atlet saat ini. “Memang tidak semudah membalikkan tangan untuk menjadi juara, itu harus selalu latihan dan latihan. Karena kalau tidak latihan akan kehilangan waktu. Itu yang harus kita tanamkan terus menerus,” kata Mbak Tutut.

Dulu Donny, disebut Mbak Tutut memiliki perawakan kurus sekali. Hingga akhirnya, setiap hari di-drill khusus, hingga akhirnya mampu meraih juara di tingkat Asia. “Prestasi-prestasi itu harus diulang kembali oleh anak-anak, kita latihan dan latihan lagi,” harap Mbak Tutut yang karib disapa Bude di kalangan atlet sofbol-bisbol.

Kemenangan dan prestasi, disebut Mbak Tutut, tergantung pada usaha atlet itu sendiri. Atlet harus memiliki kemauan, keinginan dan harapan kuat, untuk menjadi sang juara. Hal tersebut akan semakin menguat, dengan dukungan dan kemauan keras pengurus cabang olahraganya.

Sebelumnya, pada pertandingan bisbol di Asian Games 2018, Timnas Indonesia bertengger pada urutan tujuh diapit Hongkong dan Thailand. Urutan sembilan dan 10 adalah Srilangka dan Laos. Medali emas diraih Korea Selatan, perunggu disabet Jepang, dan perak direbut timnas Cina Taipei. Sementara Cina harus puas berada diurutan keempat. Adapun timnas sofbol, masuk peringkat enam Asia pada Asian Games 2018.

“Sofbol yang tadinya diperingkat tujuh atau delapan di Asia Cup, sekarang di Asian Games sudah peringkat enam, memperbaiki dua level dalam waktu yang singkat. Demikin juga bisbol yang tadinya tidak masuk top ten, sekarang masuk peringkat tujuh di Asia pada Asian Games. Paling tidak sudah ada perbaikan peringkat,” beber Ketua Umum PB Perbasasi Andika Monoarfa.

Menurut Andika, mencetak atlet tidak bisa dilakukan hanya dalam kurun waktu setahun. Setidaknya butuh waktu lima sampai 10 tahun. Dan, kabar menggembirakannya, atlet U-12, U-15, U-18 Indonesia, semua telah berangkat ke luar negeri. Khusus sofbol putra U-19, sudah mampu masuk peringkat tiga Asia dari yang semula peringkat sembilan. “Anak-anak U-19 ini yang insha Allah tiga, empat, lima tahun lagi yang akan menjadi juara-juara di Asian Games,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...