Melankolia Bunga-bunga

CERPEN INUNG SETYAMI

246

IA tampak murung, melihat pohon-pohon telah terluka. Tak ada lagi, gadis yang gemar menyelipkan bunga-bunga merah muda di helai rambutnya. Tak ada! Kupu-kupu yang riang mengepakkan sayap, seperti kehilangan jejak wewangian bunga-bunga yang mekar di helai rambutnya…

Mata yang telah rabun. Jika kau melihat langit, mata itu serupa langit senja tanpa semburat jingga. Keriput menempel pada wajahnya, menandakan ia sudah tak lagi muda. Namun samar terlihat, ia pernah memiliki kecantikan yang tak biasa. Kecantikan yang tercipta dan terpelihara oleh alam.

Kecantikan itu, kini telah terenggut usia. Giginya beberapa tanggal. Dua gigi hitam di depan masih tersisa. Dengan sisa-sisa kekuatan ia berjalan berduyun. Tangan dan kakinya yang tidak lagi tegap bergetar menyangga badannya yang rapuh.

Ia menyaksikan sendiri, suasana dan keadaan yang sangat jauh berbeda pada masanya. Ia melihat segalanya berubah. Segalanya tak lagi ramah. Dulu ia mandi di sungai yang jernih. Air itu kini memang masih ada, tapi warnanya berubah dan baunya busuk, air limbah. Tak ada ikan-ikan yang menggoda pandangannya, untuk berlama-lama di sungai itu.

Tumbuh-tumbuhan bisa ia tumbuk untuk ramuan obat dan merawat tubuhnya ketika mandi. Juga bunga-bunga yang selalu ia petik untuk menghiasi rambutnya. Kini ada benda yang mereka sebut sebagai ‘sabun’ sudah masuk ke daerah itu. Untuk perawatan tubuh gadis-gadis di sini. Menggantikan peran ramuan tumbuh-tumbuhan yang sudah berpuluh tahun diajarkan oleh nenek moyang mereka.

Dan untuk wewangian, ia pernah mendengar benda itu bernama ‘parfum’. Gadis-gadis selalu memakainya. Bahkan jika terendus, parfum beraneka ragam itu kadang seperti menusuk hidungnya. Gadis-gadis yang ia lihat sangat berbeda pada masanya. Jika dulu ia dan gadis seusianya menutup tubuhnya, dan membiarkan rambut panjangnnya terurai berhias bunga-bunga.

Gadis-gadis yang dilihatnya kini berpakaian entah jenis apa. Ia tak bisa menamainya. Terlihat pahanya, terlihat pusarnya, terlihat belahan dadanya. Dan itu sengaja, mereka tampak lebih pemberani, mencegat dan menggoda laki laki, membawanya ke bilik kayu lalu menodong uangnya.

Bukan lagi gadis pemalu yagn selalu menundukkan mata. Ia menatap jalang dan suara lebih keras terdengar. Gadis itu tak lagi menyelipkan bunga-bunga merah muda di rambutnya. Ia tak memakai bunga-bunga, tetapi orang-orang selalu menyebutnya sebagai “bunga”.

Nenek itu, akan bercerita pada siapa pun yang ia jumpai. Seperti ini:

Jika kau menyeruak hutan rimba itu hanya hijau yang nyata di depan matamu. Hijau. Daun-daun dan ranting-ranting. Semak belukar. Alang-alang di tepian tak kalah menjadi penghias yang mengagumkan. Kau akan sesekali menghirup harum bunga. Yang entah apa, bukan mawar bukan melati. Bukan pula kamboja! Hidungmu akan salah menerka. Kau tak akan menemukan, apa yang kau tangkap dengan hidungmu.

Tapi itu dulu…

Semua orang mungkin tak akan percaya pada ceritanya. Semua akan mengabaikannya. Bahkan tidak sedikit yang menganggapnya gila. Nenek itu melanjutkan bicaranya:

Kini lubang hidungmu tak akan menemukan wewangian bunga-bunga yang menjadikan matamu ingin mencari-cari. Bunga apakah itu? Dimana bisa dipetik? Seperti apa rupa dan warnanya? Hidungmu akan menghirup debu debu. Barangkali juga abu yang diterbangkan angin. Membuat semakin sesak dadamu.

Memang, kenangan masa lalu yang diceritakan nenek itu sangat berbeda dengan kenyataan saat ini. Kini, gersang yang tersisa. Tanah kering, yang di atasnya bertabur daun-daun yang telah jadi abu. Ranting-ranting teronggok. Menyisakan luka-luka koreng tersulut api di ujung-ujungnya.

Kayu-kayu yang gagah, menjulang telah digasak mesin. Tak ada hijau. Tak ada lagi tarian ilalang dan desiran angin. Tak ada juga aroma bunga, hanya menyisakan aroma busuk, bangkai binatang dikerubuti lalat.

***

Beberapa puluh tahun yang lalu…

Gadis itu, selalu duduk di batu tua tepian sungai, bibirnya berhias sekuntum senyum memandangi arus kecil yang tak bergelombang. Airnya tenang, tatap matanya begitu teduh, seperti mega-mega di langit yang menghalangi garangnya matahari. Mega-mega yang mengubah dirinya jadi hujan, menyejukkan.

Baca Juga

Rambutnya hitam terurai, ia gemar menyelipkan bunga-bunga di helai rambutnya. Bunga bunga itu, tidak jatuh ke tanah. Terpaut bersama rambut-rambutnya. Menyatu. Dalam raga dalam jiwa!

Barangkali begitulah kebiasaan setiap gadis yang belum menikah diajarkan. Merawat dirinya. Tubuh dan jiwanya. Ia bersihkan hati dari kotoran dengan menjaga alam. Ia gunakan alam untuk menjaga tubuhnya. Air sungai yang jernih, yang dikirimkan mata air, ia gunakan untuk kehidupan. Membasuh tubuhnya.

Setiap gadis yang tinggal di rimba itu, akan mendatangi sungai kecil itu. Dengan ceria memandikan diri. Gadis itu akan pergi membelah semak belukar. Memetik bunga-bunga yang tumbuh di sana. Bunga berwarna merah muda, yang hidung siapa pun akan mengerti itu aroma yang khas, milik sebenar-benarnya alam.

Gadis itu akan menyisir rambut panjangnya yang basah dengan jemarinya sambil bernyanyi. Angin sore akan membuat rambutnya perlahan mengering. Di tatapnya bunga-bunga kecil yang seakan menggelendot di tanah itu. Ia berjongkok, memetik perlahan. Dan satu persatu bunga merah jambu itu diselipkannya di rambut.

Para orang tua, mengajarkan setiap anak gadisnya untuk menyelipkan bunga-bunga di rambutnya. Setiap gadis akan memelihara rambutnya hingga sepanjang pinggul mereka. Lalu dibiarkan terurai dan bunga-bunga terselip indah di sana.

Ia percaya bunga-bunga itu akan menjaga mereka dari segala iblis jahat yang hendak mengganggu. Mereka menjadi sangat tergantung alam. Alam yang memberi kehidupan, tempat tinggal, pangan, dan menutup badan.

Sejak mereka, anak-anak itu mampu berdiri di atas tanah, para orang tua akan mengajarkan bagaimana menjejak tanah dengan indah. Bagaimana menanam pohon-pohon hingga pohon-pohon itu memberi hadiah bagi si penanam.

Mereka memetik hadiah berupa daun-daunan dan buah-buahan tentu juga tanpa menyakiti pohon-pohon itu. Pohon-pohon akan ikhlas memberi selama ia tidak tersakiti.

Bagi para moyang yang menggantungkan hidup di alam, alam adalah jantung kehidupan bagi mereka. Semakin terlihat hijau, para moyang dan keturunan mereka meyakini akan bahagia.

Pohon-pohon yang terjaga, yang hijau dan kokoh tumbuh menjulang, akan menjaga tanah, menjaga air, dan menjaga udara. Semua yang terjaga akan menjaga kehidupan. Begitulah para moyang mempercayai. Mereka melarang anak-anak mereka melukai pohon-pohon. ***

Inung Setyami, mahasiswa S3 Ilmu-Ilmu Humaniora, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada. Menyelesaikan Pendidikan S-1 Sastra Indonesia di Fakultas Bahasa dan Seni, UNY. Pendidikan S-2 di Program Pascasarjana Prodi Ilmu Sastra, Fakultas Ilmu Budaya, UGM. Selain menulis cerpen, sebagai pengajar Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Borneo Tarakan. Karya-karyanya tergabung dalam antologi Bayang-Bayang (2012) Kolak (2013), Mereka Menggugat (Visimedia, 2014), Rayuan Pohon Beringin (Gadjah Mada University Press, 2014), Pawestren: Antologi Puisi Penyair Perempuan Jogja (Madah, 2014) Repertoire Ronggeng Dukuh Paruk: Analisis Karya Sastra (UGM Press, 2015), Bunga Rampai Cerita Lisan Tidung Kalimantan Utara (Pustaka Abadi, 2017) dan Kritik Sastra (2018, Pustaka Abadi). 

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Karya belum pernah tayang di media mana pun baik cetak, online, juga buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Baca Juga
Lihat juga...