Melihat Pengelolaan Sampah di Komplek Nasio Indah

Editor: Mahadeva WS

282

BEKASI- Warga Komplek Perumahan Nasio Indah, Kelurahan Jati Mekar, Jatiasih, Kota Bekasi, melakukan pengolahan sampah menjadi kompos. Pengelolaan dilaksanakan secara mandiri, dengan membangun grand house, yang memanfaatkan lahan komplek.

Inisiasi pengelolaan sampah secara mandiri, diawali dengan besarnya biaya angkut sampah yang mencapai Rp.500ribu pertruk sampah. Sementara dari lokasi tersebut. dalam satu bulan sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Sampah (TPA) bisa mencapai tujuh truk.

“Motivasi awalnya, adalah biaya yang dibebankan kepada warga komplek Nasio Indah begitu besar, untuk mengangkut sampah ke TPA. Permobil truk biayanya Rp.500 ribu. Dalam satu bulan sampah bisa mencapai tujuh mobil,” jelas Wakil RW 15 Kelurahan Jatimekar, Kecamatan Jatiasih, Setiono, Rabu (12/9/2018).

Melihat besarnya biaya, warga RW 15  melakukan musyawarah, mencari solusi bisa memanfaatkan sampah, agar bernilai ekonomi. Akhirnya disepakati, membangun grand house, sebagai tempat awal pengolahan sampah dengan modal swadaya. “Alhamdulillah, mobil yang biasa angkut sampah berkurang sekarang. Selanjutnya adalah pemisahan gerobak khusus untuk sampah organik dan non organik. Jadi sampah organik dipisah dibuang tempat khusus kemudian diolah menjadi kompos. Dan non organik yang ada nilai ekonomisnya diambil oleh pengepul,” jelasnya.

Berbagai terobosan pun dilakukan untuk mengelola sampah, salah satunya dengan membentuk Kelompok Petani Organik (Kepo). Aktivitasnya, tetap memanfaatkan lokasi kosong dilingkungan komplek. Lokasi itu saat ini ditanami berbagai tumbuhan, dengan menggunakan pupuk organik hasil olahan sendiri.

Pengolahan sampah menjadi pupuk sudah berjalan maksimal, dengan mendapat bantuan mesin pencacah dari Pemerintah Kota Bekasi. Persoalannya, ada di marketing bagaimana hasil produksi Pupuk Organik ini bisa dipasarkan. “Kita terus melakukan pelatihan, kepada warga, kedepan agar mampu melakukan produksi sendiri di rumahan. Tetapi bak sampah khusus, dari siapa ini yang tengah diupayakan dengan tidak dibebankan kepada warga,” tambah Setio.

Anak anak melihat lokasi tempat tanaman organik dari kelompok tani Organik (Kepo) di komplek Nasio Indah Kelurahan Jatimekar kecamatan Jatiasih – Foto M Amin

Saat ini, Grand House sudah mampu memproduksi, dan telah memasarkan produk dengan harga Rp5.000 dalam satu kemasan. Hasil produksi ada juga yang dikirim ke depo dalam jumlah besar. Pupuk yang dihasilkan berbentuk serbuk yang dikemas dalam kemasan dan cair yang dikemas dalam botol.

“Kami ingin pupuk hasil Produksi GrandHouse, komplek Nasio Indah, bisa memenuhi permintaan pasar diluar. Dan hasil dari penjualan akan dikelola untuk membeli bahan pencampur kompos menjadi pupuk. Kami ingin kegiatan ini terus berjalan dan menghasilkan bagi warga komplek tentunya,” tandasnya.

Lurah Jatiasih, Sakum Nugroho mengatakan, masuknya Kota Bekasi dalam pemilihan Adipura 2018, mendorong Kelurahan Jatiasih terus melakukan pembinaan dan sosialisasi terkait lingkungan kepada warganya.

Berbagai terobosan dilakukan, dalam rangka menjadikan lingkungan lebih besih. Dan saat ini tengah diupayakan setiap RW di Kelurahan Jatiasih, dapat memiliki bank sampah sendiri. “Untuk pengolahan sampah, saat ini hanya di RW 12 yang berjalan maksimal. Disini mereka memiliki lokasi sendiri untuk bank sampah. Tetapi sekarang belum ada mesin pengolahan sampah,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...