Mengenal Ashari, Lulusan SMK yang Mampu Dirikan Pabrik Mesin Cuci

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

337

YOGYAKARTA — Siapa yang mengira seorang anak desa lulusan SMK yang awalnya hanya bekerja sebagai tukang las, ternyata mampu mendirikan sebuah perusahaan berbagai macam alat mesin cuci (laundry) berstandar nasional (SNI), yang tak kalah dari produk luar negeri.

Dialah Ashari (50), warga dusun Padangan, Sitimulyo, Piyungan, Bantul. Bapak satu anak yang tak malu disebut orang desa ini, membuktikan bahwa siapa saja bisa menjadi sukses. Syaratnya; percaya kepada Tuhan, yakin akan kemampuan diri, serta mau bekerja keras.

Ditemui Cendananews baru-baru ini, Ashari menceritakan kisah perjalanan usahanya hingga dapat seperti sekarang. Semua itu bermula dari niat baiknya untuk membantu orang-orang di sekitar yang ia temui.

“Saya pertama kali membuat alat pengering laundry sekitar tahun 2008. Saat itu saya masih membuka usaha las,” ujarnya yang memang memiliki keahlian di bidang konstruksi rekayasa teknik itu.

Saat itu, Ashari yang mengaku tengah mengerjakan sebuah proyek konstruksi baja. Melihat pesatnya perkembangan usaha laundry, ia kemudian mendatangi salah satu pelaku usah dan mendapati mereka terkendala alat mesin pengering.

“Mereka bilang tak mampu beli alat mesin pengering buatan luar negeri karena harganya mahal. Sekitar Rp12 juta. Saya lalu berpikir bagaimana caranya membuat alat dengan harga yang terjangkau. Saya bikin alat pengering sederhana dan saya jual Rp3 juta,” katanya.

Ternyata, lanjut Ashari, sejumlah konsumennya mengeluh. Pakaian yang dikeringkan dengan alat buatannya, jadi kaku saat disetrika. Ia pun kemudian melakukan pengembangan dan penyempurnaan, dengan membuat rotary dryer dan tumble dryer. Mesin itu ia jual dengan harga yang masih lebih terjangkau dari buatan luar negeri yakni sekitar Rp10 juta.

“Dari situ banyak hotel-hotel yang pesan. Kemudian ada yang menantang minta dibuatkan mesin laundry. Akhirnya saya coba-coba bikin sendiri. Berkali-kali saya gagal. Setelah dua tahun terus mencoba, baru berhasil. Itu sekitar 2010 akhir,” katanya.

Suasana pabrik pembuatan mesin cuci dan alat laundry milik Ashari. Foto: Jatmika H Kusmargana

Ashari masih ingat betul, dulu ia memulai usahanya hanya dengan bermodalkan sejumlah alat bekas seperti gerinda potong, mesin las, serta kompresor yang ia beli di pasar loak. Dalam mengerjakan semuanya, ia hanya dibantu seorang adik iparnya.

Setelah berhasil membuat mesin laundry, usaha Ashari pun semakin berkembang. Ia tak henti melakukan sejumlah inovasi. Kini total ada hampir 10 jenis dengan berbagai macam kapasitas yang telah ia produksi. Mulai dari dryer atau mesin pengering laundry, barrier washer extractor atau mesin pemeras, roll ironer atau mesin setrika, hingga carpet spinner atau mesin laundry karpet.

“Saat ini ada 50 orang lebih yang membantu saya. Mayoritas adalah anak-anak muda lulusan SMK. Setiap bulan saya bisa memproduksi sekitar 30 unit all item, dengan rentang harga bervariasi mulai dari 10 hingga 200 juta rupiah. Untuk konsumen mayoritas hotel-hotel dan rumah sakit,” ujarnya yang telah memasarkan produknya ke hampir seluruh wilayah Indonesia bahkan hingga ke Malaysia dan Timor Leste.

Ashari yang menamai perusahaannya PT Harimukti Teknik dengan merk dagang Kanaba (Karya Anak Bantul) itu, mengatakan, salah satu kunci pesatnya perkembangan usahnya adalah kegigihannya untuk terus fokus meningkatkan kualitas produk maupun perusahaannya. Salah satunya dengan mencapai standar nasional SNI.

“Awalnya saya tidak tahu apa itu SNI. Setahu saya hanya untuk helm. Tapi setelah diberitahu seorang teman, saya baru paham. Dari situ saya mulai menyesuaikan semua proses terkait usaha produksi alat mesin laundry ini sesuai standar nasional” katanya.

Lagi-lagi Ashari mengaku membutuhkan waktu sedikitnya hampir dua tahun hingga ia berhasil lolos sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI) dari Badan Standarisasi Nasional (BSN). Yakni pada 2016. Kini total ada lebih dari 5 jenis ISO yang telah disandang perusahaannya.

Mulai dari ISO 9001 terkait sistem manajemen mutu, ISO 37001 tentang sertifikasi bebas korupsi dalam hal penyuapan, ISO 14001 terkait standarisasi sistem manajemen lingkungan hingga standar ISO untuk setiap produk yang diproduksi perusahaannya. Saat ini Ashari bahkan tengah menyiapkan untuk dapat meraih ISO 45001 tentang standar Kesehatan Keselamatan Kerja (K3).

“Dulu sebelum tahu tentang SNI, setiap bekerja saya memang masih menggunakan cara-cara sederhana. Mengukur-ukur masih manual, pakai tali dengan paku di tanah. Tidak pakai komputer sama sekali karena memang tidak bisa, bahkan kantor saja tidak punya,” kenangnya sambil tertawa.

Menurut Ashari banyak sekali keuntungan yang ia dapatkan setelah memperoleh standar SNI. Di mana seluruh sisi tahapan usahanya, mulai dari perencaaan, mamajemen, produksi, pemasaran, pencapaian semuanya menjadi terdata, terstruktur dan teratur. Dampaknya produktivitas perusahaannya pun meningkat pesat, baik secara kuantitas maupun kualitas.

“Kadang banyak perusahaan yang tidak mau mengejar ISO karena takut akan bayangan mereka sendiri. Katanya sulit. Padahal sebenarnya tidak. Asalkan ada komitmen pasti bisa. Apalagi setelah mengetahui manfaat yang didapatkannya. Saya bisa bilang seperti itu karena saya sudah buktikan sendiri,” ungkapnya.

Meski beberapa produknya telah sampai ke luar negeri, Ashari sendiri mengaku belum mau tergesa untuk mengejar pasar global dalam memasarkan produknya. Ia mengaku masih ingin fokus meningkatkan kualitas SDM dan infrastruktur, di antaranya dengan melengkapi sejumlah alat produksi di pabrik miliknya. Namun begitu ia telah menargetkan, produknya akan sampai ke pasar ekspor pada 2022 mendatang.

“Saya memulai usaha ini untuk membuktikan bahwa anak lulusan SMK juga bisa berhasil. Agar anak-anak muda lulusan SMK, khususnya di sekitar desa saya ini tidak malu bekerja meski hanya sebagai tukang las. Yakinlah Tuhan pasti akan memberikan jalan,” pungkas lelaki yang kini sibuk menularkan ilmunya dengan menggelar sejumlah pelatihan wirausaha itu.

Baca Juga
Lihat juga...