Mengenal Jerawat, ‘Si Kecil’ yang Merepotkan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

320

JAKARTA — Hampir setiap orang pernah mengalami jerawat. Kalau dulu, mungkin dianggap hanya sebagai salah satu fase yang harus dilewati sebagai seorang remaja. Bahkan, ada pemeo yang menyatakan bahwa orang yang berjerawat adalah orang yang sedang jatuh cinta.

Tapi ternyata tidaklah sesederhana itu dan tidak hanya menghampiri remaja saja. Menurut penelitian, jerawat memiliki potensi untuk menyerang semua orang di rentang umur 11 hingga 30 tahun. Tercatat, 80 persen dari orang yang ada di rentang umur itu memiliki masalah yang sama.

Jerawat sebenarnya merupakan kelainan hormon dan zat pada kelenjar minyak dan folikel rambut. Jika terjadi penyumbatan akibat berlebihnya produksi kelenjar minyak, maka akan timbul kantung nanah yang meradang. Jerawat umumnya muncul di wajah, walaupun leher, pundak, dada dan punggung juga berpotensi untuk tumbuh.

Pemilik Celv Clinic, dr. Ruri D Pamela, SpKK menyatakan jerawat memang dipicu oleh tingginya hormon Androgen. Karena pria memiliki tingkat hormon Androgen yang lebih tinggi, maka berpeluang lebih besar dibandingkan perempuan.

“Saat remaja, hormon Androgen ini kan sedang aktif. Sehingga peluang tumbuh jerawat juga besar. Nanti setelah melewati masa remaja, jerawatnya akan berkurang,” kata dr. Ruri saat ditemui Cendana News, Selasa (4/9).

dr. Ruri Pamela. Foto: Ranny Supusepa

Kompleksitas jerawat muncul jika kondisi minyak berlebih ini bercampur dengan sel kulit mati, bakteri, penggunaan kosmetik yang berlebih atau tidak cocok, di bawah penggunaan obat tertentu dan stres.

“Kondisi biasanya diperparah dengan polusi dan kelembapan udara yang tinggi. Pola makan juga dapat membuat jerawat semakin susah untuk sembuh. Ditambah dengan kebiasaan memencet, juga mendorong terjadinya peradangan,” kata dr. Ruri lebih lanjut.

Untuk upaya penyembuhan, dr. Ruri menyatakan bisa menghasilkan hasil yang memuaskan jika dilakukan perawatan rutin.

“Banyak orang yang datang kepada saya dan berharap dengan sekali datang, langsung hilang. Padahal perawatan itu harus beberapa kali sesi,” ucapnya tegas.

Selain menjaga kebersihan lokasi tumbuh jerawat, pola makan juga harus dijaga untuk mempercepat proses penyembuhan.

“Makanan juga harus dijaga. Jangan mengkonsumsi makanan yang indeks glikemiknya tinggi. Produk susu juga harus dihindari,” ujar dr. Ruri.

Terkait makanan yang digoreng, dr. Ruri menekankan bahwa yang terpenting adalah minyak yang digunakan.

“Bukan masalah cara memasaknya, yang digoreng. Tapi kondisi minyaknya. Kalau minyaknya hanya sekali pakai, tidak masalah. Yang masalah kalau sudah beberapa kali pakai. Itu yang bikin tidak sehat,” paparnya.

Masalah tidak selesai saat jerawat itu sembuh. Karena paska kesembuhan, pada beberapa pasien dengan keluhan akan muncul kasus bekas jerawat. Pada beberapa kasus, bekasnya cukup jelas terlihat hingga terlihat sebagai dekuk di wajah.

“Bekas jerawat ini memang tidak membahayakan secara medis. Tapi bisa menimbulkan rasa tidak percaya diri. Jika sudah seperti ini, maka bisa saja yang bersangkutan melakukan perawatan untuk menghilangkan bekasnya,” pungkas dr. Ruri.

Baca Juga
Lihat juga...