Menggagas Pengembangan Sektor Kelapa di Sulut

1.030
Ilustrasi -Dok: CDN
MANADO  – Sulut merupakan daerah dengan lahan pertanian kelapa sangat besar, sehingga berpotensi meningkatkan pendapatan petani dengan hasil panen kelapa serta pembuatan produk-produk turunan kelapa.
Salah satu cara untuk meningkatkan pendapatan petani kelapa, adalah dengan meningkatkan nilai tambah dari produk yang selama ini dijual oleh petani hanya dalam bentuk kelapa butiran atau pun kopra, menjadi minyak kelapa, santan, bubuk santan serta produk turunan lainnya.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulut Jenny Karouw, mengatakan harga komoditas unggulan Provinsi Sulut, yakni kopra di sentra perdagangan Kota Manado mengalami penurunan tipis.
“Harga kopra hari ini turun lagi dari Rp6.100 per kg menjadi Rp6 ribu per kg,” kata Jenny, Kamis (13/9/20178).
Penurunan harga kopra sudah mulai terjadi sejak pertengahan 2018, yaitu semula Rp9 ribu per kg menjadi Rp6 ribu per kg.
“Harga kopra tidak bisa diintervensi, karena selalu mengikuti pergerakan harga minyak internasional,” kata Jenny.
Karena itu, petani dan pelaku usaha harus lebih inovatif, agar produk yang dihasilkan lebih berkualitas dan memiliki daya saing tinggi.
Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulut, Hanny Wajong, mengatakan pemerintah akan terus melakukan pengawasan dan pemantauan, agar harga kopra bisa menguntungkan petani.
“Setiap hari, kami memantau kegiatan pedagang pengumpul baik di Pasar Bersehati maupun di Pasar Pinasungkulan”, katanya.
Ketua Asosiasi Petani Kelapa (Apeksu) Sulawesi Utara (Sulut), George Umpel, mengharapkan harga kopra bisa setara dengan harga beras, sehingga petani kopra bisa mendapatkan keuntungan.
“Dengan harga Rp6.000,-/kg, petani merugi karena biaya pemeliharaan dan produksi yang sangat mahal,” katanya.
Persoalan lain yang harus dihadapi adalah jumlah buruh petik kelapa sekarang sangat sedikit, karena banyak sekali anak muda yang beralih menjadi penarik ojek, mereka tidak mau lagi memanjat kelapa.
Kenyataan tersebut menyebabkan jasa memetik kelapa menjadi sangat mahal, dan terkadang sulit mendapatkan tenaga pemetik.
Jika harga kopra setara dengan harga beras, yakni di kisaran Rp11 ribu per kilogram, petani masih bisa mendapatkan keuntungan.
Salah satu potensi untuk meningkatkan pendapatan petani kelapa adalah dengan memproduksi kopra putih, dan untuk itu Provinsi Sulut membutuhkan ratusan tungku, agar para petani dapat memproduksi kopra putih di daerah tersebut.
“Untuk pengembangan kopra putih petani, di Sulut membutuhkan sekitar 500-600 tungku, agar mampu mendapatkan produksi yang cukup banyak,” kata George Umpel.
Dengan jumlah tungku kopra putih yang banyak, katanya, akan mampu menghasilkan 250 ton kopra putih.
“Jika petani mampu menghasilkan kopra putih rata-rata 250 ton secara kontinu, pabrik bisa memberikan harga bagus,” jelas George Umpel.
Harga tungku kopra putih memang lumayan mahal, sehingga Apeksu meminta pemerintah menyisihkan dana dari APBD untuk pengadaan tungku tersebut.
“Harga jual kopra putih dua kali lebih tinggi ketimbang kopra asapan, dengan biaya pengolahan lebih murah, bila petani mampu diarahkan untuk menghasilkan kopra putih, maka kesejahteraan petani seperti yang diharapkan, mampu tercapai,” ujarnya.
Sertifikasi Cargill Indonesia mendukung petani kopra di Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) dengan cara memberikan pelatihan dan sertifikat Rainforest Alliance.
Direktur PT Cargill Indonesia, Totok Setyarto, mengatakan petani kopra di Minahasa Selatan yang berada di bawah binaan Cargill Indonesia, telah menyelesaikan pelatihan standar pertanian berkelanjutan yang menggunakan standar Sustainable Agriculture Network (SAN), dan menerima sertifikasi Rainforest Alliance sertifikasi produksi kelapa berkelanjutan.
Program pelatihan dimulai sejak awal 2017, merupakan bagian dari upaya untuk peningkatan pendapatan dan pengembangan petani Kopra di Minahasa Selatan, melibatkan 31 kelompok petani kopra di daerah Amurang Barat, Kumelembuai, Tatapaan, Sinonsayang, Tenga, Amurang Timur, dan Pinapalangkow.
Untuk mendapat sertifikasi, para petani melewati dua fase. Pertama, dengan mengikuti pelatihan dan belajar praktek pertanian yang baik, atau GAP-Good Agricultural Practice.
“Tujuannya agar petani dapat memaksimalkan penggunaan lahan dan meningkatkan efisiensi operasionalnya. Mereka juga telah dilatih untuk melakukan tumpang sari pada lahan tanaman kelapanya,” jelasnya.
Sebagai bagian dari program juga diberikan pelatihan manajemen keuangan, pengelolaan hama dan pasca-panen yang terintegrasi, dan menerima dukungan dalam implementasi.
Pada fase kedua, para petani yang memiliki kinerja tinggi, mendapat tawaran untuk mengikuti pelatihan praktek pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture practices).
“Petani yang memenuhi syarat mendapatkan sertifikat berkelanjutan atas kopra yang dihasilkan, dan dapat meningkatkan pendapatan melalui penjualan minyak kelapa bersertifikat yang mereka produksi,” jelasnya.
Pelatihan dan sertifikasi bagi petani yang telah memenuhi kualifikasi ini akan mendorong mereka untuk bekerja lebih efisien, lebih produktif dan berkelanjutan, sehingga mendapatkan penghasilan yang bisa memberikan kehidupan lebih baik.
Program pelatihan dan sertifikasi petani kopra ini merupakan bagian dari inisiatif Cargill dan mitra konsorsium, yaitu the Deutsche Gesellschaft for Internationale Zusammenarbeit GmbH (GIZ), BASF, Procter & Gamble (P&G) untuk membantu petani Kopra di Indonesia dan Filipina, yang merupakan dua negara produsen kelapa terbesar di dunia, guna mengembangkan kehidupan petani, meningkatkan pendapatan dan pada waktunya mengarahkan pada produksi minyak kelapa yang berkelanjutan.
Jelly Rembang, petani kopra dari desa Paslataen, Tatapaan, Minahasa Selatan, menyatakan, program ini memberikan banyak manfaat.
“Cargill mendukung kami untuk menjadikan ini sebagai usaha yang menjanjikan, dan membuat kami sadar untuk menjaga ekosistem, guna memastikan keberlanjutan, jelasnya.
Bupati Minahasa Selatan, Christiany Eugenia Tetty Paruntu, turut menyuarakan apresiasinya atas usaha Cargill untuk membantu komunitas petani kopra lokal.
Memanfaatkan Resi Gudang Sistem resi gudang (SRG) mampu mengatasi anjloknya harga kopra di sentra Kota Manado Provinsi Sulut.
“Anjloknya harga kopra ke level Rp6 ribu per kilogram, sebenarnya dengan sistem resi gudang bisa diatasi,” kata Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulut, Soekowardojo.
Soekowardojo mengatakan, karena dengan SRG pada saat harga rendah petani dapat menyimpannya di resi gudang dan menjualnya pada saat harga bagus.
Sementara itu, resinya diuangkan ke bank untuk modal kerja atau produksi yang lain.
“Sudah saatnya pemerintah daerah melihat resi gudang sebagai salah satu sistem pembiayaan,” kata Soekowardojo.
Nanti, katanya, pada saat harga bagus barang di gudang dapat dijual, dan hasilnya untuk membayar pembiayaan dari bank.
“Di Sulut hanya ada dua gudang dan itu belum berfungsi,” katanya.
Anjloknya harga kopra bisa berdampak pada pertumbuhan ekonomi di Sulut, yang masih mengandalkan pertanian dan perkebunan.
Barang yang dapat disimpan dalam SRG, yakni gabah, beras, jagung, kopi, kakao, lada, karet, kopra, rumput laut dan garam dan masih banyak lagi, sesuai yang diatur oleh pemerintah.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulut, Jenny Karouw, mengatakan, saat ini cengkih dan kopra belum masuk dalam daftar komoditas SRG, karena berbagai alasan, salah satunya karena kedua komoditas itu belum memiliki standar mutu.
Jenny mengatakan, barang yang dapat disimpan dalam SRG yakni gabah, beras, jagung, kopi, kakao, lada, karet, rumput laut dan garam, kopra.
“Dengan berjalannya SRG di Sulut, kami berharap komoditasnya bisa disimpan di gudang tersebut,” katanya.
Dokumen atau surat bukti kepemilikan barang yang disimpan di gudang diterbitkan oleh pengelola gudang tertentu, setelah mendapat persetujuan dari Bappebti.
Petani yang menyimpan produk di SRG, akan mendapatkan resi yang bisa dijadikan jaminan di bank, dalam hal ini BRI dan BPD, guna mendapatkan biaya untuk melanjutkan usahanya.
Implementasi SRG, akan dilakukan untuk membantu petani ketika harga anjlok, sehingga produk bisa disimpan dalam gudang, dan akan dikeluarkan saat harga membaik.
Diversifikasi Produk Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Sulut, Refly Ngantung, mengatakan kelapa merupakan salah satu komoditi ekspor, di mana harganya sangat tergantung mekanisme pasar dunia (Pasar Roterdam).
Dia mendorong petani kelapa di Sulut untuk memerhatikan kualitas kopra, agar memiliki daya saing (kompetitif).
Berbagai langkah diupayakan oleh Pemprov Sulut, antara lain melatih petani kelapa agar kreatif menghasilkan produk turunan kelapa, berupa minyak goreng, minyak murni (VCO), arang aktif, kokopit dan produk lainnya.
Disbun juga memberikan bantuan alat pengasapan bagi petani kelapa melalui Kelompok Tani (Poktan) 10 unit setiap tahun di daerah sentra kelapa, seperti di Minahasa, Minahasa Tenggara (Mitra), Minahasa Utara (Minut) dan Minahasa Selatan (Minsel).
Gubernur Sulawesi Utara (Sulut), Olly Dondokambey, pun pernah menyatakan akan terus mendorong diversifikasi produk turunan kelapa di daerah tersebut.
“Jika diversifikasi produk turunan kelapa banyak, petani tidak akan mengandalkan kopra saja, sebab jika hanya mengandalkan kopra saja, maka pendapatan petani kelapa tidak akan cukup membiayai kehidupannya,” kata Olly.
Dia menjelaskan, di Eropa pada bulan Maret-September memiliki banyak minyak nabati yang bersumber dari biji bunga matahari atau kedelai, karena itu mereka tidak banyak meminta minyak kelapa.
Dampaknya, produk lain dari luar Eropa, termasuk minyak kelapa, sedikit permintaanya, sehingga kopra yang merupakan bahan baku minyak kelapa kasar atau crude coconut oil ikut terkontraksi.
Diversifikasi turunan kelapa sangat penting untuk menjawab persoalan, karena ada ratusan produk yang bisa didapat dari pohon kelapa.
Selain kopra, ada tepung kelapa, minyak kelapa, minyak kelapa murni atau VCO, batok kelapa, sabut kelapa, arang tempurung, bungkil kopra, batang kelapa, air kelapa dan masih banyak lagi.
Petani akan terus didorong, agar bisa mendapatkan manfaat dan pendapatan lebih dari sekedar menjual kopra saja.
Jika produk turunan kelapa sudah sangat banyak, negara-negara lain sudah banyak yang menunggu untuk mengimpor.
“Petani dan pengekspor jangan khawtir, karena jika kualitas produk kelapa sangat baik, pasar sudah di depan mata,” katanya.
Pemerintah akan mendukung dengan mengeluarkan regulasi untuk mengembangkan komoditas kelapa.
Olly Dondokambey mengatakan, pihaknya optimis harga kopra kembali normal pada sekitar bulan November atau Desember, dampak siklus perdagangan global.
Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Sulut, Ivanry Matu, menilai pemanfaatan teknologi pada produk turunan kelapa akan mampu meningkatkan daya beli kopra.
Sudah saatnya ada sentuhan teknologi pada produk kopra seperti yang dilakukan di Filipina, dan ada strategi penerapan teknologi pengolahan kelapa untuk semua produk turunannya, selain diimbangi dengan peningkatan sumber daya manusia (SDM) dan akses pasar.
Anjloknya harga kopra di sentra perdagangan Sulut yang mencapai Rp6 ribu per kilogram, telah menghantam tingkat kesejahteraan petani kelapa.
“Saya juga merasakannya, karena saya sebagai anak petani kelapa,” katanya.
Selama ini, upaya yang dilakukan pemerintah sudah banyak, namun yang juga perlu diubah adalah pola pikir petani, agar bukan hanya berorientasi menghasilkan kopra saja, tapi juga mulai menggarap produk turunan olahan berbahan kelapa dan peningkatan kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) serta akses pasar.
Saat ini produk turunan kelapa baik kopra, minyak kelapa kasar, kelapa utuh, tepung kelapa sabut kelapa, kayu kelapa diekspor ke Amerika Serikat, Eropa, Asia dan Afrika, paling banyak ke negara-negara di Asia. (Ant)
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.