Menjadi Uskup Ibarat, Memasuki Zona Tidak Nyaman

Editor: Mahadeva WS

355

MAUMERE – Menjadi seorang Uskup, Pemimpin Umat Katolik di Keuskupan, ibarat memasuki zona tidak nyaman. Tantangan dan kesulitan serta penderitaan yang dialami, membutuhkan komitmen dan kerja keras.

“Menjadi Uskup menerima sebuah kehormatan, melayani lebih luas, tetapi di pihak lain menerima tugas dan tanggungjawab maha berat, menjadi pewarta injil, melayani sakramen-sakramen dan melaksanakan tugas kegembalaan,” sebut Mgr. Silvester San, Rabu (26/9/2018) malam.

Dalam kotbah perayaan tahbisan, Uskup Maumere Mgr. Edwaldus Martinus Sedu, Mgr.San menegaskan, akan ada serigala-serigala ganas yang menggangu umat, dan ada pengajar-pengajar palsu yang menyesatkan umat. “Di jaman globalisasi ini, umat masih menggalami dualisme dalam hidup beragama. Umat menghadapi tantangan sekularisme, materialisme, konsumerisme, hedonisme dan berbagai informasi palsu di media sosial yang sering menyesatkan,” tandasnya.

Mgr.Edwaldu Martinus Sedu, Uskup Maumere – Foto Ebed de Rosary

Meskipun memasuki zona yang tidak nyaman, Mgr.Ewaldus Martinus Sedu, tidak takut. Ada kerjasama serta jejaring bersama imam, tokoh-tokoh awam dan umat di seluruh Keuskupan Maumere. “Umat Kesukupan Maumere telah mengenal Mgr.Edwaldus Martinus Sedu sebagai imam dan Vikjen yang sabar, banyak tertawa, kebapakan dan rendah hati selama menjalani tugasnya sebagai gembala umat,” ungkapnya.

Duc In Altum, bertolak ke tempat yang lebih dalam tegas Mgr.San, merupakan moto yang dipilih Mgr.Edwald. Moto itu bermakna, bagi panggilan sebagai Uskup Maumere yang baru. “Bertolak ke tempat yang dalam bagi Mgr. Ewald, menunjukan kesungguhan menjadi seorang Uskup, untuk terus memperdalam iman dan pengetahuan, demi pelayanan yang lebih berhasil,” harapnya.

Dengan memiliki dan menghayati iman dan pengetahuan yang mendalam akan ajaran gereja tandas Mgr.San,maka wartanya akan berbobot serta mampu menangkap banyak orang yang berdosa dan tersesat supaya kembali menjadi umat Katolik yang baik.

Pengalaman menunjukan, krisis kekecewaan dapat membuat orang menjadi lebih matang, lebih dewasa dan bijaksana. Oleh karena itu, aneka krisis dan kesukaran seharusnya dihadapi dengan kaca mata positif. “Kita semua menginginkan kesuksesan dan keberhasilan dalam hidup, namun kegagalan, ketidakberhasilan mengajarkan banyak hal, yang tidak bisa kita pelajari melalui kesuksesan atau keberhasilan. Hendaknya kita melihat kriris dan kesukaran itu merupakan sebagai peluang untuk bertumbuh kepada kehiudpan yang lebih baik,” tandasnya.

Sementara itu, Mgr.Edwaldus Martinus Sedu, mengucapkan terima kasih kepada Paus Fransiskus yang telah mempercayakan dirinya menggembalakan umat di Kesukupan Maumere. Serta berterima kasih kepada Uskup sebelumnya Mgr.Gerulfus Kherubiem Pareira. “Saya juga meminta dukungan segenap umat Keuskupan Maumere, agar bisa menjalankan tugas kegembalaan yang dipercayakan kepada saya serta menjadi seorang gembala yang lebih baik,” ungkapnya.

Disaksikan Cendana News, ribuan umat tetap setia berdiri mengikuti perayaan upacara tahbisan Uskup Maumere yang dipimpin oleh Uskup Emeretius Maumere Mgr.Gerulfus Kherubiem Parera disaksikan duta besar Vatikan untuk Indonesia Mgr. Piero Pioppo.

Baca Juga
Lihat juga...