Menjaga Pohon, Menjamin Ketersediaan Air

Editor: Koko Triarko

1.197
LAMPUNG – Kemarau panjang di sejumlah wilayah di kabupaten Lampung Selatan, mengakibatkan warga mengalami kesulitan pasokan air bersih. Namun, sejumlah warga di kasawan Gunung Rajabasa, Lampung Selatan, masih bisa mendapatkan air bersih, karena terjaganya hutan lindung Gunung Rajabasa.
Agung, warga Desa Sripendowo, Kecamatan Ketapang, yang berada di dekat kawasan register 1 Way Pisang, mengaku masih bisa memperoleh air bersih berkat menanam dan menjaga pohon.
Sejumlah pohon yang ditanamnya merupakan jenis pohon menahun maksimal usia 6 tahun bisa dipanen, di antaranya Sengon, Jabon, Mindi. Sebagian pohon merupakan tanaman usia lebih dari 10 tahun jenis Medang, Bayur dan Jati lokal.
Penebangan kayu untuk dijual sebagai bahan bangunan, juga dilakukan dengan sistem tebang pilih. Yakni dengan memilih pohon layak tebang, menyisakan pohon usia muda dan melakukan penanaman kembali di lokasi pohon yang ditebang. Cara tersebut umum dilakukan warga Lamsel, untuk mempertahankan pohon resapan air agar mata air untuk sumur tetap terjaga.
Agung mengambil air dari sumur miliknya menggunakan sistem pompa, untuk mengalirkan air bersih selama musim kemarau melanda wilayah Lampung Selatan [Foto: Henk Widi]
“Kawasan Register 1 Way Pisang sebagian sudah mengalami  alih fungsi lahan, di antaranya untuk lahan pertanian jagung dan sawit. Sementara jenis pepohonan peresap air sudah ditebang, namun sebagian warga yang sadar pentingnya sumber mata air masih mempertahankan pohon,” terang Agung, Rabu (12/9/2018).
Agung menyebut, sebagian besar bibit pohon yang ditanam warga merupakan hasil dari pembibitan permanen milik Balai Pengelola Daerah Aliran Sungai Way Seputih Way Sekampung (BPDAS-WSS) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Wilayah yang sebelumnya gersang akibat kegiatan masyarakat melakukan pertanian jagung, kembali menghijau, terutama di wilayah Gandri, Kemukus, Karangsari, Sripendowo dan kawasan Trans Aceh yang masuk wilayah Register Pematang Taman.
Manfaat menanam pohon dan pemilahan pohon untuk penggunaan sebagai bahan bangunan, juga dirasakan oleh warga Penengahan. Herman,salah satu pemilik usaha jual beli kayu bahan bangunan, mengaku sebagian penjual kayu sengaja memilih pohon yang sudah tua.
Ia menyebut, ada beberapa tingkatan kualitas pohon melihat umurnya, sehingga tidak mudah rusak akibat digerogoti ngengat, sebagai dampak dari pohon yang muda.
“Pemilik pohon umumnya akan memilih pohon yang sudah tua, yang muda ditinggalkan dan menanam bibit baru, demikian seterusnya agar masih memiliki pohon,” terang Herman.
Kearifan lokal warga Lampung Selatan dalam memelihara pohon, katanya, menjadi sebuah warisan keluarga. Sebab. sebagian warga Lamsel masih mempergunakan kayu sebagai bahan bangunan utama.
Mempertahankan kayu, terutama di dekat wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Way Asahan, Way Pisang, Way Kuripan,Way Tebing Ceppa dan sejumlah sungai sekaligus ikut menjaga keberlangsungan air bersih dari sejumlah mata air.
Sebagai pemilik usaha jual beli kayu, ia juga mengaku memiliki kebun dan lahan pertanian sawah. Sebagian kebun sengaja ditanami sejumlah pohon kayu berusia pendek, jenis Albasia, Sengon.
Jenis pohon Gondang, Waru dan Wungu penyedia pasokan air, bahkan menjadi sumber mata air atau belik, untuk mengairi lahan pertanian miliknya. Meski kemarau melanda wilayah kecamatan Penengahan, sebagian lahan pertanian masih bisa mendapat pasokan air.
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.