Menjaga Silek Tradisi Minangkabau dari Ambang Kepunahan

Editor: Satmoko Budi Santoso

263

PADANG – Lahianyo silek mancari kawan, batinnyo silek mancari Tuhan (Lahir silat mencari teman, batin silat mencari Tuhan). Begitu filosofi yang berkembang bagi masyarakat di Minangkabau, Sumatera Barat, yang belajar tentang silat tradisi.

Bagi masyarakat di Minangkabau, belajar silat, tidak hanya semata berlatih fisik. Seperti filosofi yang terucap di awal kalimat, lahirnya silat itu mencari teman. Maknanya orang yang belajar dan pandai silat, memiliki hubungan silaturahmi sesama manusia dengan baik. Karena silat mengajarkan seseorang untuk rendah hati, tenang, bijaksana, dan sikap yang menghargai orang lain.

Begitu juga dengan filosofi batin silat mencari Tuhan. Dalam belajar silat tidak hanya tentang fisik dan sikap yang baik. Tapi harus diiringi dengan ibadah yang taat. Di Sumatera Barat sebagian besar masyarakatnya memeluk agama Islam. Artinya yang belajar silat harus menjalankan ibadah, seperti salat lima waktu dan ibadah lainnya.

Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat, Suharman/Foto: M. Noli Hendra

Sebab dalam tahapan belajar silat Minangkabau ini, ada istilah belajar silat di sasaran (lapangan tempat belajar silat) secara fisik, dan dan belajar silat yang harus didudukkan bersama guru atau tuo silek.

Di sini guru dengan murid akan berdiskusi tentang silat di balik gerakan yang telah dipelajari. Maknanya dalam sebutan batin silat mencari Tuhan ini, silaturahmi tidak hanya kepada sesama manusia, tapi silaturahmi kepada Tuhan juga harus dilakukan.

Di Sumatera Barat, hampir seluruh pelosok daerah memiliki perguruan silat tradisi, yang muridnya diutamakan merupakan sanak saudara terdekat dari sang guru. Hal ini bisa ditemukan bagi daerah yang belajar silatnya, masih bersembunyi. Namun, seiring waktu berjalan, silat pun dapat dipelajari oleh masyarakat umum, tanpa ada embel-embel saudara atau bukan.

Bahkan silat sendiri telah berkembang hingga ke sekolah hingga ke perguruan tinggi, dan hebatnya telah merantau hingga sejumlah negara. Dengan demikian, silat tidak hanya menjadi jati diri bagi masyarakat Minangkabau, tapi silat juga turut menjadi kebanggaan bagi penduduk luar dari Indonesia ini.

Menurut Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat, Suharman, dari catatannya ada 12 aliran silat yang masih eksis keberadaannya di Sumatera Barat.

Dari jumlah tersebut, ada empat aliran yang bisa dikatakan khas di Minangkabau yaitu Silek Luncu, Padang Abai, Colau dan Kumango. Selain itu, terdapat banyak sasaran sebagai media pembelajaran dan pewarisan silat tradisi tersebut.

Silek tuo adalah silat yang hanya ada di Sumatera Barat. Silek tuo ini kita juga telah mengusulkan ke UNESCO. Dengan begitu silek bisa diakui oleh seluruh negara di dunia,” katanya, Minggu (9/9/2018).

Memang, suatu kebanggaan bagi masyarakat Minangkabau karena memiliki sebuah warisan budaya yang telah ada ratusan tahun lalu, dan telah berkembang hingga ke sejumlah negara. Akan tetapi, masa depan dari silat, muncul kekhawatiran.

Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat menyebutkan, rata-rata guru silat di Minangkabau kini tergolong usia yang tidak begitu kuat lagi. Sementara masih banyak generasi muda di Sumatera Barat yang belum berkesempatan mempelajari silat.

Entah minat yang kurang bagi generasi muda, entah kemunculan silat yang tidak begitu hangat di ingatan generasi muda. Sehingga bisa dikatakan generasi muda lebih tertarik mempelajari bela diri lainnya.

Sebagai upaya untuk terus memperkenalkan silat tradisi ini, Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat mengapresiasi upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, karena cukup sering menyelenggarakan kegiatan tentang silat tradisi.

Beberapa bulan lalu ada, Festival Silat Tradisional Internasional, dan yang rutin diselenggarakan Gelanggang Silih Baginti. Kini tengah berlangsung Silek Art Festival yang diselenggarakan di depan daerah di Sumatera Barat, yang merupakan platform dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno, juga menyatakan berkomitmen menjadikan beladiri silat sebagai warisan dunia. Karena saat ini tradisi dan budaya silek baru ke tingkat nasional, sehingga ditargetkan silat menjadi warisan dunia.

Kehadiran Silek Art Festival juga merupakan salah satu langkah menjaga dan melestarikan silat tradisi yang ada di Sumatera Barat. Karena keberadaan silek selama berabad-abad yang diwariskan secara turun temurun ini, telah menyebar ke Indonesia.

Sementara Kepala Dinas Kebudayaan Sumatera Barat, Gemala Ranti, mengatakan adanya Silek Art Festival merupakan salah satu wadah dalam melestarikan silat Minangkabau dan sekaligus membumikan silat.

Dalam Silek Art Festival ini berbentuk atraksi silat tradisional, kemudian menampilkan ragam aliran silek dan pemutaran film silek. Selain penampilan dari kabupaten dan kota, kegiatan tersebut juga bakal dihadiri oleh sejumlah negara yang ada di dunia.

Baca Juga
Lihat juga...