Menristekdikti: Publikasi Riset Indonesia Ungguli Thailand

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

212

JEMBER — Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohammad Nasir menyebutkan, publikasi jurnal ilmiah dari pendidikan tinggi di Indonesia mengalami peningkatan. Di 2018 ini terdapat 18.450 jurnal yang sudah dipublikasikan.

Natsir merincikan, selama empat tahun terakhir, pada 2015 Indonesia mempublikasi sebanyak 5.400, di 2016 sebanyak 9.000 jurnal. Jumlah tersebut masih di bawah Thailand, Singapura dan Malaysia. Di periode yang sama Thailand menerbitkan 9.500 jurnal, Singapura 18.000 dan Malaysia 28.000 jurnal.

“Pada tahun 2017 Indonesia mempublikasi sebanyak 18.500 jurnal. Sementara Thailand 16.000 dan Singapura 19.000 jurnal. Tahun 2018 ini, publikasi jurnal ilmiah Indonesia stabil di angka 18.450, sementara Malaysia 19.540 jurnal, Singapura 14.214 dan Thailand 10.250 jurnal,” ungkapnya saat datang ke Universitas Jember untuk melakukan groundbreaking pembangunan Integrated Laboratories Agrotechnopark Complex and Auditorium Universitas Jember Kamis (27/9/2018).

Menurut Natsir, pengakuan dunia pada pendidikan tinggi suatu negara terletak pada banyaknya jurnal yang dipublikasi di penerbit internasional, seperti Elsevier Amerika Serikat, ebsco milik Belanda dan penerbit internasional lainnya.

Hal tersebut menandakan reputasi pendidikan tinggi di negara tersebut baik. Dari reputasi itulah, penerbit informasi ilmiah internasional akan meminta kerja sama dengan negara tersebut.

“Indonesia sudah melompat lebih tinggi dari segi raw material untuk inovasi,” pungkasnya.

Sementara itu, terkait groundbreaking pembangunan Integrated Laboratories Agrotechnopark Complex and Auditorium Universitas Jember, ia berharap, fasilitas tersebut dapat meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di kampus tersebut.

Natsir mengatakan, terdapat empat PTN yang saat ini tengah disetujui untuk membangun ILACA, di antaranya adalah Universitas Jember, Universitas Negeri Malang, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa di Banten, dan Universitas Mulawarman di Samarinda.

Disebutkan juga keempat ILACA yang akan dibangun, masing-masing akan mengembangkan teknologi yang berbeda.

“Contohnya di Unej ini akan fokus pada Bioteknologinya, kemudian di UNM akan fokus pada modernisasi pendidikan tinggi dan kemudian di Universitas Mulawarman akan fokus pada pengembangan tanaman tropis,” ucapnya.

Nasir juga berharap dengan adanya ILACA dapat meningkatkan riset para dosen dan professor di Unej. Sejak 2015, pihaknya juga rajin mendorong para dosen dan professor untuk rajin melakukan riset sehingga dapat menciptakan inovasi termutakhir. Hal tersebut diperkuat dengan Permenristekdikti Nomor 20 Tahun 2017.

Baca Juga
Lihat juga...