Meski Ancam Kesehatan, Sampah di TPA Gubuk Seng Tetap Jadi Gantungan Hidup Pemulung

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

178

LAMPUNG — Asap mengepul dari tumpukan sampah yang menggunung di tempat pembuangan akhir (TPA) di Dusun Gubuk Seng Penataan Desa Sidoluhur Kecamatan Ketapang. Aroma bau menyengat bahkan tidak dihiraukan oleh sejumlah pemulung di TPA yang berada tepat di tepi Jalan Lintas Sumatera KM 5 Bakauheni tersebut.

Santi (40) menyebutkan, demi menopang roda kehidupan, ia sudah empat tahun mengais rejeki sebagai pemulung barang bekas yang sebagian besar merupakan sampah dari kapal.

Mereka bekerja tanpa alat pengaman kesehatan berupa sarung tangan, sepatu boot dan masker saat memulung. Bahkan aroma busuk makanan sisa dari kapal dan bersentuhan dengan benda berbahaya sudah menjadi hal yang biasa.

“Awalnya sering sesak napas akibat bau busuk dan asap dari pembakaran sampah. Tapi setelah bertahun kerja disini sudah menjadi biasa,” sebutnya di TPA Gubuk Seng saat ditemui Cendana News, Jumat (7/9/2018).

Disebutkan, dirinya mencari peruntungan untuk mengumpulkan sampah yang bisa dijual. Bekerja dengan sistem upahan, disamping mengumpulkan botol air mineral, ia juga mencari pakan untuk ternak babi, ayam dan bebek dari nasi sisa di kapal.

Asap mengepul di sekitar lokasi tempat pembuangan akhir akibat sebagian sampah terbakar [Foto: Henk Widi]
Saat sakit, ia hanya istirahat atau memeriksakan diri ke bidan terdekat. Meski sudah mendapatkan nasihat dari bidan untuk mempergunakan alat keselamatan, namun karena pemakaian jangka panjang dan rusak, ia enggan untuk membeli yang baru.

“Alas kaki biasanya memakai sendal jepit saja, kadang sepatu terutama kalau ada sampah dari kapal yang banyak memiliki benda tajam,” beber Santi.

Sejumlah benda tajam yang kerap ditemui saat sampah datang dari truk disebutnya berupa serpihan kaca, botol pecah, kawat serta potongan rangka baja. Sepatu yang dipakai menghindarkannya dari potensi terkena tusukan benda tajam yang membahayakan.

Bekerja dengan hati hati menjadi cara baginya dan pemulung lain untuk bisa mendapatkan hasil dari pekerjaan mengumpulkan sampah yang masih bisa bernilai jual.

Selain Santi, salah satu pemulung, Mulyani (30) mengaku gangguan kesehatan yang kerap dirasakan berupa badan gatal gatal, terutama pada bagian tangan.

“Kadang tangan terasa gatal saat bersentuhan dengan makanan makanan busuk tersebut bercampur aroma tak sedap, tapi demi menyambung hidup,”
beber Mulyani.

Mengumpulkan sisa makanan berupa nasi, sayuran dari kapal disebut Mulyani merupakan pesanan dari peternak. Satu ember besar bekas cat berisi makanan sisa dijual kepada peternak bebek, babi dan ayam kampung seharga Rp10.000.

“Benda benda lain yang bisa dijual untuk didaur ulang di antaranya jenis botol air mineral dengan harga Rp1.000 per botol. Botol minuman terbuat dari kaca dijual Rp2.000 per botol, kardus seharga Rp1.500 per kilogram,” terangnya.

Sehari mengais sampah, jika di rata rata Mulyani dan rekan sesama pemulung mengaku hanya mendapatkan uang sekitar Rp150.000.

“Kalau disebut menantang penyakit dan mengesampingkan kesehatan betul, tapi demi mendapat penghasilan saya kerjakan,” beber Mulyani.

Lihat juga...

Isi komentar yuk