Miliki Sabu-sabu, Petani Asal Flotim Dibekuk

Editor: Satmoko Budi Santoso

219

LARANTUKA – Seorang petani berinisial S asal Desa Bandona Kecamatan Tanjung Bunga Kabupaten Flores Timur (Flotim) ditangkap pihak Kepolisian Resort (Polres) Flores Timur sesaat setelah turun dari kapal Pelni KM Lambelu di Pelabuhan Larantuka, Kamis (13/9/2018).

“Penyidik Polres Flotim mengikuti pelaku dari Maumere yang menggunakan KM Lambelu kemudian menangkapnya saat kapal bersandar di Pelabuhan Larantuka,” sebut Kapolres Flotim, AKBP Arri Vaviriyanto,SIK, Jumat (14/9/2018).

Dikatakan Arri, petani berinisial S atau kerap disampa Bon Jovi ini, selama ini menjadi target polisi Polres Flotim dan setelah diselidiki, pelaku diketahui menumpang KM Lambelu dari Makassar Sulawesi Selatan sehingga pihaknya langsung menyiapkan strategi penangkapan.

Kapolres Flores Timur AKBP Arri Vaviriyanto, SIK. Foto : Ebed de Rosary

“Polisi menemukan sabu-sabu seberat 3,55 gram dari dalam tas pelaku yang disimpan di dalam spidol serta barang bukti uang sebesar Rp.1.190.000 dan mata uang Malaysia sebanyak 3 ringgit,” bebernya.

Kapolres Arri mengatakan, pelaku menyebutkan sabu-sabu tersebut dibelinya dari seseorang di Nunukan Kalimantan Timur seharga Rp.2.250.000 dan polisi masih mengembangkan penyidikan untuk mengetahui kebenarannya.

“Polisi masih mengembangkan penyidikan untuk memastikan apakah pelaku membeli Narkoba ini untuk dikonsumsi sendiri atau untuk dijual kepada orang lain yang memesannya,” sebutnya.

Selain Kapolres Flotim, hadir saat konferensi pers Kasat Narkoba Ipda Emanuel Kia Belan, sekretaris Badan Narkotika Nasional (BNN) Flotim Rokus Useng Telan, para perwira Polres Flotim dan pelaku.

Bupati Flores Timur (Flotim) Flotim, Antonius Gege Hadjon, meminta agar seluruh pemangku kepentingan, apalagi ASN sebagai abdi negara dan pelayan masyarakat harus konsisten perangi Narkoba meski data kasus narkoba di Flotim kecil.

“Narkoba jadi ancaman bagi generasi muda dan merusak masa depan generasi penerus bangsa. Narkoba tidak mengenal strata sosial dan mengancam semua elemen masyarakat, dampaknya luar biasa,” tuturnya.

Sebagai daerah kepulauan, tandas Anton, sapaannya, Flotim memiliki akses ke dunia luar sangat terbuka sehingga berpotensi masuknya narkoba. Masyarakat juga sering berhubungan dengan dunia luar dan bisa tergoda untuk mengonsumsi narkoba.

“Narkoba merupakan fenomena gunung es sehingga semua kita harus selalu waspda agar jangan sampai ketika terjadi bau kita semua sadar. Baru mulai bergerak memerangi. Kita harus mulai perangi narkoba sejak dini,” ungkapnya.

Baca Juga
Lihat juga...