Mudrick Sangidu Ajak Masyarakat tak Takut Lawan Komunis

Editor: Koko Triarko

343
SOLO – Komunisme masih menjadi ancaman yang sangat serius untuk tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sebab, saat ini paham komunis tak lagi takut untuk menunjukkan diri dengan berbagai wajahnya.
Hal inilah yang terungkap dalam Sarasehan Hari Kesaktian Pancasila, yang menghadirkan sejumlah narasumber yang konsen terhadap ancaman bangkitnya PKI. Longgarnya penegakkan hukum oleh pemerintah menjadi salah satu faktor merebaknya komunisme di berbagai daerah.
“Seharusnya kalau pemerintah tegas, begitu ada orang yang pakai kaos PKI langsung tangkap dan interogasi. Apa tujuannya?” kata Sri Bintang Pamungkas, saat sarasehan di Gedung Rahayu, Solo, Jawa Tengah, Minggu (30/9/2018).
Dari berbagai informasi masyarakat, lanjutnya, tak hanya sebatas pengenaan kaos atau simbol komunis, namun berbagai kegiatan dan konsolidasi telah berulang kali dibubarkan oleh elemen umat Islam. Kondisi inilah yang membuat umat Islam dan rakyat Indonesia, umumnya, gerah dengan penegakkan hukum yang terbilang cukup longgar.
Front Anti Komunis Solo Raya, Mudrick Sangidu, mengajak seluruh masyarakat untuk tidak takut melawan upaya-upaya untuk menghidupkan ideologi komunis. Tokoh ‘Mega Bintang Solo’ ini juga menyatakan, untuk berani berkata lantang kepada pemerintah yang dinilai tidak tegas.
Mudrick juga mengutip perkataan Jenderal Nasution, yang menyebutkan, ‘Tidaklah mungkin seseorang bisa berjiwa Komunis sekaligus Pancasialis. Karena cita-cita komunis justru ingin menghilangkan agama. Kalau pun mereka beragama, itu hanyalah kedok semata’.
“Maka satu kata, yakni lawan komunis, lawan PKI. Bangsa Indonesia punya sejarah kelam, jangan sampai terulang kembali. Kalau pemerintah sekarang tidak tegas kepada komunis, maka 2019 nanti harus kita ganti,” sebut Mudrick.
Sarasehan kesaktian Pancasila ini juga dihadiri salah satu tokoh Cina dari Jakarta. Menurutnya, tak ada yang lebih banyak berkorban, selain umat Islam selama berjuang untuk bangsa Indonesia. Karena itu, dirinya mendukung jika ada etnis Cina yang dengan sengaja melakukan penistaan agama Islam untuk dihukum sesuai dengan undang-undang.
“Saya lebih senang dipanggil Cina daripada Tionghoa. Kalau pun ada yang menista agama Islam, maka harus dihukum. Jangan sampai MUI telah menyatakan menista, tapi negara masih ragu. Jika memang di negara kita ada ketidakadilan, maka ada yang tidak benar. Kalau ketenteraman antarumat beragama ini diusik, maka Indonesia yang lestari ini akan terganggu,” tandas Lius Sungkarisma.
Baca Juga
Lihat juga...