Mulai Turun Hujan, Petani di Lampung Sumringah

Editor: Mahadeva WS

201

LAMPUNG – Wilayah Lampung mulai dilanda hujan, dengan intensitas sedang hingga lebat, dalam tiga hari terakhir. Kondisi tersebut menguntungkan petani di Lampung Selatan, yang dalam beberapa hari terakhir harus menyedot air untuk mengairi sawah mereka.

Iwan, salah satu petani padi di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan menyebut, Meski hanya berintensitas sedang, air hujan cukup membantu proses pengairan sawah setengah hektar miliknya. Di awal musim kali ini, hujan turun di sore hingga malam hari.

Sawah yang semula kering, saat ini mulai teraliri air dan para petani memilih membendung air di sawah agar lahannya bisa tergenangi air. Pasokan air hujan memunculkan harapan setelah hampir dua bulan, Masa Tanam Ketiga (MT3) Dia harus mengeluarkan biaya ekstra untuk menyedot air.

“Sejak masa pengolahan lahan hingga tanaman padi berbuah saya melakukan proses penyedotan air minimal dua hari sekali, sudah hampir satu juta lebih biaya saya keluarkan untuk membeli bahan bakar premium menghidupkan mesin sedot,” ujar Iwan saat ditemui Cendana News, Kamis (20/9/2018).

Meski hujan tidak turun sehari penuh, namun potensi hujan yang turun dalam beberapa hari terakhir sudah dianggap menguntungkan petani. Selama hujan turun, bendungan di sungai kecil yang menjadi lokasi penampungan air mulai terisi penuh. Cadangan air tersebut, menjadi tambahan untuk mengairi sawah menggunakan mesin sedot, saat hujan tidak turun.

Petani memantau prakiraan cuaca dari BMKG, sehingga bisa melakukan antisipasi agar bisa tetap mendapatkan air untuk sawah mereka. Kebutuhan air untuk padi sawah varietas Ciherang, membutuhkan pasokan untuk jangka satu bulan ke depan. Padi yang dimiliki, masih berusia sekira 90 hari, dengan masa panen mencapai usia 120 hari.  “Hujan selama sepekan saja semua padi sawah milik petani terselamatkan dari kekeringan mendekati masa menguning,” tegas Iwan.

Sugiyono,Kepala Stasiun Maritim kelas IV, Badan Meteoroligi Klimatologi dan Geofisika (BMKG)Lampung [Foto: Henk Widi]
Terpisah, Kepala Stasiun Maritim Kelas IV Lampung Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Sugiyono menyebut, hujan lebat mulai berpotensi terjadi di seluruh wilayah Lampung. Berakhirnya badai tropis Mangkhut di sebelah Utara Filipina, menyebabkan perubahan pola cuaca, yang ditandai melemahnya aktivitas aliran massa udara kering dari Australia yang terpantau semakin menjauh dari wilayah Indonesia.

Selain berakhirnya badai tropis Mangkhut, telah terjadi peningkatan kelembaban udara yang cukup signifikan di wilayah atmosfer Lampung. Imbasnya, potensi awan awan hujan cukup besar akan terjadi hingga beberapa hari kedepan. Adanya pola sirkulasi siklonik di Laut Cina Selatan, peningkatan kelembaban udara basah di atmosfer pada ketinggian 1.500 hingga 3.000 meter, serta pembelokan arah angin, mengakibatkan pembentukan awan hujan di wilayah Lampung. “Kondisi dinamis atmosfer tersebut dapat meningkatkan potensi hujan lebat disertai kilat atau petir dan angin kencang,” terang Sugiyono.

Masyarakat di wilayah Lampung, perlu mewaspadai potensi hujan lebat disertai petir dalam beberapa hari ke depan. Wilayah yang rawan tersebut diantaranya, Bandar Lampung, Lampung Selatan, Pesawaran, Pringsewu, Tanggamus, Lampung Tengah, Metro, Lampung Utara, Pesisir Barat, Lampung Timur. Kondisi tersebut berpotensi terjadi pada siang hari, di wilayah Pesisir Barat dan Tanggamus terjadi pada malam dan dini hari.

Potensi gelombang setinggi 2,5 meter hingga empat meter, berpotensi terjadi di perairan Barat Lampung, Samudera Hindia Barat hingga Selat Sunda bagian Selatan, Perairan Enggano dan Bengkulu hingga perairan Selatan Pulau Jawa. BMKG maritim Lampung mengimbau, potensi hujan lebat bisa berdampak pada banjir, di sejumlah sungai. Selain itu potensi genangan, angin puting beliung, pohon tumbang, dan jalan licin.

Pengguna transportasi laut, diminta meningkatkan kewaspadaan, operator pelabuhan, Syahbandar serta nelayan dan sejumlah objek wisata bahari, juga diminta meningkatkan kewaspadaan. Potensi  gelombang tinggi di perairan perlu diwaspadai, dengan tidak melakukan aktivitas di tepi pantai saat terjadi gelombang tinggi.

Baca Juga
Lihat juga...