Olahan Jeruk Mantan Pramugari ini Ikut Dipasarkan di Singapura

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

171

BATAM — Banyak cara dilakukan orang untuk mengembangkan bisnis di tengah pelemahan ekonomi secara global. Misalnya yang dilakukan Rini Asmarianti, mantan pramugari Garuda ini mengolah jeruk kasturi menjadi sirup hingga selai. Bahkan hasil usaha gigihnya dipasarkan hingga ke Singapura.

Produk yang diberi nama D’fresh Rin Calamansi dikemas dalam tiga bentuk, kemasan, botol besar dan satu lagi botol kecil. Rini mengolah kulit jeruk jenis kasturi menjadi beberapa produk seperti manisan, sirup dan selai yang kaya akan vitamin C.

“Kalau khasiat-khasiat saya tidak berani ngomong, yang jelas ini vitamin C nya banyak untuk membakar lemak,” kata wanita asli Jawa-Medan itu.

Rini bercerita, munculnya ide produk tersebut karena ia pernah mengikuti pelatihan Pemerintah Kota Batam cara pengolahan mangga, nanas dan buah naga. Namun setelah mengikuti pelatihan, temannya menyarankan agar mengolah buah-buahan selain itu.

“Jadi dia suruh cari buah yang mudah didapatkan, dan banyak,” kata Rini saat dijumpai Cendana News di Batam, Sabtu (22/9/2018).

Saat itu terpikir untuk mengolah jeruk yang cukup melimpah di Kota Batam.

“Akhirnya saya coba mengolahnya,” kata Rini di stand pameran acara Kadin Kota Batam itu. Ia berencana akan terus mengembangkan dengan membuat selai atau mengolah biji jeruk menjadi produk baru.

Tiga bulan yang lalu hanya beberapa kali percobaan Rini berhasil meciptakan jeruk yang sering dipakai untuk ayam penyet tersebut menjadi manisan dan sirup. Sedangkan untuk produk selai masih dalam proses pengolahan.

Rini saat ini melakukannya pengolahan dengan manual di tempat tinggalnya Tanjung Riau, Batam. Baik mulai pengupasan hingga jadi manisan dan sirup.

“Jadi pertama kupas dulu, keluarkan biji dan lainnya,” kata Rini singkat.

Untuk produk jenis manisan itu berasal dari kulit jeruk sendiri. Sedangkan sirup berasal dari serabut yang ada di dalam jeruk.

Beberapa produk Rini mulai dari manisan, dan sirup di atas meja standnya. Foto: Yogi Eka Sahputra

Kegigihan Rini untuk menciptakan produk tersebut tidak sia-sia. Meskipun dalam proses perkenalan saat ini omsetnya mencapai 10 juta dalam satu bulan. Hal itu masih dilakukannya sendiri dan beberapa anggota keluarga lainnya.

“Ya saat ini yang penting perkenalan dulu,” katanya.

Pemasaran yang dilakukan Rini tidak muluk-muluk. Bahkan hingga ke Singapura. “Ada teman di sana (Singapura) jadi kalau dia balik bawa ini,” katanya.

Bahkan produk tersebut sudah diletakkan di beberapa toko yang ada di Singapura. Selain itu, pemasaran juga dilakukan Rini di Batam sendiri, produknya sudah ada di toko oleh-oleh yang berada di Nagoya Batam.

“Jadikan orang Singapura suka manisan kayak gini, Alhamdulillah lancar terus,” katanya. Begitu juga pemasaran via online juga dilakukan Rini.

Produknya sudah memiliki izin dinas kesehatan, sedangkan label halal masih dalam proses perizinan.

Setiap produk dijual dengan harga berbeda. Misalnya untuk manisan dalam kemasan ia jual Rp15.000 isi 150 gram, sedangkan sirup jenis original maupun campuran dijual dengan harga Rp35.000 per botol.

Baca Juga
Lihat juga...