Omzet Pelaku Usaha Pembibitan Ikan Gabus Turun 50 Persen

Editor: Koko Triarko

180
YOGYAKARTA – Sejumlah pelaku usaha budi daya pembibitan ikan gabus, mengeluhkan penurunan produksi akibat serangan penyakit white spot selama musim kemarau ini. Serangan penyakit berupa jamur itu diketahui menyerang koloni ikan hingga mengakibatkan 30 persen populasi mati. 
“Serangan white spot ini memang biasa terjadi saat musim kemarau. Penyebabnya perubahan parameter suhu air yang panas saat siang hari dan dingin ketika malam hari. Ini membuat ikan mudah stres dan menurunkan daya tahan tubuh. Sehingga ikan gampang terserang penyakit,” ujar Rohadi, salah seorang pembudidaya ikan gabusdi Desal Banyuraden, Gamping, Sleman.
Rohadi mengatakan, penyakit white spot sudah mulai menyerang bibit ikan sejak berusia 1 bulan atau sekitar 1-2 centimeter. Semakin besar ukuran dan usia ikan, maka serangan akan semakin berkurang seiring dengan semakin meningkatnya daya tahan tubuh ikan tersebut.
Salah seorang pelaku usaha pembibitan ikan gabus, Rohadi –Foto: Jatmika H Kusmargana
“Ciri ikan yang terkena white spot ini biasanya ada bercak putih di tubuhnya. Penyakit ini sangat mudah sekali menyebar, sehingga ikan yang terkena white spot harus segera dikarantina,” ujarnya.
Selain dikarantina, ikan yang terkena white spot juga harus segera diobati dengan memakai obat jamur. Parameter dan kualitas air juga harus selalu dijaga, baik itu suhu maupun PH.
Untuk menjaga suhu agar stabil, pembudidaya biasanya menggunakan alat pemanas atau hitter. Sementara untuk menjaga parameter air biasa dilakukan dengan memanfaatkan daging batang pisang atau daun ketapang.
Akibat banyaknya serangan penyakit white spot ini, produksi bibit ikan gabus milik Rohadi menurun drastis hingga 50 persen, sejak bulan Juli, lalu. Hal itu dikarenakan sangat sulit mencari bibit ikan gabus, baik itu dari hasil penangkaran maupun bibit hasil tangkapan alam.
“Dampaknya penjualan menurun. Jika biasanya dalam sebulan ssya bisa menjual 4.000-6.000 ekor bibit, sekarang ini paling cuma bisa menjual sekitar 1.000-2.000 ekor bibit saja per bulan,” kesahnya.
Rohadi mengaku lebih fokus pada usaha budi daya pembibitan ikan gabus, karena terkendala keterbatasan lokasi. Sehingga, ia hanya menjual bibit ikan gabus mulai dari ukuran 4-6 centimeter, 5-7 centimeter hingga 7-9 centimeter.
Baca Juga
Lihat juga...