Ongkos Produksi Meningkat, Harga Jual Bawang Merah Jatuh

Editor: Mahadeva WS

262

YOGYAKARTA – Seperti di musim-musim panen sebelumnya, harga komoditas bawang merah di tingkat petani di Bantul kembali jatuh. Kondisi tersebut selalu terjadi, seperti saat memasuki masa panen raya seperti sekarang ini. 

Di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, harga bawang merah di tingkat petani terpantau hanya berkisar Rp8 ribu sampai Rp10 ribu per kilogramnya. Harga jual di tingkat petani tersebut, jauh menurun dibandingkan musim panen bawang merah sebelumnya yang mencapai Rp13 ribu per kilogram.

“Harga untuk musim panen kali ini jauh menurun. Untuk bawang merah kualitas sedang, hanya dihargai Rp8.000 per kilogram. Sedangkan untuk kualitas bagus Rp10 ribu. Padahal pada musim panen bulan Mei lalu, saya bisa jual hingga Rp13 ribu per kilo,” ungkap salah seorang petani bawang merah, Wurtijo, warga Wulugading Srigading Sanden Bantul, Selasa (4/9/2018).

Banyaknya petani dari berbagai daerah baik DIY maupun Jawa Tengah yang memanen secara bersamaan, dinilai menjadi penyebab jatuhnya harga komoditas bawang merah di tingkat petani saat ini. Para petani bawang merah, menyatakan kerugian mereka semakin bertambah, akibat naiknya ongkos atau biaya produksi.

petani bawang merah asal Tegalsari, Srigading, Sanden, Bantul Supri – Foto: Jatmika H Kusmargana

Di musim kemarau ini, terjadi peningkatan ongkos produksi secara drastis, akibat tidak adanya pengairan dari saluran irigasi. Petani terpaksa menggunakan pompa air, untuk mengairi lahan mereka sejak awal tanam hingga masa panen tiba. “Selain harga jual jatuh, petani disini semakin merugi, karena sudah mengeluarkan biaya ongkos produksi berlipat, akibat harus menggunakan pompa air setiap menyiram. Itu karena sedang ada perbaikan saluran air sehingga irigasi tidak mengalir,” ungkap petani bawang merah lainnya, Supri, asal Tegalsari, Srigading, Sanden, Bantul.

Menanam bawang merah di lahan seluas kurang lebih 2.800 meter persegi, Supri membutuhkan biaya Rp50ribu untuk sekali penyiraman. Padahal Dia harus menyiram lahan, saat tanaman masih berusia 0 hari hingga masa panen tiba, atau sekitar 60 hari.

Dari lahan seluas 2.800 meter persegi, Supri saat ini mampu memanen sekitar tiga ton bawang merah. Hasil tersebut dinilainya masih cukup bagus, meski belum sepenuhnya maksimal. “Untuk hasil panen sebenarnya cukup bagus. Tapi petani tetap saja merugi, karena harga jual jatuh. Padahal kita sudah keluarkan banyak biaya untuk perawatan. Dari lahan seluas kurang lebih 2.800 meter persegi ini setidaknya butuh modal Rp20 juta. Sementara hasilnya hanya dapat Rp25 juta. Itu pun biaya tenaga belum dihitung,” ungkapnya.

Petani bawang seperti Supri hanya bisa berharap, pemerintah mau membeli atau menyerap hasil panen milik petani dengan harga wajar. Hal tersebut akan sangat membantu para petani agar tidak merugi. “Kalau bisa pemerintah beli panenan petani dengan harga normal. Karena memang di pasaran harga jual juga cukup tinggi. Mencapai Rp15 ribu lebih. Tapi di tangan tengkulak panenan petani hanya dibeli Rp8 ribu saja,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...