Orem-orem, Kuliner Khas Malang yang Kian Langka

Editor: Koko Triarko

261
MALANG – Orem-orem merupakan salah satu panganan khas Malang, Jawa Timur, selain bakso, yang wajib dicoba para pecinta kuliner, khususnya mereka yang  gemar dengan masakan berkuah santan. Namun sayangnya, saat ini hanya sedikit saja pedagang yang masih menjajakannya, sehingga sulit mendapatkannya.
Hal ini diakui Alex Suprapto, salah satu penjual Orem-orem Arema di kawasan jalan Blitar, kota Malang. “Di Malang sendiri, penjual Orem-orem hanya tersisa lima sampai enam orang saja,” ujarnya, kepada Cendana News, Sabtu (29/9/2018).
Dikatakan Alex, jarangnya penjual Orem-orem di Malang lebih disebabkan generasi penerus atau anak-anaknya tidak ada yang mau melanjutkan usaha orang tuanya untuk berjualan Orem-orem.
Orem-orem telur dan ayam –Foto: Agus Nurchgaliq
Padahal, menurut Alex, penggemar Orem-orem di Malang masih cukup banyak. Terbukti, dalam sehari dirinya bisa menjual 200 porsi Orem-orem.
Hal ini berbeda dengan dirinya yang justru senang meneruskan usaha Orem-orem Arema yang telah dirintis orang tuanya sejak 1995.
“Bapak saya dulu mulai berjualan Orem-orem sejak 1995 dengan cara berkeliling selama tiga tahun, sebelum akhirnya menetap di jalan Blitar. Tapi, setelah Bapak meninggal, saya yang meneruskannya. Jadi, saya generasi kedua,” katanya.
Alex menjelaskan, Orem-orem sebenarnya makanan berbahan utama irisan tempe yang dimasak bersama dengan kuah santan. Disajikan bersama dengan irisan ketupat dan tauge, dalam satu mangkok yang kemudian disiram dengan kuah santan bercampur irisan tempe yang telah dimasak bersama aneka bumbu dapur dan bumbu rahasia turun-temurun.
Orem-orem Arema kaya akan rempah dan memiliki cita rasa gurih dan manis. “Bagi yang suka manis dan pedas, bisa ditambahkan kecap serta sambal,” ujarnya.
Sedangkan sebagai pelengkap, juga bisa ditambahkan telur asin maupun ayam. “Untuk Orem-orem biasa, harga per porsi tujuh ribu rupiah, orem-orem pakai telur asin sepuluh ribu rupiah, dan orem-orem pakai ayam sebelas ribu rupiah,” terangnya.
Selain itu, untuk menjaga kuah santan agar tetap panas, Alex tidak menggunakan kompor gas, tapi justru menggunakan arang. Menurutnya, selain lebih hemat, penggunaan arang juga bisa menambah cita rasa pada masakannya.
“Kalau menggunakan kompor, suhunya akan sangat panas sekali, sehingga santan akan mudah pecah. Sedangkan jika menggunakan arang, tetap panas tapi tidak terlalu panas dan santan tidak pecah,” ungkapnya.
Hal ini juga yang membuat cita rasa Orem-orem Arema tetap terjaga dan tidak pernah kehilangan pelanggannya.
“Untuk pelanggan berasal dari berbagai kalangan, mulai mahasiswa sampai karyawan kantoran. Tapi yang paling banyak memang mahasiswa, karena lokasinya yang berdekatan dengan Universitas Negeri Malang,” pungkasnya.
Baca Juga
Lihat juga...