Panen Masa Tanam Ketiga di Lampung Selatan Turun

Editor: Mahadeva WS

216

LAMPUNG – Kemarau, berdampak berkurangnya pasokan air bagi lahan pertanian di Lampung Selatan. Kondisi tersebut membuat produktifitas padi hasil panen musim tanam ketiga menjadi menurun.

Mulyono (40), salah satu petani padi sawah, di Desa Kelaten, Kecamatan Penengahan menyebut, dampak dari kemarau, sawahnya yang ditanami padi Ciherang kurang mendapatkan pasokan air. Kekurangan air terjadi saat memasuki masa pemupukan pertama, sehingga berakibat produksi padi saat panen menurun.

Produksi padi yang menurun, sesuai dengan perbandingan masa tanam pertama dan kedua yang masuk pada musim penghujan (rendengan). Pada dua musim tanam sebelumnya, Mulyono bisa menghasilkan gabah kering panen (GKP) 5 ton perhektar.

Namun, pada masa tanam ketiga (MT3) yang bertepatan dengan musim kemarau (gadu), Dia hanya bisa memperoleh hasil empat ton. Hasil panen yang menurun secara kuantitas tersebut, membuatnya memilih menyimpan gabah kering panen dan tidak berniat menjualnya. “Hasil panen masa tanam ketiga kualitas padi bagus karena minim hama penyakit tetapi dampak kurangnya pasokan air kuantitas rumpun padi dan bulir padi menurun sehingga produksi merosot,” ujar Mulyono, saat ditemui Cendana News, Kamis (6/9/2018).

Meski ada fasilitas saluran irigasi permanen, akibat hujan belum turun, tanaman padi tetap tidak bisa tumbuh maksimal. Anggota Kelompok Tani (Poktan) Sido Makmur, yang memiliki lahan seluas 50 hektar, masih mengandalkan air dari saluran irigasi sungai kecil di wilayah tersebut. Namun, adanya kegiatan pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) berdampak, sungai sumber irigasi petani tertutup.

Petani memilih menyimpan hasil panen, juga dipengaruhi oleh kebutuhan paska bulan besar sebelum bulan Suro, atau Tahun Baru Islam. Warga bersuku Jawa di daerah tersebut, banyak menggelar hajatan pernikahan. “Sebagian petani seperti saya memilih menjual dalam bentuk beras yang sudah digiling, karena lebih mahal dibanding menjual dalam bentuk gabah,” terang Mulyono.

Mulyono menyebut, harga gabah kering panen pada masa panen di awal September harganya murah, hanya Rp3.800 perkilogram atau Rp380.000 perkuintal. Sementara pada masa tanam sebelumnya, gabah kering panen dijual ke pedagang hingga Rp400.000 perkuintal atau Rp4.000 perkilogram.

Lahan persawahan yang berada di kontur perbukitan, membuat proses pemanenan masih menggunakan alat mesin perontok tradisional. Pola tersebut dilakukan dengan bagi hasil antara pihak penanam, dan pemilik padi yang dikenal dengan sistem ceblok. Saat hasil panen mencapai enam ember, maka yang lima ember menjadi hak pemilik sawah. Dan satu ember menjadi milik penanam. Alat perontok padi dengan mesin disebutnya, sulit digunakan di wilayah tersebut akibat areal persawahan yang tidak rata.

Hasan (38), petani di Desa Tanjungheran, Kecamatan Penengahan juga mengalami penurunan produksi panen. Di kondisi normal, hasil panen padi dari lahan seluas satu hektar adalah enam ton. Namun kini, hanya menghasilkan lima ton. Ia sengaja tidak menjual padi hasil panen, untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Selain itu, saat ini harga gabah masih cukup rendah. “Menggunakan padi hasil panen sawah lebih hemat dibandingkan harus membeli beras dari toko beras atau di tempat penggilingan padi,” terang Hasan.

Gabah kering sebanyak lima ton, sebagian disimpan di tempat penggilingan padi. Hal itu, menjadi salah satu tradisi turun temurun, dengan menjadikan tempat penggilingan sebagai lumbung. Kesepakatan antara pihak pemilik penggilingan dengan pemilik padi, dilakukan dengan sistem bagi hasil.

Baca Juga
Lihat juga...