Panglong Kayu Ikut Sokong Usaha Pembuatan Batu Bata di Lamsel

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

363

LAMPUNG — Keberadaan usaha jual beli kayu yang dikenal dengan panglong oleh warga Lampung Selatan kian menjamur, bahkan mulai muncul di setiap desa. Usaha tersebut memanfaatkan potensi usaha penanaman berbagai jenis seperti sengon, mahoni, jati ambon, serta yang tumbuh secara liar jenis bayur, medang serta lainnya.

Samuri (45) warga Desa Rawi, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan menyebutkan, usaha panglong telah ditekuni olehnya selama beberapa tahun. Berbagai jenis kayu tersebut dipotong menggunakan mesin serkel (circular saw) untuk membelah.

Samuri mengungkapkan berbagai kayu tersebut dibuat menjadi reng, kaso, balok, papan untuk keperluan bahan bangunan. Bahan baku dibeli dengan sistem borongan dari petani, selanjutnya diolah sesuai ukuran berbentuk batang sepanjang dua hingga empat meter.

“Harga kayu bahan yang sudah selesai dibuat bervariasi. Berkisar Rp100.000 hingga Rp2 juta menyesuaikan jenis dan jumlah yang dijual,” sebutnya saat ditemui Cendana News, Sabtu (22/9/2018).

Selain mendapatkan hasil dari menjual kayu olahan, Samuri juga mendapat keuntungan dengan menjual sebetan atau sisa limbah untuk bahan pembakaran genteng dan batu bata.

Karung berisi limbah penggergajian kayu, sekam padi digunakan sebagai pelengkap pembakaran batu bata [Foto: Henk Widi]
Selain sebetan jenis limbah yang masih bisa dimanfaatkan berupa serbuk gergaji yang kerap dipergunakan untuk alas peternakan sapi, bahan bakar pembakaran batu bata. Limbah yang tidak digunakan tersebut kerap sudah dipesan oleh pemakai sehingga sengaja tidak dibakar.

“Para pembuat genteng dan batu bata, rumah makan besar kerap memesan kayu untuk bahan bakar dari jenis sebetan atau kayu sisa pengolahan,” terang Samuri.

Hubungan saling menguntungkan tersebut sudah berlangsung cukup lama seiring sulitnya mencari bahan bakar. Kayu tidak terpakai sisa penggergajian dibeli oleh pemilik usaha pembuatan batu bata dengan harga Rp300 ribu untuk ukuran kendaraan L300. Harga yang sama juga diterapkan bagi sejumlah pemilik restoran yang masih memanfaatkan kayu untuk memasak.

Keberadaan para pembuat batu bata, genteng membuat permintaan mencapai puluhan kendaraan. Meski demikian limbah kayu tersebut selalu tersedia selama proses penggergajian kayu dengan mesin serkel masih berjalan.

“Semakin banyak yang memesan ikut membantu saya membersihkan limbah kayu agar tidak menumpuk dalam jumlah banyak di sekitar panglong sekaligus menghasilkan uang,” terang Samuri.

Subardi (50) warga Dusun Blora, Desa Sukamulya, Kecamatan Palas, mengaku kebutuhan limbah kayu gergajian sangat tinggi. Sebetan atau limbah kayu gergajian kerap dibeli dengan jumlah mencapai empat hingga lima mobil menjelang waktu membakar batu bata atau genteng.

Harga limbah kayu yang dibeli dari panglong seharga Rp300 ribu per mobil membuat ia harus mengeluarkan sekitar Rp1,5juta untuk sekali proses pembakaran batu bata.

“Selain kayu sebetan limbah gergajian, saya juga membeli serbuk gergaji untuk disusun pada sela sela susunan bata saat dibakar,” beber Subardi.

Baca Juga
Lihat juga...