Partisipasi Pemilih Pilkada 2018 di NTT di bawah Target Nasional

Editor: Koko Triarko

1.474
Asisten II bidang pemerintahan Setda Sikka, Konstantinus Tupen. -Foto: Ebed de Rosary
MAUMERE – Tingkat partisipasi pemilih dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 di NTT, ternyata masih di bawah target nasional.
“Target partisipasi pemilih secara nasional 77,5 persen, sementara di NTT dari jumlah pemilih terdaftar 3.252.374 atau 3,25 juta pemilih, partisipasinya hanya 73,89 persen,” sebut Yosafat Koli, komisioner KPU provinsi NTT, Kamis (6/9/2018).
Dikatakan Yosafat, capaian ini tentu didongkrak dari setiap kabupaten dan kota dan ada yang melewati target, dan ada yang sangat jauh di bawah target, di mana yang belum mencapai target kita harapkan, agar saat Pileg dan Pilpres 2019 bisa memperbaiki kinerja dan partisipasi pemilih bisa mencapai target, bahkan melampaui.
“Untuk tingkat provinsi kabupaten Ende yang paling tinggi. Partisipasi pemilihnya 86,45 persen dengan jumlajh pemilih 139.938 orang, tersebar di 21 kecamatan, 278 desa dan kelurahan serta 675 Tempat Pemungutan Suara (TPS),” bebernya.
Kabupaten Alor berada di peringkat kedua, dengan partisipasi pemilihnya 83,08 persen, dengan jumlah pemilih 113.732 orang, disusul kabupaten sebesar 82,57 dengan jumlah pemilih 160.551 orang tersebar di 21 kecamatan dan 160 desa kelurahan serta 555 TPS.
“Peringkat kelima ditempati kabupaten Nagekeo dengan partisipasi pemilih 81,02 persen, dengan jumlah pemilih 77.274, diisusul oleh kabupaten Kupang dengan tingkat partisipasi 78,41 persen, dengan jumlah pemilih 165.678,” sebutnya.
Paritisipasi pemilih terendah ada di kabupaten Sumba Barat, dengan jumlah partisipasi 59,94 persen dari jumlah partisipasi pemilih sebanyak 45.456 orang, disusul Malaka sebanyak 62,17 persen, di mana jumlah partisipasi pemilihnya 75.312 dari total pemilih 121.136 orang.
Peringkat ketiga partisipasi pemilih terbesar, tambah Yosafat, terdapat di kabupaten Belu dengan persentase 64,14 di mana pemilih yang berpartisipasi 80.707, disusul Sumba Barat Daya sebesar 67,61 persen, dengan jumlah pemilih yang mencoblos 148.875, disusul Sabu Raijua sebesar 68,37 persen atau hanya 35.429, yang memberikan suara dari total pemilih 51.820 orang.
“Tentu masih banyak kabupaten dan kota yang persentasenya jauh di bawah target nasional, sehingga kita berharap dengan adanya evaluasi ini bisa menaikkan persentase saat Pilpres dan Pileg 2019 nanti,” harapnya.
Konstantinus  Tupen, asisten II Setda Sikka menambahkan, dalam setiap kesempatan Pilakda maupun Pileg-Pilpres, pasti yang diinginkan adalah partisipasi masyarakat tinggi, sebab memberikan suara merupakan hak setiap warga negara dan jangan sampai rakyat tidak terlibat dalam setiap iven pemilu.
“Untuk kabupaten Sikka, partisispasi pemilih di Pilkada 2018 tergolong tinggi sebesar 82 persen, sementara Pilkada lima tahun lalu partisipasi pemilihnya hanya 76 persenm sehingga ini sebuah keberhasilan yang harus ditingkatkan,” sebutnya.
Pemerintah, kata, Kons sapaannya, selalu berupaya mendorong warga untuk merekam KTP Elektronik, bahkan jemput bola dengan melakukan perekaman data di setiap kecamatan, namun banyak warga yang belum memanfaatkan kesempatan ini.
“Pemerintah juga bersama KPU kabupaten Sikka selalu melakukan sosialisasi, dan mengimbau agar warga bisa membuat KTP Elektronik dan terdaftar dalam daftar pemilih,” pungkasnya.
Lihat juga...