Pasar Produk Pertanian Organik Semakin Terbuka

Editor: Mahadeva WS

284
Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Ir. Gatut Sumbogodjati (kiri) dan Anggota Komisi IV DPR RI, AA Bagus Adhi Mahendra Putra - Foto: Sultan Anshori

BADUNG – Pasar produk-produk pertanian organik, ke depan akan semakin terbuka lebar. Produk pertanian organik, bukan saja semakin dibutuhkan konsumen lokal, tetapi juga oleh konsumen luar negeri.

Bali, direncanakan pada Desember 2018 mendatang, akan mengirim beras ke Amerika Serikat. Hal tersebut memperlihatkan, peluang ekspor produk pertanian organik sangat tinggi.  “Jadi usaha pertanian organik ini akan sangat menguntungkan bagi petani karena harganya jauh lebih tinggi. Apalagi di Bali yang banyak wisatawannya,” ujar Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Ir. Gatut Sumbogodjati, Kamis, (6/9/2018).

Gatut menyebut, harga produk organik bisa berlipat ganda dibandingkan dengan harga produk non organik. Oleh karenanya, keberadaan pertanian organik akan sangat menguntungkan. Khusus beras, pemerintah berharap, bisa dibudidayakan dengan baik secara berkelompok.

Hal itu dimaksudkan, agar produksinya terjaga, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Terutama jika akan menembus pasar ekspor. Dalam konteks itu, pemerintah telah melakukan pembinaan ke petani, dan membantu dengan peralatan pascapanen, sehingga dihasilkan produk berkualitas ekspor.

Dengan peralatan khusus, kualitas beras yang dihasilkan jauh lebih bagus. Sehingga bisa meningkatkan pendapatan petani. “Kita bantu petani di Desa Piling berupa alat pemisah beras khususnya beras merah yang dihasilkan di daerah tersebut,” tandasnya.

Anggota Komisi IV DPR RI, AA Bagus Adhi Mahendra Putra menegaskan, produk pertanian Bali sudah sejak dulu bisa menembus pasar antar pulau serta ekspor. Namun, dalam upaya meningkatkan kuantitas, kualitas dan daya saing, maka teknologi mulai penanganan lahan, panen hingga pasca panen harus diperhatikan.

Bahkan untuk produk organik, lahan yang digunakan mesti sudah betul-betul siap untuk pertanian organik, semacam ada sertifikasinya. “Keterampilan dan pengetahuan petani juga harus ditingkatkan. Jangan petani hanya tahu mencangkul, tapi juga cara-cara berbisnis sehingga bisa naik kelas jadi pengusaha,” pungkasnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.