Pascareformasi, PKI Dapat Angin Baru dan Bangkit Lagi

Editor: Koko Triarko

333
JAKARTA – Taufiq Ismail termasuk seorang penyair dan sastrawan yang getol menentang PKI (Partai Komunis Indonesia). Bersama DS. Moeljanto, ia menulis buku Prahara Budaya: Kilas-balik Ofensif Lekra/PKI yang berisi kumpulan dokumen pergolakan sejarah.
Kini, Taufiq menganggap pengusung Marxisme-Leninisme-Maoisme Indonesia bukan ideologis, karena ideologi ini sudah bangkrut total, tapi mengusung dendam, ini yang harus bersama diredam.
“Ideologi komunis yang mendominasi dunia selama 74 tahun (1917-1991) sudah bangkrut, di mana 28 negara sosialis-komunis bergelimpangan, yang semua itu mengisyaratkan ideologi Marxisme-Leninisme-Maoisme telah gagal total,“ kata Taufiq Ismail, saat menjadi pembicara dalam diskusi buku ‘Dari Kata Menjadi Senjata’, yang ditulis Beggy Rizkiyansyah, di Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq (MABAS) Lt 4, Jl. Otista Raya No, 411 Cawang, Jakarta Timur, Minggu (30/9/2018).
Lelaki kelahiran Bukittinggi, Sumatra Barat, 25 Juni 1935, itu membeberkan, bahwa di Indonesia sudah tiga kali PKI mencoba merebut kekuasaan, yaitu pada 1926, 1948 dan 1965.
“Dua kali di antaranya, yaitu 1948 dan 1965, perang saudara berdarah-darah. Ketiga-tiganya gagal,“ bebernya.
Setelah era reformasi, kata Taufiq, mereka mendapat angin baru lagi, dan bangkit lagi dengan berbagai cara. “Diskusi ini penting untuk merenungkan kembali semuanya ini, agar kebangkitan komunis patut dicegah, karena terbukti sudah tiga kali PKI mencoba merebut kekuasaan dengan cara keji dan sadis,“ ungkapnya.
Taufiq menilai, apa yang dilakukan PKI memang menghalalkan segala cara. Apa pun yang ingin dicapai PKI, cara yang digunakan bebas untuk dipilih.
Menurut Taufiq, ada 18 cara yang diajar-latihkan terus-menerus dalam kursus kader Partai Komunis. “Ke-18 cara itu di antaranya berdusta, memutar-balik fakta, memalsukan dokumen, intimidasi, bersikap keras, berkara kasar, mencaci maki, menyiksa, memperkosa, menipu, memfitnah, memeras, merusak, membumihangus, membunuh, membantai,“ paparnya.
Taufiq menyebut, perilaku yang paling ringan adalah berdusta dan memutar balik fakta, yang terberat adalah membunuh dan membantai. “Karena keyakinan ideologis ini, akhirnya dalam pelaksaaan riil untuk menakut-takuti mereka yang menghalangi pelaksanaan program kerja Partai Komunis, 120 juta nyawa manusia dihabisi dalam masa 74 tahun di 75 negara,“ urainya.
Taufiq memuji buku yang ditulis Beggy, yang dinilainya sangat terpuji dan tidak tanggung-tanggung, 500 halaman yang tentu makan waktu lama penulisannya, dan perlu dibaca. “Saya menganjurkan apa yang ada dalam buku ini untuk terus didiskusikan,“ tegasnya.
Buku Prahara Budaya yang disusun bersama DS. Moeljanto, juga sebaiknya didiskusikan. “Buku-buku ini memang mengingatkan kita tentang sejarah kelam pada masa silam, yang bisa menjadi pelajaran kita bersama, agar ke depan tidak terulang,“ tandasnya.
Baca Juga
Lihat juga...