Pasokan Air Gunung Rajabasa Untungkan Pemilik Kolam Ikan

Editor: Satmoko Budi Santoso

193

LAMPUNG – Musim kemarau di wilayah Lampung masih berlangsung hingga pekan kedua bulan September. Berdampak bagi pasokan air lahan pertanian dan pembudidaya ikan air tawar.

Meski kemarau melanda namun sejumlah pemilik kolam ikan anggota kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan) Way Muloh masih tetap beroperasi.

Rahmat, pengurus Pokdakan Way Muloh Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan menyebut, budidaya ikan air tawar tidak terpengaruh kemarau di wilayah tersebut.

Rahmat menyebut, potensi air tawar dari Gunung Rajabasa masih bisa digunakan oleh warga untuk pengairan lahan sawah, perikanan serta air bersih. Khusus untuk Pokdakan Way Muloh beranggotakan sebanyak 20 orang sebagai pembudidaya ikan untuk pemijahan, penyiapan benih ikan serta pembesaran.

Salah satu anggota Pokdakan Way Muloh melakukan panen ikan Nila dari kolam tanah memanfaatkan air Gunung Rajabasa [Foto: Henk Widi]
Pemanfaatan air dari sumber Gunung Rajabasa yang mengalir melalui Sungai Way Muloh membuat kolam air tawar di wilayah tersebut baik sistem terpal, kolam tanah dan semi kolam semen bundar, masih produktif.

Rahmat menyebut, air dari Gunung Rajabasa dialirkan dengan menggunakan selang serta mengalir tanpa henti. Jenis ikan yang dibudidayakan merupakan ikan Nila, Lele Mutiara, Gurami.

Sementara sebagian pemilik kolam anggota Pokdakan Way Muloh memelihara ikan Patin dan Mujahir. Sesuai data dari Dinas Perikanan Lampung Selatan, ia menyebut, luasan lahan kolam mencapai 8,57 hektar tersebar di sebanyak 18 desa di kecamatan Penengahan.

“Pokdakan Way Muloh hanya salah satu dari kelompok yang memanfaatkan sumber air Gunung Rajabasa. Saat wilayah lain kekurangan air untuk budidaya ikan air tawar kami masih bisa memenuhi kebutuhan kolam air tawar,” beber Rahmat, pengurus Pokdakan Way Muloh saat ditemui Cendana News, Senin (17/9/2018).

Imbas dari kemarau, Rahmat menyebut, sejumlah kolam budidaya ikan air tawar di wilayah Kecamatan Penengahan bahkan berhenti operasi. Meski demikian, Rahmat memastikan dengan adanya air yang lancar dari Gunung Rajabasa, sejumlah pembudidaya ikan masih tetap melakukan kegiatan budidaya ikan.

Rahmat yang memijahkan ikan air tawar jenis Lele dan Gurami mengaku, masih bisa memasok puluhan ribu benih bagi pembudidaya ikan konsumsi.

Paranet atau waring digunakan mengatasi penguapan pada kolam terpal selama musim kemarau [Foto: Henk Widi]
Pokdakan Way Muloh disebutnya masih bisa berproduksi saat kemarau bahkan mendapatkan bantuan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung. Bantuan tersebut diberikan setelah petugas penyuluh perikanan melakukan survei, verifikasi keabsahan kelompok sekaligus keaktifan kelompok dalam upaya budidaya ikan air tawar.

Bibit ikan bersertifikat yang diberikan berupa indukan ikan Lele Mutiara sebanyak 15 ekor di antaranya 5 jantan dan 10 betina. Selain itu, Pokdakan Way Muloh juga mendapatkan 12 ekor indukan ikan Gurami 2 jantan serra 10 ekor betina.

“Bantuan indukan diberikan agar pasokan benih ikan bisa kami sediakan sehingga pembudidaya ikan tidak perlu membeli dari daerah lain,” beber Rahmat.

Cara mengatasi musim kemarau untuk budidaya ikan air tawar  dilakukan dengan menggunakan paranet atau waring. Paranet tersebut digunakan di kolam pemijahan menghindari kolam ikan mengalami kenaikan suhu selama kemarau.

Sistem sirkulasi air di kolam air tawar yang lancar dari Gunung Rajabasa bahkan menguntungkan pembudidaya ikan tanpa harus menggunakan aerator listrik. Jutaan benih ikan Lele, Nila, Gurami disebutnya sudah didistribusikan ke pembudidaya ikan di sejumlah desa bahkan hingga kecamatan lain di Lampung Selatan.

Pokdakan Way Muloh, salah satu Pokdakan pembudidaya ikan untuk pemijahan dan pembesaran ikan air tawar [Foto: Henk Widi]
Pemilik kolam tanah di Desa Pasuruan, Tukimin, menyebut saat kemarau tidak berdampak signifikan bagi pembudidaya ikan air tawar. Pasalnya, bermodalkan selang sepanjang 100 meter, ia bisa menyalurkan air ke bak penampungan untuk mandi dan sebagian dialirkan ke kolam ikan Mas, Nila dan Gurami.

Ikan air tawar yang dibudidayakan di kolam air tawar tersebut bahkan selain bisa dikonsumsi sendiri bisa dijual ke sejumlah pemilik usaha warung kuliner.

Tukimin menyebut, pasokan air lancar sekaligus mendukung sektor usaha pemijahan yang dimilikinya. Proses pemijahan membuat ia bisa menjual benih ikan lele mulai ukuran 7 centimeter seharga Rp250 hingga maksimal Rp1.000, benih ikan Nila seharga Rp500 dan benih ikan Gurami seharga Rp1.000 seukuran ibu jari orang dewasa.

Sementara jenis ikan konsumsi per kilogram dijual Rp18.000 untuk ikan Lele, Rp20.000 untuk ikan Nila, Rp45.000 untuk ikan Gurame per kilogram.

“Konsumen menyukai hasil budidaya dari anggota Pokdakan Way Muloh karena dibudidayakan di kolam air mengalir,” beber Tukimin.

Kelebihan sektor budidaya ikan air tawar di kaki Gunung Rajabasa tersebut, diakui Tukimin, selain lancarnya pasokan air juga pasokan benih. Saat musim kemarau sejumlah pemilik usaha pemijahan ikan air tawar berhenti beroperasi, pemijahan ikan di Desa Pasuruan masih beroperasi.

Harga yang bersaing dengan pemilik pemijahan di Lampung Selatan membuat kebutuhan benih ikan terus diproduksi menggunakan indukan berkualitas yang telah mendapat sertifikat dari Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Baca Juga
Lihat juga...