Pedagang Buah Mulai Terdampak Melemahnya Rupiah

Editor: Koko Triarko

206
LAMPUNG – Dampak melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, mulai  dirasakan oleh sejumlah pedagang buah di Lampung. Sebagian buah impor, seperti anggur, kiwi, jeruk, apel,pir, kelengkeng, mulai sepi pembeli.
Anita (23), pedagang buah impor di pasar Bakauheni, Lampung Selatan, mengatakan, semua jenis buah impor tersebut sudah mengalami kenaikan sebesar Rp5.000 hingga R10.000 per kilogram.
Kenaikan harga buah sejak dari distributor tersebut, diakui Anita sudah terjadi sejak nilai tukar rupiah mencapai Rp13.500 hingga terakhir pada Kamis (6/9), mencapai Rp14.875 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah tersebut diakui Anita membuat nilai beli buah impor semakin naik, dan saat dijual ke konsumen ikut terdongkrak untuk menyesuaikan modal.
Anita, pedagang buah impor [Foto: Henk Widi]
Anita menyediakan 10 hingga 15 karton buah dan kemasan khusus saat kondisi normal. Namun, kini hanya menyediakan 10 karton buah impor.
“Sebagian buah yang saya jual merupakan buah impor, tapi karena pembeli mulai sepi dampak mahalnya buah impor, saya sediakan juga buah lokal yang lebih murah,” terang Anita, saat ditemui Cendana News, Kamis (6/9/2018).
Anita menyebut, jenis buah impor, di antaranya jeruk mandarin, apel merah Amerika, apel Fuji, pir Thailand, kelengkeng Thailand, Kiwi Australia, naik rata-rata Rp5000 hingga Rp10.000 per kilogram. Jenis jeruk mandarin yang semula dijual Rp30.000 menjadi Rp35.000 per kilogram, pir Thailand semula Rp20.000 per kilogram dijual Rp25.000. Anggur semula Rp35.000 dijual Rp40.000 per kilogram. Lemon impor semula Rp70.000 menjadi Rp75.000 per kilogram.
Beberapa jenis buah impor tersebut diakuinya mengalami kenaikan menyesuaikan kurs rupiah terhadap dolar.
Ia menyebut, sengaja menaikkan harga untuk menghindari kerugian, meski sebagian buah terpaksa dijual dengan harga modal untuk menutup modal.
Beruntung, Anita juga menjual sejumlah buah lokal, seperti buah naga merah, salak pondoh, melon, jambu air, jeruk medan, mangga, nanas, manggis dan buah lokal lainnya.
Sesuai dengan kalkulasi selama dolar naik terhadap rupiah, Anita memastikan menjual buah impor justru, rugi. Pasalnya, modal untuk membeli barang dari distributor sudah cukup mahal dan penjualan, lesu.
Ia pun memilih memperbanyak buah lokal, agar bisa menutupi kerugian berjualan buah impor. Harga buah lokal disebutnya cukup stabil, di antaranya manggis dijual Rp20.000 per kilogram, melon Rp8.000 per kilogram, pepaya kalina Rp15.000 per buah, semangka merah Rp5.000 per kilogram, sirsak Rp15.000 per buah.
“Harapannya nilai tukar rupiah terhadap dolar segera turun, agar kami pedagang buah yang sebagian impor tidak merugi,” beber Anita.
Nilai tukar rupiah yang terus tergerus memberi dampak negatif bagi pedagang buah impor, justru memberi dampak bagi petani dan pedagang buah lokal.
Kadeni (50), pemilik lahan jeruk siam Banyuwangi, menyebut permintaan buah jeruk yang ditanam di Dusun Solo, Desa Tanjungsari, Kecamatan Palas, justru meningkat.
Permintaan berasal dari sejumlah pedagang lokal, karena ia masih menjual buah tersebut dengan harga Rp8.000 ukuran sedang dan Rp10.000 ukuran besar.
Menurutnya, buah jeruk siam Banyuwangi menjadi pilihan bagi sejumlah pedagang yang kerap mengambil buah jeruk sebanyak 100 kilogram per hari. Sejumlah pedagang besar, bahkan kerap mengambil sebanyak 500 kilogram buah jeruk per hari langsung dari kebun miliknya.
Buah jeruk siam yang dijual lebih murah dari jeruk impor dengan selisih Rp10.000 hingga Rp15.000 per kilogram, membuat banyak konsumen memilih membeli buah lokal.
“Petani ikut diuntungkan, karena permintaan buah lokal tinggi. Namun tidak serta merta harga saya naikkan, masih stabil harga seperti semula,” cetus Kadeni.
Suhar memperlihatkan buah jeruk siam Banyuwangi yang matang yang memiliki rasa segar [Foto: Henk Widi]
Suhar (39), pedagang buah, menyebut saat musim buah jeruk siam Banyuwangi ia lebih memilih berjualan jeruk. Saat musim buah-buahan lain, di antaranya rambutan, semangka, melon, ia juga kerap menjual buah lokal tersebut dengan cara berkeliling dengan menggunakan motor. Modal kecil untuk membeli buah jeruk siam Banyuwangi disebutnya masih bisa memberi keuntungan.
Suhar menjual buah jeruk sebanyak 100 kilogram dan habis terjual selama dua hari. Setelah barang dagangan habis, ia akan membeli ke kebun milik Kadeni.
Rasa khas buah jeruk siam Banyuwangi yang manis disertai asam segar, disukai konsumen, sebab harganya lebih murah dibandingkan jeruk impor.
Selain bagi konsumen perseorangan, Suhar juga kerap menjual buah jeruk siam Banyuwangi kepada pedagang es buah yang lebih efesien menggunakan buah jeruk lokal.
Lihat juga...

Isi komentar yuk