Pembangunan Tanggul Raksasa, Cegah Banjir

Editor: Satmoko Budi Santoso

197
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di Balai Kota DKI Jakarta, Jakarta Pusat, Jumat (28/9/2018). Foto Lina Fitria

JAKARTA – Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, menuturkan, pembangunan tanggul laut raksasa atau giant sea wall di utara Jakarta harus dipertimbangkan ulang. Menurutnya yang dibutuhkan Jakarta adalah pembangunan tanggul pantai.

“Yang benar-benar dibutuhkan di Jakarta adalah tanggul pantai. Jadi, wall yang sepanjang pesisir pantai kita. Kenapa dibutuhkan? Karena tanah di Jakarta mengalami penurunan sementara permukaan air laut mengalami naik turun. Jadi ini dibutuhkan untuk mencegah rob, karena itu tanggul di pesisir sangat perlu,” kata Anies di Balai Kota, Jakarta Pusat, Jumat (28/9/2018).

Orang nomor satu di Ibu Kota ini menjelaskan bahwa di negara lain, tanggul raksasa seperti giant sea wall justru membuat air menjadi tidak bersih. Maka dari itu, Anies menyebut Jakarta lebih butuh adanya tanggul di pantai.

“Praktik berbagai negara kita review, setelah bertahun-tahun justru tidak menjadi air bersih. Justru sebaliknya. Tapi justru menjadi tempat berkumpul air-air yang membawa polutan. Dan menurut kami itu perlu dikaji ulang. Kalau tanggul di pantai itu perlu diteruskan,” jelasnya.

Kemudian mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu juga bakal berdiskusi dengan Bappenas terkait giant sea wall. Sebab jika diteruskan, Anies menilai tanggul raksasa itu hanya menjadi ‘kobokan’ raksasa.

“Kami sudah bicarakan juga kita akan diskusi dengan Bappenas terkait ini dan kami tunjukkan hal-hal apa yang perlu diperhatikan agar fenomena kobokan raksasa itu tidak berulang di Jakarta. Karena di berbagai negara yang membangun tanggul seluas itu, akhirnya menjadi kobokan raksasa,” papar Anies.

Tanggul raksasa justru akan mendatangkan polutan. Kata dia, air juga tidak mengalir ke laut lepas.

“Karena air dari mana-mana yang di situ sementara, tidak mengalir ke laut lepas. Tapi tertutup oleh tanggul raksasa di lepas pantai. Di situ letak masalah utamanya,” jelas Anies.

Anies mengaku, telah membentuk tim khusus untuk melakukan kajian ulang terhadap pembangunan tanggul raksasa. Untuk sementara, dia belum bisa merinci lebih jauh materi kajian yang digarap oleh tim.

“Ada tim, nanti kalau sudah matang disampaikan,” katanya.

Meski begitu, dia tidak memungkiri tanggul laut raksasa dibutuhkan oleh warga Jakarta. Pasalnya, pembangunan itu sendiri bertujuan untuk mencegah terjadinya banjir rob yang biasa dialami oleh warga yang tinggal di pesisir.

Diketahui, Giant Sea Wall Jakarta adalah bagian dari proyek Pembangunan Terpadu Pesisir Ibu Kota Negara (NCICD). Mega proyek itu dicanangkan sebagai program berskala nasional dan ditaksir makan biaya Rp560 triliun.

Rencana pembangunan giant sea wall Jakarta menuai polemik karena dianggap tidak dibarengi dengan pertimbangan lain berkaitan dampak sosial, lingkungan, dan tata kota Jakarta.

Sebelumnya, pembangunan proyek Giant Sea Wall ini rencananya bakal dimulai tahun 2017. Sejak tahun 2016 saat Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menjabat proyek Giant Sea Wall telah menjadi perdebatan.

Pasalnya, proyek Giant Sea Wall dianggap sebagai pintu masuk mega proyek reklamasi pantai utara Jakarta. Terlebih diketahui di dalam rencana pembangunan tanggul raksaksa tersebut di dalamnya ada pembangunan 17 pulau imitasi buatan pengembang.

Sementara itu, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono pun memastikan, pembangunan tanggul laut Jakarta atau National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) tidak terpengaruh keputusan pencabutan reklamasi oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Proyek tanggul pengaman pantai Jakarta itu akan terus berjalan sampai rampung.

Baca Juga
Lihat juga...