Pemda Sikka Diminta Segera Aktifkan Sentra IKM

Editor: Koko Triarko

168
MAUMERE – Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) cabang Sikka, meminta Pemerintah Daerah (Pemda) Sikka untuk segera mengaktifkan sentra Industri Kecil dan Manengah (IKM) yang berada di lokasi Sikka Inovation Center, yang telah diresmikan Bupati Sikka pada Febrauri 2018.
“Sejak diresmikan, bangunan Sentra Industri Kecil dan Manengah ini belum diaktifkan. Padahal, semua mesin untuk tenun dan jahit sangat lengkap, sehingga bisa membuat para perajin kecil memanfatakannya,” sebut Sherly Irawati, Ketua Iwapi Sikka, Selasa (4/9/2018).
Dikatakan Sherly, selain mengoperasikan sentra IKM, sebuah bangunan lainnya yang juga belum difungsikan, yakni pusat pengolahan minyak kelapa murni yang berada persis di sebelah utara bangunan sentra IKM, yang juga sangat bermanfaat bagi pengusaha kecil.
Kepala Bidang Perindustrian Dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM Kabupaten Sikka, Tadeus Pega. -Foto: Ebed de Rosary
“Kalau sentra pengolahan minyak kelapa murni atau Virgin Coconut Oli (VCO) sudah aktif, tentunya para perajin kecil minyak kelapa murni bisa menyetorkan hasil produksinya ke tempat ini, agar bisa diproduksi dan dikemas secara massal dan dijual ke luar daerah,” sebutnya.
Sementara itu, mantan ketua DPRD Sikka, Rafael Raga, SP., menyebutkan, sejak zaman Bupati Sikka, Drs. Yoseph Ansar Rera, pada sekitar 2015, DPRD Sikka bersama pemerintah telah menggodok konsep Sikka Inovation Center (SIC) yang disesuaikan dengan potensi kekayaan alam Sikka untuk dikembangkan.
“Dari tiga bangunan di lokasi SIC, hanya sentra pengolahan kakao menjadi cokelat batangan dan cokelat bubuk saja yang sudah berproduksi sejak Februari 2018. Kalau sentra IKM untuk tenun ikat masih menunggu pengajuan anggaran untuk menambah daya listrik dan juga pemasangan pipa air bersih,” ungkapnya.
Terobosan yang dilakukan dengan membangun SIC, sebut Rafael, sangat bagus, sehingga bupati terpilih bisa mengembangkannya. Sebab, saat ini saja produk Cokelat Sikka yang dihasilkan sudah mulai ramai dibeli masyarakat.
“Dengan beroperasinya sentra produksi cokelat, maka akan memberikan pendpaatan lebih kepada usaha kecil dan manengah yang memproduski kakao fermentasi, agar bisa dijual ke sentra produksi cokelat di SIC dengan harga jual yang tinggi,” sebutnya.
Rafael juga berharap, agar sentra IKM dan sentra VCO bisa segera dioperasikan. Pemerintah dan DPRD Sikka harus segera menganggarkan dana untuk mendatangkan mesin dan menambah daya listrik, agar bisa meningkatkan pendapatan pengusaha kecil serta mendatangkan pendapatan bagi pemerintah daerah.
Okto Suban Pulo, Kepala UPTD SIC, mengatakan, pihaknya dalam sehari hanya bisa memproduksi cokelat batangan sebanyak 25 kilogram, serta cokelat bubuk three in one siap saji, sehingga masih membutuhkan tambahan anggaran untuk biaya operasional.
“Kami masih butuh penambahan tenaga kerja sebanyak 15 orang, dan dana untuk membeli cokelat dari petani, agar selain bisa memproduksi cokelat batangan dan bubuk, bisa juga memproduksi bungkil cokelat. Juga tambahan dana untuk gaji pegawai dan menaikkan daya listrik,” tuturnya.
Kabid Perindustrian Dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM kabupaten Sikka, Tadeus Pega, mengatakan, pihaknya sudah mengusulkan agar ada penambahan dana untuk membeli mesin pengolah VCO serta dana untuk memasang listrik dan air untuk gedung sentra IKM dan sentra peroduski VCO.
“Kami sudah mengusulkan penambahan dana, agar kedua gedung yang belum beroperasi tersebut bisa segera dipergunakan. Untuk sentra IKM kami sudah bekerja sama dengan kelompok seni dan sanggar yang mau mengoperasikan dengan sistem bagi hasil,” terangnya.
Tadeus berharap, DPRD Sikka bisa mengalokasikan dana secepatnya, agar sentra IKM yang sudah memiliki mesin bisa segera dioperasikan, dan sentra VCO pun bisa mulai pengadaan mesin dan menyiapkan tenaga kerja yang tentunya harus dilatih terlebih dahulu.
Lihat juga...

Isi komentar yuk