Pemerintah tak Pro Rakyat, Indonesia Harus Berdaulat Ekonomi

Editor: Satmoko Budi Santoso

257
Koordinator Pusat BEM Seluruh Indonesia, Muhammad Fauzul/Foto: M. Noli Hendra

PADANG – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) seluruh Indonesia menyatakan permintaan kepada pemerintah untuk mendaulatkan Indonesia secara ekonomi. Ungkapan ini didasari dari kondisi ekonomi Indonesia yang memiliki utang mencapai Rp4.000 triliun.

Koordinator Pusat BEM Seluruh Indonesia, Muhammad Fauzul, menilai untuk membantu pertumbuhan ekonomi di negara ini, pemerintah bisa mengembangkan sumber daya yang ada. Namun, kenyataannya pemerintah terlalu fokus dengan infrastuktur semata, akibatnya Indonesia membutuhkan dana yang besar, yang berujung pada utang.

“Dulu pemerintah pernah bilang fokus kepada sumber daya yang ada, ternyata tidak terealisasi. Akibatnya, Indonesia memiliki utang yang besar, dan dampak lainnya seperti menguatnya dolar,” kata Fauzul, Selasa (18/9/2018).

BEM se-Indonesia melihat, saat ini rakyat Indonesia kehilangan narasi perjuangan kemakmuran rakyat, bahkan pemerintah seakan tidak pro kepada rakyat. Buktinya, ketika ada proyek infrastruktur, malah melibatkan pihak asing, sementara lapangan kerja sulit diperoleh rakyat Indonesia itu sendiri.

Selain itu, para mahasiswa juga berencana akan melakukan aksi serentak di seluruh daerah di Indonesia bertepatan di Hari Tani Nasional pada 24 September 2018 mendatang. Fauzul menegaskan, aksi serentak menyuarakan nasib rakyat tersebut, tidak ada sangkut pautnya dengan Pilpres 2019.

“Kita bicarakan masalah etis, kita bicarakan masalah ruh keberpihakan kepada rakyat bukan kepada siapa pun. Dimensi kita adalah idealisme dan gerakan, bukan dimensi politik, saya tegaskan seperti itu,” sebutnya.

“Jadi kita mahasiswa tidak takut, karena kita under drag. Tidak memihak kepada siapa pun, tapi berpihak kepada rakyat, tolong digarisbawahi,” pungkas Fauzul.

Terkait hal itu, seluruh BEM di Indonesia akan melaksanakan aksi serentak di seluruh daerah dalam rangka memperjuangkan nasib para petani. Khusus di Sumatera Barat, aksi tersebut dipusatkan di Kantor Gubernur Sumatera Barat di Jalan Jenderal Sudirman, Kota Padang. Dalam aksi itu, para mahasiswa akan menyuarakan nasib kepada pemerintah tentang kesejahterakan petani.

“BEM seluruh Indonesia hari ini melaksanakan konsolidasi nasional yang dilaksanakan di Padang. Kita sedang menyusun komitmen untuk senantiasa tidak berhenti mengritisi pemerintah,” jelasnya.

Komitmen yang dilakukan mahasiswa tersebut tidak lain untuk senantiasa tidak berhenti dalam menyuarakan hati nurani rakyat yang menurut mereka sedang tersakiti. Pandangan mahasiswa, saat ini pemerintah inkonsisten dalam melakukan kegiatan-kegiatan yang pro kepada rakyat.

“Yang katanya pemerintah fokus kepada ekonomi rakyat, tapi sekarang ekonomi carut-marut. Ekonomi Indonesia tidak berdikari bahkan tidak berdaulat,” cetusnya.

Fauzul mengatakan, aksi serentak yang dilakukan sebagai bentuk menyuarakan bahwa petani Indonesia harus dimuliakan. Kedaulatan pangan, katanya, harus dijunjung dan tidak ada boleh lagi konflik agraria.

“Oleh sebab itu, hari ini kita berkomitmen pada 24 September mendatang akan melaksanakan aksi serempak se-Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Kita akan sama-sama menggelar aksi di berbagai daerah untuk menyuarakan petani Indonesia,” ujarnya.

Selain aksi pada 24 September, mahasiswa seluruh Indonesia juga akan kembali melakukan aksi pada hari Sumpah Pemuda tanggal 29 Oktober. Aksi yang diperkirakan berjumlah 10 ribu lebih mahasiswa itu, akan dipusatkan di Istana Negara.

“Mahasiswa se-Indonesia berkomitmen pada 90 tahun sumpah pemuda akan turun besar-besaran melaksanakan aksi nasional di depan Istana Negara. Kita akan menyampaikan bahwa pembangunan harus pro terhadap rakyat, pembangunan tidak boleh mengkhianati rakyat,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...