Pemko Padang Diminta Tidak Sia-siakan Kota Tua

Editor: Mahadeva WS

226
Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat Nurmatias/Foto: M. Noli Hendra

PADANG – Balai Pelestarian Cagar Budaya, Sumatera Barat meminta, Pemerintah Kota (Pemko) Padang, untuk tidak menyiayiakan kota tua. Keberadaanya, berpotensi besar terhadap wisata dan ekonomi.

Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat, Nurmatias menyebut, kawasan kota tua dapat dimanfaatkan sebagai kawasan wisata. Upayanya dilakukan dengan, memanfaatkan bangunan yang ada di kota tua tersebut. “Kini gedung di Kota Tua kondisinya tidak terawat. Sementara, pemanfaatan Kota Tua sebagai objek wisata sejarah, maka akan berdampak kepada kemajuan pariwisata daerah tersebut, dan menumbuhkan perekonomian,” katanya, Senin (3/9/2018).

Data Balai Pelestarian Cagar Budaya, terdapat 79 bangunan di kawasan Kota Lama atau Kota Tua di Padang, yang bisa dibenahi dan dikelola dengan baik. Upaya yang dilakukan seperti, membuat homestay, cafe, dan banyak yang bisa diubah dari kota tua, agar bisa bermanfaat.

Bangunan Kota Tua di Padang berada di Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang. Bangunannya berjejer di sepanjang kawasan Muaro Padang hingga Pasar Mudik. Saat ini beberapa bangunan di Kota Tua Padang, dimanfaatkan menjadi cafe. Hal itu akan berdampak pada perekonomian. Sehingga, semakin dibenahi, kawasan Kota Tua, akan semakin indah, dan pastinya akan menjadi daya tarik masyarakat untuk berkunjung.

Dengan mengeliatnya pengembangan pariwisata di Kota Padang, sudah semestinya Pemko Padang melirik kota tua. Bangunan yang ada dioptimalkan menjadi objek wisata. Sehubungan dengan cagar budaya, Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat mendata, terdapat ribuan cagar budaya di Sumatera Barat. Cagar budaya tersebut tersebar di sejumlah kabupaten dan kota. Setidaknya ada 955 cagar budaya baik yang tidak bergerak dan ribuan cagar budaya yang bergerak ada di Sumatera Barat.

Nurmatias menyebut, 955 cagar budaya yang tidak begerak itu diantaranya masjid, bangunan tua, dan struktur lainnya. Sementara yang bergerak, naskah, keris, dan sejumlah bentuk benda lainnya. “Ribuan warisan budaya itu terdiri dari cagar budaya yang sudah terdata maupun yang belum terdata oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat,” tandasnya.

Cagar budaya tidak bergerak selalu mendapat pelestarian. Sementara untuk yang bergerak seperti naskah kuno, dikhawatirkan akan menjadi komoditas jual beli. Naskah kuno yang ada di Sumatera Barat sangat beragam, diantaranya naskah tentang Tuanku Imam Bonjol, Syekh Burhanuddin, Syekh Kapalo Bacukuah.

Daerah sebaran naskah kuno, ada di hampir seluruh daerah di Sumatera Barat seperti, Kota Pariaman, Tanah Datar, Sijunjung, Solok Selatan, dan Agam. Khusus untuk naskah kuno dilakukan digitalisasi. Kegiatannya dilakukan oleh ahlinya, Pramono M.Si, yang merupakan Staf pengajar pada Program Studi Bahasa dan Sastra Minangkabau, Fakultas Sastra, Universitas Andalas Padang.

“Bisa dikatakan sudah sebagian besar naskah kuno selesai didigitalisasi oleh Pramono. Kini naskah kuno itu banyak disimpan langsung di kantor Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat, dan juga ada di museum, arsip pemerintah daerah, dan di tokoh masyarakat,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...