Pemuda dan Wartawan Myanmar Serukan Pembebasan Jurnalis Reuters

166
Ilustrasi bendera Myanmar - Dokumentasi CDN

YANGON – Sedikitnya, 100 pegiat muda dan wartawan di Myanmar, menggelar aksi menyerukan pembebasan dua wartawan Reuters, yang dijebloskan ke penjara, Minggu (16/9/2018).

Dalam aksinya, para demonstran memperingatkan, hukuman penjara tujuh tahun terhadap keduanya yang dijatuhkan pada bulan ini, mengancam hak umum untuk memperoleh informasi. Aksi unjuk rasa tersebut diikuti siswa sekolah menengah atas, mereka berkumpul dengan damai di jantung Yangon, kota terbesar di Myanmar.

Peserta aksi datang dengan spanduk, dan meneriakkan slogan mencela vonis bersalah terhadap dua wartawan tersebut. Polisi dengan jumlah relatif sedikit memilih memperhatikan masa aksi. Sementara pengunjuk rasa menerbangkan balon hitam dengan cetakan kalimat Bebaskan Wa Lone dan Kyaw Soe Oo.

Wartawan Wa Lone (32), dan Kyaw Soe Oo (28), dinyatakan bersalah pada 3 September, berdasarkan atas Akta Rahasia Resmi peninggalan penjajah dalam perkara dipandang sebagai ujian kebebasan demokrasi di Myanmar.

Thar Lun Zaung Htet, wartawan yang mengkoordinatori aksi protes mengatakan, vonis terhadap para wartawan yang hanya melaksanakan tugas tersebut, akan melumpuhkan pemberitaan di Myanmar. “Tak ada lagi kebebasan pers berarti transisi demokrasi kita mengalami kemunduran,” tandasnya.

Vonis tersebut menarik perhatian para pejabat senior PBB, tokoh-tokoh politik termasuk Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence, dan pegiat HAM di seluruh dunia. Mereka menyerukan pembebasan segera kedua wartawan tersebut.

Juru bicara pemerintah, Zaw Htay, tak dapat dihubungi untuk diminta komentarnya. Pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi, mengatakan di forum di Hanoi pekan lalu, bahwa kasus tersebut tidak ada kaitan dengan kebebasan berekspresi. Wartawan-wartawan tersebut dihukum karena menangani rahasia resmi. “Bukan dihukum karena mereka wartawan”, kata peraih Hadiah Nobel itu.

Sebelumnya, enam organisasi wartawan Myanmar menyiarkan pernyataan yang jarang dilakukan oleh kelompok-kelompok di dalam negeri itu. Pernyataan tersebut berisi kritik, dengan mengatakan mereka kecewa terhadap komentar-komentar yang disampaikan pemimpin negara itu.

Kedua wartawan tersebut, mengaku tidak bersalah. Dan mengatakan, mereka diberi sejumlah lembaran kertas yang digulung oleh polisi, beberapa saat sebelum ditahan di Desember lalu. Seorang saksi mata polisi mengaku di pengadilan, bahwa mereka telah diatur. Kedua wartawan itu menyelidiki pembunuhan 10 pria dewasa dan anak-anak Muslim Rohingya oleh pasukan keamanan dan pengikut Buddha, di tengah reaksi militer terhadap serangan pemberontak pada Agustus. (Ant)

Lihat juga...

Isi komentar yuk