Pencemaran Sungai Cileungsi, Pemerintah Harus Tegas Tindak Pelaku

Editor: Satmoko Budi Santoso

301

BOGOR  – Pencemaran Sungai Cileungsi di Kelurahan Bojongkulur, Kecamatan Gunungputri, Kabupaten Bogor, mendapat perhatian serius dari Calon Wakil Presiden, Sandiaga Uno. Dia meminta pemerintah daerah bertindak tegas dalam menindak pelanggar.

“Pemerintah harus tegas, tanpa kompromi. Pemerintah harus kuat memastikan dan menindak para pelanggar yang membuang limbah sembarangan meskipun pabrik besar,” ujar Sandiaga Uno, usai melihat langsung kondisi Kali Cileungsi, Rabu (26/9/2018).

Dikatakan, pencemaran lingkungan yang terjadi di Sungai Cileungsi, dilakukan secara massif. Sehingga kondisi air menghitam dan bau. Dia mendorong pemerintah bertindak tegas karena pencemaran sudah terjadi, sudah sangat sistemik.

Sandiaga Uno melihat langsung Sungai Cileungsi yang tercemar. (Foto Muhammad Amin)

“Dari laporan warga, pencemaran yang terjadi di Sungai Cileungsi dilakukan pabrik besar. Harusnya pemerintah hadir untuk bertindak tegas dan tuntas dalam menanggulangi pencemaran,” jelasnya.

Menurutnya, Pemerintah ke depan akan menghadirkan peningkatan ekonomi berbasis green jobs. Untuk itu, harus ada sinergitas antara Pemerintah dan masyarakat juga pemerhati lingkungan, untuk menindak jika terjadi pencemaran.

Sementara itu, Kepala Desa Bojongkulur, Firman Riyansyah, mengakui, berbagai upaya telah dilakukan untuk menghentikan pencemaran di Sungai Cileungsi, khususnya di kawasan Desa Bojongkulur.

“Kita sebenarnya ada dana desa, yang bisa digunakan untuk revitalisiasi bantaran Sungai Cileungsi. Tetapi kalau terjadi pencemaran begini, bagaimana orang mau hadir melihat sungai atau lainnya,” tegas Firman menyampaikan langsung kepada Sandiaga Uno.

Sementara, Ketua Srikandi Sayang Sungai (S3), Septiana, juga menyampaikan meminta Pemerintah Daerah untuk bertindak tegas. Tidak hanya memberi teguran perhatian. Pemerintah harus memberi hukuman guna memberi efek jera.

“Kami sudah menggelar aksi, ke DLH Kabupaten Bogor, tetapi pencemaran terus terjadi. Banyak keluhan masyarakat karena habitat air terus keluar, seperti ular, biawak, dan lainnya. Tetapi pencemaran sampai sekarang terus berlanjut,” tegas Septi.

Baca Juga
Lihat juga...