Pendidikan Karakter, Dibutuhkan untuk Menjaga NKRI

Editor: Mahadeva WS

157

BUKITTINGGI – Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno mendukung upaya pembangunan karakter Sumber Daya Manusia (SDM) sejak dini. Hal tersebut dapat dilakukan melalui kegiatan Pendidikan Usia Dini (PAUD). 

Pendidikan karakter diusia dini dikarenakan, usia dini adalah, saat yang mudah untuk membentuk dan mengembangan potensi seorang anak. “Misalnya kalau sudah memasuki usai remaja, berlanjut dewasa dan sudah tua. Kalau sudah mencapai usaha yang demikian, maka terasa susah memperbaiki karakternya,” katanya, Jumat (7/9/2018).

Irwan menyebut, orang yang tidak pernah diajari mengaji atau membaca Alquran, tidak akan bisa disuruh mengaji. Karena, di usia dini tidak pernah di ajari mengaji. Untuk itu, pendidikan karakter mesti menjadi bagian dari pola asuh dan didik setiap orang tua, keluarga, dan lingkungan tempat tinggal.

Pendidikan berkarakter disebutnya, amat penting karena dapat dimanfaatkan  untuk menjaga keutuhan NKRI. “Kita miris, ada seorang guru SD yang melarang anak muridnya menghormat ke bendera Merah Putih. Apa Dia tidak tahu, betapa Merah Putih berkibar itu, merupakan perjuangan para suhada, tetes keringat, darah dan air mata,” tegasnya.

Ada dua negara di dunia disebut Irwan, memiliki indek kebahagiaan tinggi, yaitu Filandia dan Demark. Dan ternyata, di kedua negara tersebut, tidak ada perilaku korupsi. “Saya contohkan dengan meletakkan sepeda di depan rumah atau dijalan, tidak akan hilang, karena masyarakat tahu itu bukan miliknya. Itu terjadi di negara tersebut,” tambahnya.

Adanya sifat diri yang demikian, karena masyarakat telah mengajarkan kepada anak-anak mereka sejak dini, sikap toleran, berbuat kebaikan, berbudi pekerti dan hal-hal prilaku saling menghargai satu sama lain. “Kita berharap di Indonesia juga dapat tumbuh subur hal-hal seperti itu karena budaya ketimuran kita cukup baik dalam mempersatukan bangsa ini,” tandasnya.

Penerapan pendidikan berkarakter, disesuaikan dengan UUD 1945, pasal 31 ayat 3, yang menjelaskan, pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia, dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sementara, pendidikan yang ada saat ini, hanya menerapkan ajaran-ajaran yang bersifat kognitif, tanpa dilanjutkan dengan domain afektif (penghayatan) dan psikomotorik (penerapan). Untuk itu, peran domain afektif dan psikomotorik bisa dikatakan sangat vital, dalam upaya membentuk cara pandang, prilaku serta karakter seseorang.

Pendidikan di Sumatera Barat disebutnya, belum menyentuh pendidikan berkarakter, meskipun pendidikan tersebut diajarkan dalam bentuk pendidikan agama atau kewarganegaraan. “Pendidikan berkaraker bukan dalam bentu pendidikan agama atau kebangsaan saja, tapi lebih kepada upaya pemahaman, penghayatan dan penerapan dari semua pendidkan yang diperoleh, dan menerapkannya dalam kegiatan sehari-hari,” sebutnya.

Ada lima tahapan dalam pendidikan berkarakter, yakni pengenalan pendidikan, kemudian pembiasaan (pengahayatan), dilanjutkan pemberian contoh (keteladanan), kemudian pemberian punishment atau reward dan yang terakhir pemeliharaan (penjagaan ilmu tersebut).

Lihat juga...

Isi komentar yuk