Peneliti: Minyak Daun Cengkih Potensial Sebagai Obat Antikanker

190
Lelly Yuniarti. Foto: Ist

YOGYAKARTA — Belum maksimalnya terapi kanker serviks, akibat masih banyaknya efek samping serta harga obat yang mahal, mendorong para peneliti untuk mencari cara yang efektif dan selektif dengan target molekuler yang tepat. Salah satunya menggunakan senyawa aktif isoflavon dari minyak daun cengkih.

Seperti halnya dilakukan mahasisa program doktor Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM, Lelly Yuniarti. Ia melakukan riset mengenai mekanisme molekuler antikanker dan ko-kemoterapi senyawa dari minyak daun cengkih pada kultur serviks uteri.

Senyawa pada minyak daun cengkih yang bernama 1,2-epoksi-3 (3-(3,4-dimetoksifenil)-4H-1-benzopiron-4on) propana (EPI) ini memiliki aktivitas sitotoksik sedang terhadap kultur sel kanker uteri.

“Setelah kita teliti, senyawa EPI dengan kombinasi doxorubicin (DOX) dapat diusulkan menjadi ke-kemoterapi yang poten untuk meningkatkan efektifitas dan mengurangi toksik,” kata Lelly di UGM.

Meski baru sebatas penelitian dasar, ia menegaskan perlu dikembangkan lebih lanjut untuk dilakukan pengujian in vivo kombinasi senyawa EPI dan DOX serta EPI dan cisplatin (CIS) pada hewan coba untuk menilai efektiftas antikanker dan efek toksiknya.

Dijelaskan, kanker serviks uteri sendiri merupakan kanker primer pada serviks uteri atau leher rahim dengan tingkat kejadian dan angka kematian yang cukup tinggi.

Kanker serviks merupakan menduduki posisi keempat tersering yang menimpa wanita di dunia, setelah kanker panyudara, paru-paru dan kolon. Bahkan digolongkan sebagai penyakit kanker peringkat kedua kedua yang sering menimpa para wanita usia reproduktif.

Menurut Lelly, kanker serviks uteri disebabkan oleh infeksi jangka panjang Human papillomavirus (HPV) terutama jenis high-risk HPV seperti HPV 16, HPV 18, HPV 31 dan HPV 33. Saat ini terapi utama kanker serviks masih menggunakan operasi dan radiasi, karena merupakan kanker ginekologik yang kurang sensistif terhadap kemoterapi.

Setelah menjalani terapi melalui operasi dan radisasi ternyata 40 persen penderita masih memiliki sisa tumor, metastasis atau relaps sehingga perlu dicari terapi lain.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.