Pengusaha Perikanan Hadapi Dua Tantangan

168
Ilustrasi - Aneka ikan - Dok: CDN
JAKARTA – Pengamat sektor perikanan dan Direktur Eksekutif Pusat Kajian Maritim untuk Kemanusiaan, Abdul Halim, menyatakan peluang melesatkan nilai ekspor di tengah perang dagang AS-RRC adalah tergantung kesiapan industri perikanan nasional.
“Peluang ekspor yang dimiliki oleh Indonesia, sepenuhnya bergantung kepada kesiapan industri perikanan nasional,” kata Abdul Halim, Minggu (30/9/2018).
Ia menjelaskan, tingginya kurs dolar AS terhadap rupiah bisa berimbas positif, bila didukung pelaku industri domestik dalam memanfaatkan peluang pasar perikanan di AS, sebaliknya berimbas negatif bila tidak ada kesiapan, apalagi AS menerapkan sejumlah aturan baru untuk produk perikanan ekspor ke negaranya.
Abdul Halim juga mengingatkan, melambungnya nilai tukar rupiah terhadap dolar juga telah menaikkan ongkos produksi. Saat ini, ada dua tantangan yang dihadapi pengusaha perikanan, yaitu ketidakpastian iklim usaha di dalam negeri, dan persyaratan baru yang diterapkan AS kepada produk perikanan dari Republik Indonesia.
Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, mendorong pengusaha perikanan nasional untuk dapat melakukan terobosan ekspor dengan mencari peluang dan kesempatan di tengah fenomena perang dagang antara AS dan RRC.
“Semestinya, pengusaha Indonesia melakukan terobosan dan mengambil inisiatif dari situasi ini,” kata Menteri Susi, di Jakarta, Jumat (21/9).
Menurut dia, pada saat ini adalah waktunya pengusaha untuk dapat meningkatkan produksinya, guna melakukan ekspor langsung ke negara adidaya.
Namun, Menteri Kelautan dan Perikanan juga tidak menginginkan pengusaha mengambil jalan pintas yang merugikan Indonesia, seperti meminjamkan nama kepada Cina, agar produknya bisa masuk ke Amerika Serikat.
Susi mengingatkan, bahwa tren produksi perikanan pada saat ini meningkat, seperti pada 2017, produksi perikanan tangkap mencapai 6,8 juta ton dan produksi perikanan budidaya 16,1 juta ton.
Berdasarkan data KKP, lima provinsi yang memiliki tren produksi perikanan tangkap di laut terbesar 2015-2017, yaitu Provinsi Maluku, Sumatra Utara, Jawa Timur, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Selatan.
Sementara lima jenis ikan tangkap di laut yang memiliki tren produksi terbesar 2015-2017, yaitu cakalang, tongkol, kakap, kembung, dan udang.
Sedangkan lima provinsi yang memiliki tren produksi perikanan budi daya terbesar 2015-2017, yaitu Provinsi Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat.
Selanjutnya, lima jenis ikan budi daya yang memiliki tren produksi terbesar 2015-2017, yaitu rumput laut, nila, lele, udang, dan bandeng.  (Ant)
Baca Juga
Lihat juga...